INAF Bangkit! Terungkap Fakta Pendapatan Naik 45 Persen
JAKARTA – PT Indofarma Tbk (INAF) mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan kinerja pada kuartal I 2026. Meski masih membukukan rugi bersih, emiten farmasi pelat merah tersebut berhasil memangkas kerugian hingga 69,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, pendapatan perseroan melonjak lebih dari 45 persen, memberikan harapan baru bagi investor terhadap proses pemulihan bisnis perusahaan.
Laporan keuangan per 31 Maret 2026 memperlihatkan bahwa Indofarma mencatat rugi bersih sebesar Rp7,58 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan rugi bersih Rp25,1 miliar pada kuartal I 2025. Penurunan kerugian ini menjadi salah satu indikator bahwa langkah efisiensi dan peningkatan penjualan mulai memberikan dampak positif terhadap operasional perusahaan.
Seiring dengan membaiknya kinerja tersebut, rugi per saham (loss per share) juga menyusut signifikan menjadi Rp2,45 per lembar, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp8,10 per saham.
Perbaikan ini memang belum mengantarkan Indofarma kembali ke jalur laba. Namun, tren positif tersebut menjadi sinyal penting bahwa perusahaan tengah berupaya keluar dari tekanan keuangan yang membayangi dalam beberapa tahun terakhir.
Pendapatan Tumbuh 45 Persen
Salah satu faktor utama yang menopang perbaikan kinerja Indofarma adalah pertumbuhan pendapatan yang cukup agresif.
Sepanjang Januari hingga Maret 2026, perseroan membukukan pendapatan bersih Rp53,32 miliar, meningkat 45,05 persen dibandingkan kuartal I 2025 yang hanya sebesar Rp36,76 miliar.
Lonjakan pendapatan tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas bisnis di tengah proses restrukturisasi yang sedang dijalankan perusahaan.
Meski demikian, kenaikan penjualan juga diikuti meningkatnya beban pokok penjualan menjadi Rp48,57 miliar, dari sebelumnya Rp42,36 miliar.
Walau biaya produksi meningkat, kenaikan penjualan berhasil memberikan dampak positif terhadap laba kotor perusahaan.
Laba Kotor Berbalik Positif
Perbaikan paling mencolok terlihat pada pos laba kotor.
Jika pada kuartal I 2025 Indofarma masih membukukan rugi kotor Rp5,6 miliar, maka pada kuartal pertama tahun ini perusahaan berhasil mencetak laba kotor Rp4,74 miliar.
Artinya, terjadi lonjakan sekitar 184,64 persen, sekaligus menandai keberhasilan perusahaan memperbaiki margin usaha.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa efisiensi operasional mulai berjalan efektif.
Peningkatan laba kotor biasanya menjadi fondasi penting sebelum perusahaan mampu membalikkan keadaan menjadi laba bersih secara keseluruhan.
Beban Operasional Turun Tajam
Selain peningkatan pendapatan, strategi efisiensi biaya juga menjadi faktor utama menurunnya kerugian.
Beban penjualan turun drastis menjadi hanya Rp353,1 juta, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3,88 miliar.
Sementara itu, beban umum dan administrasi juga berhasil ditekan menjadi Rp6,55 miliar, dari sebelumnya mencapai Rp12,7 miliar.
Efisiensi tersebut menunjukkan perusahaan semakin selektif dalam mengelola biaya operasional di tengah kondisi keuangan yang masih menantang.
Tidak hanya itu, pos kerugian lain-lain juga turun signifikan menjadi Rp1,02 miliar, dibandingkan Rp3,24 miliar pada tahun sebelumnya.
Gabungan berbagai efisiensi tersebut membuat rugi usaha Indofarma menyusut drastis menjadi Rp3,17 miliar, jauh lebih baik dibandingkan rugi usaha kuartal I 2025 sebesar Rp25,43 miliar.
