Lomba Menu Sehat MBG di CFD Bekasi Tri Adhianto Soroti Rasa & Penyajian, Fakta Stunting Jadi Alarm Serius
BEKASI, INDONESIA — Upaya serius menekan angka stunting di Bekasi kembali diperkuat. Pemerintah Kota Bekasi menggelar lomba menu sehat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Plaza Patriot Chandrabhaga, Minggu (12/04/2026). Kegiatan ini menjadi sorotan karena tidak hanya menekankan aspek gizi, tetapi juga rasa dan kreativitas penyajian makanan untuk anak-anak.
Acara yang berlangsung di tengah semarak Car Free Day (CFD) ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, bersama sang istri, Wiwiek Hargono Tri Adhianto. Kehadiran keduanya memperkuat pesan bahwa isu gizi anak kini menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
Program MBG yang diangkat dalam lomba ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Berdasarkan pernyataan resmi, program ini dirancang untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi seimbang sesuai prinsip “4 sehat 5 sempurna”, dengan pengawasan langsung tenaga kesehatan.
Tri Adhianto secara tegas mengungkap fakta bahwa masih banyak anak di Indonesia, termasuk di wilayah perkotaan seperti Bekasi, yang mengalami kekurangan gizi hingga stunting.
“Program ini menjadi perhatian serius karena masih banyak anak-anak kita yang mengalami kekurangan gizi hingga stunting. Maka, intervensi harus dilakukan sejak dini,” tegasnya.
Pernyataan ini sekaligus menjadi alarm bahwa persoalan gizi bukan hanya terjadi di daerah terpencil, tetapi juga di kota penyangga Jakarta.
Kegiatan dimulai sejak pagi hari dengan suasana CFD yang ramai. Wali Kota Bekasi bersama peserta, termasuk pelajar SMP, mengikuti senam bersama yang berlangsung meriah di area CFD.
Setelah itu, Tri Adhianto memanggil perwakilan siswa dari lima sekolah untuk berdialog langsung. Dalam sesi ini, para siswa menyampaikan pengalaman mereka terkait program MBG di sekolah masing-masing.
Hasilnya cukup mengejutkan sekaligus menggembirakan. Para siswa mengaku program ini sangat membantu kebutuhan gizi harian mereka dan membuat mereka lebih semangat belajar.
Keterlibatan langsung siswa menjadi bukti bahwa program ini tidak hanya berjalan di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya di lapangan.
Dalam penjelasannya, Tri Adhianto menyoroti bahwa persoalan gizi anak tidak bisa diselesaikan hanya dengan pemberian makanan.
Ada beberapa faktor utama penyebab yang menjadi perhatian:
- Kurangnya pemahaman orang tua tentang gizi seimbang
- Pola makan anak yang tidak teratur
- Minimnya variasi menu sehat yang menarik
- Risiko penyakit turunan akibat kurangnya edukasi sejak pra-nikah
Karena itu, ia menegaskan pentingnya pengawasan ketat dari tenaga kesehatan, khususnya kepala puskesmas, agar program berjalan efektif.
Salah satu poin paling menarik dalam lomba ini adalah penekanan pada aspek rasa dan penyajian makanan. Tri menilai bahwa selama ini banyak program makanan sehat gagal menarik minat anak karena kurang kreatif.
“Jangan hanya kenyang, tapi rasa juga penting. Penyajian harus kreatif agar anak-anak tertarik,” ujarnya.
Pernyataan ini menjadi pendekatan baru dalam kebijakan publik: menggabungkan aspek kesehatan dengan selera anak-anak.
Dalam lomba tersebut, peserta ditantang menciptakan menu sehat yang tidak hanya bergizi, tetapi juga menarik secara visual dan lezat di lidah anak.
Langkah Pemkot Bekasi ini dinilai sebagai strategi cerdas dalam membangun generasi masa depan. Dengan pendekatan kompetisi, masyarakat didorong untuk lebih kreatif dalam mengolah makanan sehat.
Selain itu, kegiatan ini juga memiliki dampak luas:
- Meningkatkan kesadaran gizi masyarakat
- Mendorong inovasi menu sehat berbasis lokal
- Mengedukasi anak sejak dini tentang pola makan sehat
- Mengurangi risiko stunting secara jangka panjang
Bekasi sebagai kota berkembang membutuhkan pendekatan inovatif seperti ini untuk menghadapi tantangan kesehatan masyarakat.
Lima sekolah yang terlibat dalam kegiatan ini mengaku sangat terbantu dengan program MBG. Para siswa merasa lebih diperhatikan, terutama dalam hal asupan makanan di sekolah.
Beberapa siswa bahkan menyebut bahwa makanan yang diberikan kini lebih variatif dan tidak membosankan.
Respons positif ini menjadi indikator keberhasilan awal program yang bisa dikembangkan lebih luas ke seluruh sekolah di Bekasi.
Lomba menu sehat dalam program MBG di CFD Bekasi hari ini bukan sekadar ajang kompetisi. Ini adalah langkah konkret dalam membangun generasi sehat, cerdas, dan bebas stunting.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, dan masyarakat, Bekasi menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah sederhana: memastikan anak-anak makan dengan sehat, lezat, dan penuh gizi.
Jika konsistensi program ini terus dijaga, bukan tidak mungkin Bekasi akan menjadi contoh nasional dalam penanganan gizi anak di Indonesia.
Baca Juga
Komentar