Fakta Terbaru Kebakaran SPBE Bekasi Hari Ini, Diduga Korsleting Picu Ledakan
Bekasi — Kebakaran hebat melanda Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di kawasan Cimuning, Mustika Jaya, Kota Bekasi, Rabu (1/4/2026) malam. Peristiwa ini langsung menjadi sorotan publik karena sempat disertai ledakan saat proses pengisian gas berlangsung.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bekasi mengungkap dugaan sementara penyebab kebakaran berasal dari korsleting listrik di dalam area SPBE. Api dengan cepat membesar dan merambat ke seluruh fasilitas.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdamkarmat Kota Bekasi, Heryanto, menjelaskan bahwa sebelum api membesar, sempat terjadi ledakan yang berasal dari aktivitas pengisian mobil tangki gas.
“Dugaan sementara adalah adanya arus pendek listrik yang kemudian menyebabkan kebakaran dan meluas ke seluruh area,” ujar Heryanto kepada awak media, Kamis (2/4/2026).
Berdasarkan keterangan petugas, titik awal kebakaran diduga berasal dari dalam area SPBE. Saat proses pengisian berlangsung, muncul percikan yang diduga dipicu gangguan listrik, sebelum akhirnya memicu satu kali ledakan.
Ledakan tersebut menjadi pemicu awal membesarnya api yang dengan cepat menyebar, mengingat lokasi dipenuhi material mudah terbakar berupa gas elpiji. Kondisi ini membuat api sulit dikendalikan pada fase awal kejadian.
Laporan pertama diterima petugas sekitar pukul 20.00 WIB. Tak lama setelah itu, tim pemadam langsung dikerahkan ke lokasi untuk melakukan penanganan darurat.
Dalam upaya pemadaman, Disdamkarmat Kota Bekasi mengerahkan sedikitnya 15 unit kendaraan pemadam kebakaran. Selain itu, sebanyak 12 regu diterjunkan dengan total sekitar 72 personel inti, ditambah tim pendukung sehingga keseluruhan mencapai sekitar 100 orang.
“Kami mengirimkan sebanyak 15 unit kendaraan. Sejak pukul 01.00 WIB sudah melakukan proses pendinginan,” kata Heryanto.
Besarnya skala kebakaran membuat proses pemadaman berlangsung cukup lama. Petugas harus bekerja ekstra untuk menjinakkan api yang terus dipicu oleh sisa gas di dalam instalasi.
Dalam proses pemadaman, petugas menggunakan metode khusus untuk kebakaran berbahan gas, yakni dengan foam atau cairan berbasis deterjen. Teknik ini digunakan untuk menutup permukaan api dan mengurangi suplai oksigen agar api cepat padam.
Penanganan kebakaran gas, menurut Heryanto, membutuhkan kehati-hatian tinggi karena berpotensi menimbulkan ledakan susulan apabila tidak dilakukan secara tepat.
“Saat ini masih terus kami dorong pendinginannya supaya selesai gasnya, baru bisa padam,” ujarnya.
Hingga Kamis dini hari, api utama telah berhasil dikendalikan. Namun, petugas masih fokus melakukan pendinginan di titik sumber api yang sulit dipadamkan untuk mencegah potensi kebakaran ulang.
Salah satu hal paling krusial dalam peristiwa ini adalah keberadaan tangki elpiji berkapasitas besar di area belakang lokasi. Tangki tersebut diketahui memiliki kapasitas sekitar 50.000 kilogram.
Beruntung, petugas berhasil mengamankan tangki tersebut sebelum api menjalar. Jika tangki itu ikut terbakar, dampaknya diperkirakan akan jauh lebih besar dan berpotensi membahayakan kawasan sekitar.
“Di belakang ada tangki elpiji sekitar 50.000 kilogram. Alhamdulillah bisa kita amankan. Kalau sampai terbakar, itu paling berbahaya,” kata Heryanto.
Keberhasilan mengamankan tangki ini dinilai menjadi faktor penting yang mencegah terjadinya bencana yang lebih luas.
Kondisi lokasi SPBE yang berada di tengah permukiman padat penduduk menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Api dengan cepat merembet ke bangunan di sekitar lokasi karena jarak antar bangunan yang relatif dekat.
“Di belakang ada rumah, di samping juga ada rumah,” ujar Heryanto.
Situasi ini memaksa petugas untuk tidak hanya fokus memadamkan api di area SPBE, tetapi juga mencegah penjalaran ke rumah warga. Upaya evakuasi dan pengamanan lingkungan sekitar turut dilakukan guna menghindari korban jiwa.
Akibat kebakaran tersebut, kondisi fasilitas SPBE dilaporkan mengalami kerusakan berat. Sejumlah instalasi utama hangus terbakar, sementara aktivitas operasional dipastikan terhenti untuk sementara waktu.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan resmi terkait korban jiwa. Petugas masih terus melakukan proses pendinginan guna memastikan tidak ada sisa api atau potensi ledakan lanjutan.
Proses pendinginan diperkirakan berlangsung hingga seluruh sisa gas dalam instalasi benar-benar habis. Hal ini menjadi prosedur standar dalam penanganan kebakaran yang melibatkan bahan bakar gas bertekanan tinggi.
Peristiwa kebakaran SPBE di Bekasi ini menjadi perhatian luas karena menyangkut fasilitas energi yang berisiko tinggi. Selain itu, lokasinya yang berada di kawasan padat penduduk meningkatkan kekhawatiran masyarakat terhadap potensi bahaya serupa di masa mendatang.
Pihak berwenang diharapkan segera melakukan investigasi lanjutan untuk memastikan penyebab pasti kebakaran serta mengevaluasi standar keamanan operasional SPBE di wilayah perkotaan.
Kejadian ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya sistem keamanan dan mitigasi risiko pada fasilitas penyimpanan dan distribusi energi, terutama yang berada di dekat permukiman warga.
Hingga saat ini, situasi di lokasi telah berangsur kondusif, namun petugas masih bersiaga untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali menyala.
Baca Juga
Komentar