China Incar Jadi Pengelola Cadangan Emas Asing, Strategi Baru Tantang Dominasi Dolar AS
Jakarta, 25 September 2025 – Bank Sentral China atau People’s Bank of China (PBOC) dikabarkan tengah menyusun langkah besar yang berpotensi mengubah peta keuangan global. PBOC berencana menjadi pengelola cadangan emas asing, sebuah langkah strategis yang dinilai dapat memperkuat posisi China di pasar emas dunia sekaligus menantang dominasi dolar AS.
Rencana itu pertama kali diungkap melalui laporan Mining.com, Kamis (24/9/2025). Beberapa sumber menyebut, PBOC akan memanfaatkan Bursa Emas Shanghai (SGE) sebagai pintu masuk bagi bank-bank sentral negara mitra untuk membeli emas dan menyimpannya langsung di wilayah China.
Upaya ini ternyata bukan gagasan baru. Menurut sumber yang sama, pembicaraan mengenai kerja sama penyimpanan emas sudah dilakukan sejak beberapa bulan terakhir. Bahkan, satu negara di Asia Tenggara disebut telah menunjukkan minat terhadap inisiatif tersebut.
Jika benar terwujud, cadangan emas asing itu akan disimpan di gudang kustodian yang terhubung dengan Dewan Internasional SGE. Lembaga ini berada di bawah PBOC dan telah berdiri sejak 2014 untuk memfasilitasi perdagangan emas antara investor asing dan mitra di China.
Menariknya, emas batangan yang akan disimpan bukan berasal dari cadangan lama suatu negara. PBOC mendorong agar pembelian dilakukan baru sehingga perhitungan tetap masuk sebagai cadangan devisa resmi negara mitra. Dengan begitu, aliran emas global berpotensi meningkat seiring implementasi program tersebut.
Hingga kini, baik PBOC maupun pihak SGE belum memberikan tanggapan resmi mengenai laporan tersebut. Namun, kabar ini sudah cukup mengguncang pasar emas internasional yang belakangan mencatat tren harga naik.
Para pengamat menilai, strategi China untuk menjadi pengelola emas asing dapat membuka jalan baru dalam ambisinya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Selama beberapa dekade terakhir, cadangan devisa global mayoritas masih berbasis greenback.
“Pasar mungkin berspekulasi bahwa upaya China untuk menampung cadangan emas asing menandakan dorongan jangka panjang untuk meningkatkan perannya dalam sistem moneter global,” ujar Wael Makarem, Kepala Strategi Pasar Keuangan di Exness.
Menurutnya, langkah ini bisa dimaknai sebagai bagian dari proses dedolarisasi inkremental, yaitu pengurangan bertahap dominasi dolar AS dalam transaksi internasional. Imbasnya, posisi emas sebagai aset safe haven semakin menguat.
Bukan rahasia lagi, permintaan emas dari bank sentral dunia memang menjadi motor utama kenaikan harga emas ke level rekor. Sepanjang tahun terakhir, PBOC tercatat membeli emas selama 10 bulan berturut-turut, menjadikannya salah satu pembeli emas terbesar di dunia.
Selain itu, China juga aktif memperluas ekosistem emas global. Tahun ini, SGE meluncurkan brankas lepas pantai pertamanya di Hong Kong, memungkinkan investor internasional menyimpan emas di luar daratan China namun tetap dalam pengawasan sistem finansial Tiongkok.
Tak berhenti di situ, PBOC juga baru saja melonggarkan aturan impor emas. Langkah ini diyakini sebagai sinyal bahwa Negeri Tirai Bambu sedang mengonsolidasikan pengaruhnya di pasar emas, baik dari sisi permintaan domestik maupun peran internasional.
Bagi negara-negara mitra, tawaran China ini bisa jadi menarik. Di tengah risiko geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, emas kembali dipandang sebagai aset lindung nilai. Menyimpan cadangan emas di China berpotensi memberi diversifikasi sekaligus akses langsung ke pasar emas terbesar dunia.
Namun, di sisi lain, analis memperingatkan bahwa skema ini juga memiliki risiko geopolitik. Penyimpanan cadangan emas di China bisa menimbulkan ketergantungan baru yang pada gilirannya memengaruhi kebijakan moneter negara mitra.
Meski begitu, minat negara Asia Tenggara terhadap inisiatif ini menjadi bukti bahwa banyak pihak mulai mencari alternatif selain sistem yang didominasi dolar AS. Bagi China, momentum ini jelas sangat berharga untuk memperkuat narasi yuan internasional.
Jika rencana ini terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan akan muncul tren baru di mana bank-bank sentral mulai menambah emas bukan sekadar sebagai simpanan domestik, tetapi juga melalui skema kustodian lintas negara.
Langkah berani PBOC bisa jadi awal dari babak baru perebutan pengaruh di sektor keuangan global. Dengan posisi emas sebagai aset cadangan yang semakin strategis, dunia mungkin sedang menyaksikan munculnya poros baru dalam arsitektur moneter internasional.
Bagi investor, kabar ini tentu menambah optimisme terhadap emas. Spekulasi bahwa dedolarisasi semakin nyata berpotensi menjaga harga emas tetap tinggi di masa mendatang.
Sampai saat ini, publik masih menunggu pernyataan resmi dari PBOC. Apakah benar China siap membuka pintu bagi cadangan emas asing, atau ini sekadar strategi uji pasar, semuanya akan terjawab dalam beberapa waktu ke depan.
Baca Juga
Komentar