Terbaru ST016 Segera Rilis Mei 2026, Kupon SBN Ritel Diprediksi Tembus 5,85?n Tetap Menarik
JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Keuangan Republik Indonesia kembali bersiap merilis instrumen investasi Surat Berharga Negara (SBN) ritel terbaru, yakni Sukuk Tabungan seri ST016. Produk berbasis syariah ini dijadwalkan mulai ditawarkan pada 8 Mei hingga 3 Juni 2026, melanjutkan rangkaian penerbitan SBN ritel yang sebelumnya telah dimulai sejak awal tahun.
Sepanjang 2026, pemerintah telah menerbitkan dua instrumen SBN ritel, yakni ORI029 pada periode 26 Januari hingga 19 Februari, serta SR024 (Sukuk Ritel) yang ditawarkan pada 6 Maret hingga 15 April. Kedua instrumen tersebut mencatatkan minat tinggi dari investor ritel, mencerminkan masih kuatnya permintaan terhadap produk investasi berbasis negara.
Kepala Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, menilai bahwa imbal hasil (yield) SBN ritel saat ini masih tergolong menarik dan kompetitif, terutama jika dibandingkan dengan instrumen perbankan seperti deposito.
Menurutnya, kondisi suku bunga yang cenderung stabil setelah keputusan Bank Indonesia menahan BI Rate di level 4,75% memberikan sinyal bahwa ruang penurunan suku bunga dalam waktu dekat relatif terbatas. Di sisi lain, tekanan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi global turut mendorong yield obligasi untuk tetap berada pada tren tinggi.
“Yield SBN ritel masih menarik, apalagi dibandingkan deposito. Di tengah tekanan inflasi dan kondisi global, investor cenderung mencari instrumen yang lebih stabil,” ujar David Sumual, Selasa (28/4/2026).
Ia menambahkan, ST016 berpotensi mendapatkan sambutan positif dari masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari karakteristik kuponnya yang menggunakan skema floating with floor, di mana tingkat imbal hasil minimal tetap terjaga meskipun terjadi fluktuasi suku bunga.
“Kelebihan ST adalah kuponnya biasanya ditetapkan di atas BI Rate, sehingga memberikan kepastian imbal hasil bagi investor,” jelasnya.
Selain itu, kondisi pasar saat ini juga dinilai mendukung. Pasar saham yang mengalami tekanan serta harga emas yang mulai memasuki fase konsolidasi mendorong investor ritel beralih ke instrumen yang lebih defensif, termasuk SBN ritel.
Pandangan serupa disampaikan Ekonom Center of Reform on Economics, Yusuf Rendy Manilet. Ia menilai prospek SBN ritel ke depan masih cukup konstruktif, meskipun terdapat sejumlah catatan penting yang perlu diperhatikan.
Menurutnya, keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan mencerminkan bahwa Indonesia berada dalam fase suku bunga tinggi yang relatif stabil. Faktor eksternal seperti geopolitik, harga energi, dan nilai tukar masih menjadi penahan utama penurunan suku bunga.
“Dalam situasi seperti ini, SBN ritel justru berada di posisi yang cukup menarik. Pemerintah tetap perlu menjaga daya tarik kupon agar penyerapan kuat,” ujar Yusuf Rendy Manilet.
Ia juga menyoroti bahwa secara neto, deposito masih kalah kompetitif dibandingkan SBN ritel. Hal ini disebabkan oleh pajak yang lebih tinggi serta bunga yang belum mengalami kenaikan signifikan. Namun demikian, perilaku investor ritel saat ini mulai mengalami perubahan.
“Investor sekarang tidak hanya melihat BI Rate, tapi juga mempertimbangkan yield pasar, inflasi, dan ekspektasi ekonomi ke depan,” jelasnya.
Dalam konteks ST016, Yusuf memperkirakan bahwa faktor utama yang akan menentukan daya tarik adalah besaran kupon minimum (floor) yang ditetapkan pemerintah. Mengingat karakter ST yang tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder, investor cenderung lebih sensitif terhadap tingkat imbal hasil awal.
Untuk proyeksi kupon, ia memperkirakan bahwa ST016 tenor 2 tahun akan berada di kisaran 5,30% hingga 5,50%, atau sekitar 55–75 basis poin di atas BI Rate. Sementara untuk tenor 4 tahun, kupon diperkirakan berada di kisaran 5,65% hingga 5,85%, dengan spread sekitar 90–110 basis poin.
“Saya tidak melihat kuponnya akan setinggi sukuk ritel jangka panjang, karena karakter ST berbeda. Tapi pemerintah juga tidak punya banyak ruang untuk menetapkan kupon terlalu rendah,” tambahnya.
Sementara itu, David Sumual melihat bahwa secara historis, spread kupon ST terhadap BI Rate cenderung berada di bawah 1%. Bahkan dalam beberapa seri terakhir, tren tersebut semakin menyempit.
“Spread ST016 kemungkinan berada di kisaran 45 hingga 50 basis poin di atas BI Rate, mengikuti pola seri sebelumnya,” ungkapnya.
Selain tingkat kupon, hal lain yang menjadi perhatian adalah kecepatan penyerapan ST016 di pasar. Yusuf menilai bahwa jika produk ini terserap cepat sejak awal masa penawaran, hal tersebut menjadi indikator kuat bahwa likuiditas investor ritel masih tinggi.
Sebaliknya, jika penyerapan berjalan lambat, hal itu bisa menjadi sinyal kejenuhan pasar mengingat penerbitan SBN ritel yang cukup berdekatan sepanjang tahun ini.
“Ini akan menjadi indikator penting bagi strategi penerbitan berikutnya,” katanya.
Dengan berbagai faktor yang ada, ST016 diproyeksikan tetap menjadi pilihan menarik bagi investor, khususnya mereka yang mencari instrumen syariah dengan risiko rendah dan pendapatan stabil.
Pemerintah diharapkan mampu menetapkan strategi kupon yang tepat agar tetap kompetitif di tengah dinamika pasar. Jika berhasil, ST016 berpotensi melanjutkan tren positif SBN ritel sebagai instrumen investasi favorit masyarakat Indonesia.
Baca Juga
Komentar