Beban Keuangan Masih Menjadi Tantangan
Di tengah membaiknya operasional perusahaan, Indofarma masih menghadapi tekanan dari sisi pembiayaan.
Perseroan mencatat beban keuangan sebesar Rp4,42 miliar, sementara pada periode yang sama tahun lalu belum terdapat beban serupa.
Beban bunga dan biaya pembiayaan ini menjadi salah satu faktor yang masih menahan perusahaan untuk segera kembali membukukan laba bersih.
Ke depan, pengelolaan utang serta restrukturisasi kewajiban diperkirakan akan menjadi fokus penting agar beban keuangan dapat ditekan.
Defisiensi Modal Masih Besar
Meski kinerja operasional mulai membaik, kondisi permodalan Indofarma masih menjadi perhatian.
Per 31 Maret 2026, perusahaan mencatat defisiensi modal sebesar Rp714,52 miliar, meningkat dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp706,94 miliar.
Sementara itu, defisit akumulasi bertambah menjadi Rp1,44 triliun, dibandingkan sebelumnya Rp1,43 triliun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa proses pemulihan perusahaan masih membutuhkan waktu serta dukungan restrukturisasi yang berkelanjutan.
Defisit modal yang cukup besar menjadi tantangan tersendiri dalam memperkuat struktur keuangan perusahaan.
Liabilitas Turun, Aset Ikut Menyusut
Dari sisi neraca keuangan, Indofarma berhasil menurunkan total liabilitas.
Total kewajiban perusahaan tercatat sebesar Rp1,20 triliun, lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2025 yang mencapai Rp1,24 triliun.
Penurunan ini mengindikasikan adanya upaya perusahaan mengurangi beban kewajiban.
Namun di sisi lain, total aset juga mengalami penurunan menjadi Rp489,66 miliar, dari sebelumnya Rp535,98 miliar pada akhir tahun lalu.
Penyusutan aset menjadi salah satu konsekuensi dari proses restrukturisasi yang sedang berlangsung.
Investor Mulai Mencermati Arah Pemulihan
Perbaikan sejumlah indikator keuangan membuat pelaku pasar mulai mencermati prospek pemulihan Indofarma.
Meski perusahaan masih mencatat rugi bersih dan menghadapi defisiensi modal yang besar, keberhasilan meningkatkan penjualan serta memangkas rugi operasional memberikan optimisme bahwa kondisi bisnis mulai bergerak ke arah yang lebih baik.
Keberhasilan perusahaan menjaga pertumbuhan pendapatan akan menjadi faktor utama yang menentukan keberlanjutan proses turnaround pada sisa tahun 2026.
Jika tren efisiensi biaya dapat dipertahankan dan penjualan terus meningkat, peluang Indofarma untuk memperbaiki kinerja keuangan secara bertahap akan semakin terbuka.
Fokus Restrukturisasi Masih Menjadi Kunci
Sejumlah analis menilai, keberhasilan Indofarma kembali ke jalur profitabilitas tidak hanya bergantung pada peningkatan penjualan, tetapi juga keberhasilan restrukturisasi utang, penguatan modal kerja, serta efisiensi biaya operasional.
Sebagai perusahaan farmasi milik negara, Indofarma juga memiliki peluang untuk memperkuat bisnis melalui optimalisasi produk kesehatan, alat kesehatan, dan distribusi farmasi yang menjadi lini usaha utama.
Dengan berbagai langkah pembenahan yang tengah dilakukan, kuartal I 2026 dapat menjadi titik awal pemulihan kinerja perusahaan setelah menghadapi tekanan berat dalam beberapa tahun terakhir.
Meski jalan menuju profitabilitas masih panjang, perbaikan fundamental yang mulai terlihat menjadi sinyal positif bagi investor maupun pelaku industri farmasi nasional.
Sumber: Laporan Keuangan PT Indofarma Tbk per 31 Maret 2026, keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), data emiten.
Baca Juga
Komentar