Israel Gempur Pinggiran Beirut di Tengah Gencatan Senjata, Ketegangan Lebanon–Hizbullah Kembali Memanas
BEIRUT, LEBANON – Militer Israel (Israel Defense Forces/IDF) kembali melancarkan serangan udara ke wilayah pinggiran selatan Kota Beirut, Lebanon, pada Kamis (28/5/2026) siang waktu setempat. Serangan tersebut menghantam area permukiman yang berada tidak jauh dari Bandara Internasional Beirut dan memicu ledakan besar yang terdengar hingga ke berbagai penjuru kota.
Insiden ini langsung memicu kekhawatiran baru di kawasan Timur Tengah, terutama karena terjadi di tengah periode gencatan senjata yang baru saja diperpanjang antara Israel dan Lebanon.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai target utama serangan tersebut. Namun sejumlah sumber dan analis keamanan menduga bahwa serangan itu diarahkan kepada kelompok Hizbullah, organisasi bersenjata yang berbasis di Lebanon selatan dan kerap terlibat konflik bersenjata dengan Israel.
Saksi mata melaporkan bahwa beberapa ledakan keras terdengar secara beruntun sesaat setelah serangan udara terjadi. Kepulan asap tebal terlihat membumbung dari kawasan yang menjadi sasaran, sementara warga sekitar dilaporkan panik dan berusaha menyelamatkan diri.
Lokasi yang terdampak disebut berada di area padat penduduk di pinggiran selatan Beirut, tidak jauh dari jalur menuju Bandara Internasional Beirut, salah satu infrastruktur paling vital di Lebanon.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi terkait jumlah korban jiwa maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan tersebut. Otoritas setempat masih melakukan proses evakuasi dan pendataan di lokasi kejadian.
Serangan Israel ini menjadi sorotan internasional karena terjadi di tengah gencatan senjata yang baru saja diperpanjang selama 45 hari antara Israel dan Lebanon.
Kesepakatan perpanjangan tersebut dicapai setelah proses negosiasi tahap ketiga yang berlangsung di Washington D.C., Amerika Serikat, pada 14–15 Mei 2026. Dalam kesepakatan itu, kedua pihak sepakat untuk menahan eskalasi konflik sementara waktu guna membuka peluang perdamaian jangka panjang.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Tommy Pigott, sebelumnya menyatakan bahwa perpanjangan gencatan senjata bertujuan memberikan ruang bagi proses diplomasi yang lebih substansial antara kedua negara.
Namun, serangan terbaru ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas kesepakatan tersebut, serta potensi kegagalan implementasi di lapangan.
Dalam beberapa hari terakhir sebelum serangan Beirut, Israel dilaporkan meningkatkan intensitas operasi militernya di wilayah Lebanon selatan. Wilayah tersebut diketahui menjadi basis utama aktivitas Hizbullah.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pernyataan sebelumnya menegaskan bahwa operasi militer akan terus dilanjutkan hingga ancaman dari Hizbullah dapat dilumpuhkan sepenuhnya.
Ia juga mengklaim bahwa dalam beberapa minggu terakhir, lebih dari 600 orang yang disebut sebagai anggota “teroris” telah tewas akibat operasi militer Israel. Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh pihak ketiga.
Netanyahu menambahkan bahwa Israel saat ini berada pada fase peningkatan intensitas serangan, sebagai bagian dari strategi militer untuk menekan kekuatan Hizbullah di Lebanon.
Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa eskalasi konflik dapat kembali meningkat meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata yang sedang berjalan.
Hizbullah merupakan kelompok bersenjata dan partai politik yang berbasis di Lebanon, dan selama beberapa dekade menjadi salah satu aktor utama dalam konflik bersenjata dengan Israel.
Ketegangan antara kedua pihak telah berlangsung lama, terutama di wilayah perbatasan Lebanon–Israel. Konflik ini kerap memanas setiap kali terjadi serangan lintas batas atau operasi militer skala besar.
Dalam beberapa tahun terakhir, eskalasi kembali meningkat seiring dengan berbagai serangan udara dan balasan tembakan roket yang saling diluncurkan kedua pihak.
Situasi terbaru di Beirut menunjukkan bahwa meskipun terdapat upaya diplomatik, risiko pecahnya konflik skala lebih luas masih sangat tinggi.
Di tengah meningkatnya ketegangan, pemerintah Lebanon dijadwalkan kembali melanjutkan negosiasi damai dengan Israel pada 2–3 Juni 2026.
Pembicaraan tersebut bertujuan untuk memperpanjang dan memperkuat gencatan senjata yang ada, sekaligus membuka jalan menuju kesepakatan damai jangka panjang antara kedua negara.
Perpanjangan gencatan senjata saat ini merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya, kedua pihak juga telah menyepakati perpanjangan selama tiga pekan, yang seharusnya berakhir pada 17 Mei 2026 sebelum kembali diperpanjang.
Namun, dengan terjadinya serangan terbaru di Beirut, masa depan negosiasi damai kini kembali berada dalam ketidakpastian.
Pengamat politik Timur Tengah menilai bahwa serangan ke pinggiran Beirut berpotensi memperburuk stabilitas kawasan. Jika tidak segera diredam melalui diplomasi, konflik dapat berkembang menjadi eskalasi militer yang lebih luas dan melibatkan lebih banyak aktor regional.
Kawasan Timur Tengah sendiri saat ini berada dalam kondisi sensitif, dengan berbagai konflik yang saling berkaitan di beberapa negara.
Serangan udara terbaru ini menjadi pengingat bahwa meskipun ada upaya gencatan senjata, situasi di lapangan tetap sangat rapuh dan mudah berubah dalam waktu singkat.
Baca Juga
Komentar