Prabowo Targetkan Sekolah Rakyat Nasional, Polemik Seruan, Jatuhkan Presiden Picu Debat Demokrasi
Jakarta – Dua isu besar sekaligus menyita perhatian publik nasional: percepatan pembangunan Sekolah Rakyat sebagai program prioritas Presiden, dan polemik pernyataan kontroversial yang menyerukan “menjatuhkan presiden” dalam ruang diskusi publik. Di satu sisi, pemerintah menegaskan komitmen kuat menekan kemiskinan ekstrem melalui akses pendidikan gratis. Di sisi lain, perdebatan tentang batas kebebasan berpendapat kembali mencuat di tengah dinamika politik nasional.
Sekolah Rakyat Jadi Instrumen Tekan Kemiskinan
Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, menegaskan bahwa pembangunan Sekolah Rakyat merupakan instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto. Program ini ditujukan untuk memberikan akses pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin di seluruh Indonesia.
Menurut Agus, pemerintah menargetkan setiap kabupaten/kota minimal memiliki satu Sekolah Rakyat. Hal ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam menekan angka kemiskinan nasional secara signifikan.
“Ini bukan sekadar program bantuan pendidikan, tapi bagian dari strategi jangka panjang untuk memutus rantai kemiskinan,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, menjadi salah satu daerah yang tengah mempersiapkan pembangunan fasilitas tersebut. Pemerintah daerah saat ini sedang menyelesaikan proses sertifikasi lahan seluas 10 hektare dari total 85 hektare yang disiapkan.
Tahap Pembangunan dan Target Nasional
Program Sekolah Rakyat kini memasuki tahap kedua pembangunan yang mencakup 104 titik di berbagai daerah. Pemerintah juga menyiapkan tambahan sekitar 100 lokasi baru untuk tahap berikutnya.
Target ambisius ini diharapkan mulai terealisasi pada tahun ajaran baru 2026, menggantikan model sekolah rintisan yang telah berjalan sejak 2025.
Agus menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada kesiapan pemerintah daerah, terutama terkait legalitas lahan.
“Kalau lahan sudah clear dan bersertifikat atas nama pemda, peluang masuk tahap pembangunan berikutnya sangat terbuka,” katanya.
Sinergi Pusat-Daerah Jadi Kunci
Pemerintah pusat mendorong sinergi kuat dengan daerah dalam menjalankan program prioritas ini. Selain Sekolah Rakyat, sejumlah program lain seperti Koperasi Desa Merah Putih dan pengembangan kampung nelayan juga menjadi bagian dari strategi nasional.
Targetnya tidak main-main: angka kemiskinan nasional ditekan hingga di bawah 2 persen pada 2029.
Wakil Bupati Banggai, Furqanuddin Masulili, menyebut proses sertifikasi lahan ditargetkan rampung dalam waktu dekat. Ia memastikan lokasi yang diusulkan telah memenuhi syarat teknis setelah ditinjau oleh Kementerian Pekerjaan Umum.
Polemik Politik: Pernyataan “Jatuhkan Presiden”
Di tengah fokus pemerintah pada agenda pembangunan, ruang publik diwarnai polemik akibat pernyataan pendiri lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting, Saiful Mujani.
Dalam sebuah forum diskusi, Saiful menyatakan bahwa “cara menyelamatkan Indonesia adalah dengan menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto”. Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi luas, baik dukungan maupun kritik tajam.
Saiful menilai bahwa pendekatan formal seperti impeachment tidak realistis, sehingga perubahan harus datang dari konsolidasi masyarakat.
Respons Pemerintah dan Tudingan Provokasi
Pernyataan tersebut menuai respons keras dari kalangan pemerintah. Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden, Ulta Levenia, menyebut pernyataan itu sebagai bentuk provokasi yang berbahaya.
Melalui media sosial, ia bahkan menyinggung potensi “makar terstruktur” jika narasi semacam itu berkembang tanpa kontrol.
Pernyataan tersebut kemudian viral dan memicu perdebatan luas di masyarakat, khususnya terkait batas antara kritik politik dan tindakan yang dianggap mengancam stabilitas negara.

Saiful Mujani: Itu Hak Kebebasan Berpendapat
Menanggapi kontroversi tersebut, Saiful Mujani menegaskan bahwa pernyataannya merupakan bentuk “political engagement” atau ekspresi sikap politik.
Ia menekankan bahwa kebebasan berpendapat merupakan hak konstitusional yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945.
“Ini bukan makar. Ini ekspresi politik dalam ruang demokrasi,” ujarnya.
Menurutnya, demokrasi tidak dapat berjalan tanpa partisipasi aktif masyarakat, termasuk dalam bentuk kritik terhadap pemerintah.
Garis Tipis antara Kritik dan Stabilitas
Pengamat politik menilai polemik ini mencerminkan dinamika demokrasi yang sedang diuji. Di satu sisi, kebebasan berpendapat harus dijaga. Di sisi lain, stabilitas nasional juga menjadi faktor penting.
Perdebatan ini memperlihatkan adanya garis tipis antara kritik yang sah dan narasi yang berpotensi menimbulkan instabilitas.
“Demokrasi memang memberi ruang kritik, tapi harus tetap dalam koridor hukum dan etika publik,” ujar seorang analis politik.
Fokus Pemerintah: Program Nyata atau Respons Politik?
Di tengah polemik tersebut, pemerintah tampak tetap fokus pada agenda pembangunan, khususnya program pengentasan kemiskinan melalui pendidikan.
Sekolah Rakyat menjadi simbol pendekatan baru pemerintah yang menggabungkan kebijakan sosial dengan strategi pembangunan jangka panjang.
Namun, dinamika politik yang muncul menunjukkan bahwa implementasi kebijakan tidak bisa dilepaskan dari stabilitas sosial dan persepsi publik.
Ujian Kepemimpinan di Tengah Tekanan
Situasi ini menjadi ujian tersendiri bagi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Di satu sisi, ia harus memastikan program-program strategis berjalan efektif. Di sisi lain, ia juga menghadapi tekanan dari berbagai narasi politik yang berkembang di ruang publik.
Kemampuan pemerintah dalam mengelola dua aspek ini—kebijakan dan komunikasi politik—akan menentukan arah stabilitas nasional ke depan.
Program Sekolah Rakyat menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengatasi akar persoalan kemiskinan melalui pendidikan. Namun, di saat yang sama, dinamika politik memperlihatkan bahwa ruang demokrasi Indonesia tetap hidup—meski penuh tantangan.
Polemik pernyataan “menjatuhkan presiden” menjadi pengingat bahwa kebebasan berpendapat dan stabilitas negara harus berjalan seimbang.
Ke depan, publik akan menilai bukan hanya dari wacana, tetapi dari hasil nyata: apakah program pemerintah mampu menjawab persoalan rakyat, dan apakah demokrasi tetap terjaga dalam koridor yang sehat.
Baca Juga
Komentar