Asing Jual Rp3,90 Triliun Sepekan, GOTO hingga BBCA Jadi Sasaran Tekanan Jual Hari Ini
JAKARTA – Investor asing mencatat aksi jual bersih atau net foreign sell besar di pasar saham Indonesia sepanjang pekan perdagangan 28 September hingga 2 Oktober 2026.
Sejumlah saham menjadi sasaran utama tekanan jual asing, dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatat net foreign sell terbesar, disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).
Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun, net foreign sell GOTO sepanjang pekan mencapai sekitar Rp979,40 miliar. Saham GOTO juga mengalami tekanan paling dalam di antara sejumlah saham dengan net sell asing terbesar, yakni turun sekitar 40 persen menjadi Rp30 per saham.
BMRI berada di posisi berikutnya dengan net foreign sell sekitar Rp858,17 miliar. Saham bank tersebut melemah 1,23 persen sepanjang pekan menjadi Rp4.030 per saham.
Sementara itu, TLKM mencatat net foreign sell sekitar Rp469,98 miliar. Saham operator telekomunikasi tersebut turun 6,64 persen menjadi Rp2.250 per saham.
Tekanan jual asing juga terjadi pada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Net foreign sell saham BBCA tercatat sekitar Rp291,86 miliar, sementara harganya turun 2,40 persen sepanjang pekan menjadi Rp6.100 per saham.
Berikutnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat net foreign sell sekitar Rp183,52 miliar. Saham BBRI melemah 2,22 persen menjadi Rp3.080 per saham.
Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga masuk dalam daftar dengan net foreign sell sekitar Rp117,93 miliar. Harga saham MDKA turun 7,17 persen sepanjang pekan menjadi Rp2.850 per saham.
Di sektor perbankan, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat net foreign sell sekitar Rp97,73 miliar. Saham BBNI terkoreksi 2,29 persen menjadi Rp3.420 per saham.
Selanjutnya, PT Singaraja Putra Tbk (SINI) mencatat net foreign sell sekitar Rp85,44 miliar. Saham SINI turun 13,39 persen sepanjang pekan menjadi Rp15.850 per saham.
Tekanan jual juga terjadi pada PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dengan net foreign sell sekitar Rp81,11 miliar. Saham CPIN melemah 3,32 persen menjadi Rp2.910 per saham.
Sementara itu, PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) mencatat net foreign sell sekitar Rp80,20 miliar. Saham PACK turun 33,64 persen sepanjang pekan menjadi Rp428 per saham.
Secara keseluruhan, tekanan jual asing terjadi ketika pasar saham domestik masih berada dalam kondisi tertekan.
IHSG memang berhasil ditutup menguat 0,46 persen pada perdagangan Jumat (2/10/2026) ke level 6.036,888. Namun, sepanjang pekan IHSG masih terkoreksi 3,28 persen dari posisi penutupan pekan sebelumnya di level 6.241,892.
BEI mencatat investor asing membukukan net sell sekitar Rp1,27 triliun hanya pada perdagangan Jumat. Secara kumulatif sepanjang 2026, net sell investor asing telah mencapai sekitar Rp82,55 triliun.
Tekanan tersebut juga terjadi bersamaan dengan perubahan sejumlah kebijakan perdagangan di Bursa Efek Indonesia.
Mulai 28 September 2026, BEI menurunkan batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1. Bursa juga melakukan penyesuaian terhadap mekanisme Auto Rejection dan Papan Pemantauan Khusus.
Selain itu, perdagangan Short Selling dan Intraday Short Selling (IDSS) mulai diterapkan pada 1 Oktober 2026. Pada tahap awal, terdapat lima saham yang masuk daftar efek IDSS, yakni ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF.
Pergerakan pasar juga berlangsung di tengah perhatian investor terhadap perkembangan kebijakan ekonomi, nilai tukar rupiah, kondisi pasar global, serta arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Dengan tekanan jual asing yang masih terlihat, pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar dan arah IHSG menjadi perhatian pelaku pasar pada awal perdagangan pekan berikutnya.
Investor tetap perlu mencermati data perdagangan, kinerja fundamental emiten, serta perkembangan kebijakan pasar sebelum mengambil keputusan investasi.
Baca Juga
Komentar