Saham BBRI Fluktuatif? Dirut Bank Rakyat Indonesia Tegaskan Fundamental Kuat dan Dividen Tinggi
JAKARTA — Pergerakan harga saham BBRI yang belakangan mengalami fluktuasi mendapat respons langsung dari jajaran manajemen Bank Rakyat Indonesia. Direktur Utama, Hery Gunardi, menegaskan bahwa kondisi tersebut merupakan hal wajar di pasar modal dan tidak mengurangi daya tarik investasi jangka panjang perseroan.
Menurut Hery, investor tidak perlu terlalu khawatir dengan naik-turun harga saham dalam jangka pendek, terutama jika perusahaan memiliki fundamental yang kuat.
“Kalau investasi jangka panjang, tidak perlu terlalu melihat naik-turun harga saham. Yang penting fundamentalnya kuat,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).
Selain fundamental yang solid, Hery menyoroti kekuatan lain BBRI, yakni imbal hasil dividen yang kompetitif. Ia menyebut potensi return dari dividen bisa mencapai 10 hingga 11 persen per tahun.
Angka tersebut dinilai lebih menarik dibandingkan sejumlah instrumen investasi lain seperti deposito maupun reksa dana pasar uang, terutama bagi investor yang mencari pendapatan pasif stabil.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) terbaru, BBRI menetapkan pembagian dividen sebesar 92 persen dari laba tahun buku 2025. Nilai tersebut setara Rp346 per saham, mencerminkan komitmen perusahaan dalam memberikan nilai tambah kepada pemegang saham.
Hery juga optimistis bahwa saham-saham berfundamental kuat, termasuk BBRI, akan kembali mencerminkan nilai wajarnya seiring membaiknya kondisi ekonomi global dan domestik.
“Kalau market membaik, makro ekonomi global dan lokal membaik, saham-saham itu pasti akan ikut naik,” jelasnya.
Optimisme ini didasarkan pada potensi pemulihan ekonomi yang diperkirakan akan mendorong sentimen positif di pasar keuangan, termasuk pasar saham Indonesia.
Di sisi lain, Direktur Finance & Strategy BBRI, Achmad Royadi, menjelaskan bahwa pergerakan harga saham tidak hanya dipengaruhi oleh kinerja internal perusahaan.
Menurutnya, faktor eksternal seperti kondisi global dan persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia turut berperan besar dalam menentukan arah harga saham.
“Kita sama-sama tahu bahwa harga saham banyak faktor. Tidak hanya dari fundamental, tapi juga sentimen global dan persepsi investor terhadap Indonesia maupun pasar modal,” tuturnya.
Ia menambahkan, tekanan terhadap harga saham BBRI yang terkoreksi sekitar 16 persen secara year-to-date lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal dibandingkan kondisi internal perusahaan.
Meski harga saham mengalami fluktuasi, Achmad memastikan bahwa kinerja fundamental BBRI tetap kuat pada kuartal I-2026. Hal ini tercermin dari sejumlah indikator utama yang menunjukkan tren positif.
Beberapa di antaranya adalah kualitas aset yang terjaga, perbaikan biaya dana (cost of fund), struktur permodalan yang solid, serta pertumbuhan laba bersih yang tetap positif.
Kondisi tersebut menjadi bukti bahwa secara bisnis, perseroan masih berada di jalur yang sehat dan berkelanjutan.
Manajemen BBRI menegaskan bahwa fokus utama perusahaan adalah menjaga kinerja fundamental dan memberikan nilai optimal bagi pemegang saham dalam jangka panjang.
Dengan kombinasi antara kinerja keuangan yang solid dan kebijakan dividen yang agresif, BBRI diyakini tetap menjadi salah satu pilihan utama bagi investor di pasar modal Indonesia.
Di tengah dinamika pasar yang fluktuatif, saham dengan fundamental kuat seperti BBRI dinilai mampu bertahan dan kembali menguat seiring stabilitas ekonomi yang membaik.
Baca Juga
Komentar