Ketua Komisi IV DPR RI Dorong Produksi Bawang Putih untuk Tekan Ketergantungan Impor
LOMBOK TIMUR – Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto mendorong penguatan produksi bawang putih dalam negeri sebagai langkah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor sekaligus mewujudkan kembali swasembada komoditas tersebut.
Dorongan itu disampaikan Titiek Soeharto saat menghadiri penanaman bawang putih serentak di 14 Polda, panen raya, serta groundbreaking Gudang Ketahanan Pangan Polri di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (19/8/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, serta sejumlah kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, kelompok tani, dan pemangku kepentingan sektor pertanian.
Titiek mengapresiasi sinergi lintas sektor dalam memperkuat produksi bawang putih nasional. Menurutnya, Indonesia memiliki sejumlah modal untuk kembali mencapai swasembada, mulai dari ketersediaan lahan dan sumber daya petani hingga pengalaman Indonesia yang pernah memenuhi kebutuhan bawang putih secara mandiri.
“Indonesia pernah swasembada bawang putih. Tentunya saat ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk bagaimana kita mengulang kejayaan yang pernah terjadi saat itu,” ujar Titiek.
Ia menegaskan penanaman bawang putih secara serentak harus menjadi awal gerakan yang konsisten dan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Menurut Titiek, pencapaian swasembada membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, Polri, pelaku usaha, kelompok tani, hingga pemangku kepentingan lainnya perlu bergerak sesuai dengan peran masing-masing.
“Penanaman bawang putih serentak ini harus menjadi awal gerakan yang konsisten dan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial, guna mendukung pencapaian swasembada bawang putih,” katanya.
Potensi Lahan Capai 2.593 Hektare
Dalam program tersebut, Polri bersama kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, serta mitra strategis telah mengidentifikasi potensi lahan terverifikasi seluas 2.593,1 hektare yang tersebar di 17 Polda.
Dari luasan tersebut, sekitar 927,6 hektare telah ditanami dengan proyeksi produksi mencapai 9.276 ton. Program tersebut melibatkan 117 kelompok tani dan 2.257 petani.
Sementara dalam penanaman serentak pada 19 Agustus 2026, bawang putih ditanam di lahan seluas 279,5 hektare yang tersebar di 59 Polres pada 14 Polda. Kegiatan tersebut melibatkan 110 kelompok tani dan 2.174 petani dengan potensi produksi sekitar 2.795 ton.
Polda NTB menjadi wilayah dengan lahan penanaman terluas, yakni mencapai 120 hektare dengan potensi produksi sekitar 1.200 ton. Berikutnya Polda Sumatera Selatan memiliki lahan seluas 81 hektare dengan potensi produksi 810 ton.
Sementara itu, Polda Jawa Barat menyiapkan lahan seluas 44,58 hektare dengan potensi produksi sekitar 445,8 ton.
Tiga Polda lainnya, yakni Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah, dijadwalkan melaksanakan penanaman pada September dan Oktober 2026 dengan menyesuaikan kondisi dan masa tanam di wilayah masing-masing.
Ekosistem Pertanian Harus Diperkuat
Titiek menilai peningkatan produksi bawang putih tidak cukup hanya dengan memperluas lahan. Pemerintah perlu membangun ekosistem bawang putih yang kuat dari sektor hulu hingga hilir.
Dukungan kepada petani mencakup penyediaan benih unggul, pupuk, alat dan mesin pertanian, pembiayaan, teknologi, pendampingan, hingga kepastian pasar dan harga.
“Dukungan sarana produksi harus benar-benar sampai kepada petani, meliputi benih unggul, pupuk, alat dan mesin pertanian, pembiayaan, teknologi, serta pendampingan dengan memperhatikan ketepatan jumlah, waktu, dan sasaran,” ujarnya.
Menurutnya, kepastian pasar menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha tani. Petani harus mendapatkan jaminan bahwa hasil panen mereka dapat terserap dengan harga yang memberikan keuntungan.
Karena itu, penguatan tata niaga dan penyerapan hasil panen perlu berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas.
“Swasembada tidak hanya berorientasi pada perluasan lahan dan peningkatan produksi, tetapi juga harus membangun ekosistem bawang putih yang kuat serta memberikan manfaat dan keuntungan bagi petani,” kata Titiek.
Penguatan sektor hilir di Sembalun ditandai dengan panen raya bawang putih di lahan seluas 105 hektare. Kegiatan tersebut melibatkan sembilan kelompok tani dan 287 petani dengan potensi hasil mencapai 1.050 ton.
Selain panen raya, dilakukan groundbreaking Gudang Ketahanan Pangan Polri seluas 250 meter persegi dengan kapasitas penyimpanan hingga 300 ton bawang putih.
Gudang tersebut diharapkan dapat memperkuat pengelolaan pascapanen, menjaga kualitas hasil produksi, sekaligus mendukung penyerapan dan distribusi bawang putih.
Dukungan sarana produksi juga diberikan melalui bantuan alat dan mesin pertanian. Polri menyerahkan 81 unit hand tractor dan lima unit pompa air tenaga surya.
Kementerian Pertanian memberikan sembilan unit hand tractor, satu unit traktor roda empat, dan 19 unit pompa air. Sementara PT Pupuk Indonesia memberikan bantuan sebanyak 17 ton pupuk.
Produksi Nasional Masih Terbatas
Titiek juga mendorong pemerintah menyusun roadmap swasembada bawang putih yang jelas dan terukur. Roadmap tersebut perlu memuat target luas tanam, produktivitas, produksi, dukungan anggaran, serta pembagian peran dan tanggung jawab setiap pihak.
Menurutnya, sentra produksi seperti Sembalun perlu diperkuat secara berkelanjutan dan diikuti dengan pengembangan sentra produksi baru di daerah lain.
“Komisi IV DPR RI akan terus memberikan dukungan dan menjalankan fungsi pengawasan sesuai tugas dan kewenangannya untuk mendorong keberhasilan program swasembada bawang putih,” tegasnya.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengatakan penguatan ketahanan pangan merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia mampu lebih mandiri di tengah ketidakpastian kondisi global.
“Bapak Presiden selalu menekankan bahwa di tengah situasi eskalasi global yang tidak menentu seperti ini, kita semua harus mandiri, khususnya di bidang ketahanan pangan. Oleh karena itu, ini menjadi perintah dari beliau yang harus kita tindak lanjuti sehingga program ini bisa berjalan dengan baik,” ujar Listyo Sigit.
Bawang putih menjadi salah satu komoditas yang masih menghadapi tantangan dalam pemenuhan kebutuhan nasional. Kebutuhan bawang putih Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 600.000 ton per tahun, sementara produksi dalam negeri masih berada pada kisaran 34.000 hingga 40.000 ton.
Kondisi tersebut membuat ketergantungan terhadap impor masih sangat tinggi, yakni sekitar 90 hingga 95 persen dari kebutuhan nasional.
Karena itu, peningkatan produksi domestik menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.
Melalui penguatan produksi dari hulu hingga hilir, sinergi pemerintah, Polri, DPR RI, kelompok tani, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan mampu meningkatkan produktivitas bawang putih nasional.
Program tersebut sekaligus diharapkan memperkuat posisi petani sebagai pelaku utama sektor pertanian, meningkatkan kesejahteraan mereka, dan secara bertahap mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor.
Dengan konsistensi program, dukungan sarana produksi, kepastian pasar, serta pengembangan sentra bawang putih di berbagai daerah, target kemandirian dan kedaulatan pangan nasional diharapkan dapat diwujudkan secara berkelanjutan.
Baca Juga
Komentar