Bupati Subang Reynaldy Putra Jadi Kepala Sekolah di Film “Sisa Waktu Senja”, Strategi Cerdas Promosi Pariwisata & UMKM Subang
SUBANG – Dunia perfilman nasional dikejutkan oleh langkah tak biasa dari Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita BR. Di tengah padatnya agenda pemerintahan, orang nomor satu di Kabupaten Subang itu justru tampil di depan kamera sebagai Kepala Sekolah dalam film Sisa Waktu Senja.
Aksi tersebut bukan sekadar cameo simbolis. Kehadiran Bupati yang akrab disapa Kang Rey ini menjadi sorotan karena dinilai sebagai strategi kreatif dalam mempromosikan potensi daerah melalui industri perfilman.
Tampil Total di Lokasi Syuting SMA Negeri 1 Subang
Pengambilan gambar berlangsung di SMA Negeri 1 Subang pada Minggu (01/03/2026). Dengan balutan busana formal khas kepala sekolah, Kang Rey terlihat serius mendalami peran. Ia berdiri sejajar dengan para aktor dan kru produksi, menunjukkan keseriusan mendukung proses kreatif tersebut.
Film Sisa Waktu Senja sendiri disutradarai oleh Husni Ramdan dan dibintangi dua nama populer generasi muda, Keisya Levronka serta Kiesha Alvaro. Kehadiran figur publik sekaliber bupati di lokasi syuting jelas menjadi magnet tersendiri.
Menurut Kang Rey, keterlibatannya bukan untuk mencari sensasi, melainkan sebagai bentuk dukungan konkret terhadap industri kreatif lokal dan nasional yang menjadikan Subang sebagai latar cerita.
“Bisa menyuguhkan hal menarik, bisa memberikan yang terbaik untuk Kabupaten Subang,” ujarnya usai proses syuting.
Industri Kreatif Jadi Mesin Baru Ekonomi Daerah
Langkah Kang Rey dinilai banyak pihak sebagai pendekatan modern dalam membangun citra daerah. Di era digital, film bukan sekadar hiburan, tetapi juga alat promosi efektif.
Subang memiliki kekayaan lanskap alam—mulai dari perbukitan, pantai, hingga kawasan pertanian—yang potensial menjadi lokasi syuting. Ketika film nasional mengambil latar di daerah tertentu, dampaknya sering kali terasa langsung pada sektor pariwisata dan UMKM.
Fenomena ini sudah terbukti di berbagai daerah di Indonesia. Lokasi syuting yang viral kerap menjadi destinasi wisata baru. Dengan kata lain, keterlibatan Bupati Subang dalam film ini dapat dibaca sebagai strategi branding wilayah.
Efek Domino untuk UMKM dan Pariwisata Subang
Produksi film skala nasional tentu melibatkan banyak pihak, mulai dari kru teknis, logistik, katering, hingga akomodasi. Seluruh aktivitas tersebut membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
Hotel, penginapan, warung makan, penyedia transportasi, hingga pedagang kecil di sekitar lokasi syuting berpotensi merasakan dampaknya. Dalam konteks ini, film Sisa Waktu Senja bukan sekadar karya sinema, tetapi juga katalis ekonomi.
Kang Rey menegaskan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan maksimal. Subang, menurutnya, memiliki banyak potensi yang belum terekspos secara luas.
Ia berharap film tersebut dapat menjadi media promosi efektif yang memperkenalkan Subang ke tingkat nasional, bahkan internasional.
Kepala Daerah di Depan Kamera, Langkah Berani atau Strategi Visioner?
Keterlibatan langsung kepala daerah dalam produksi film masih tergolong jarang. Biasanya, dukungan pemerintah daerah hadir dalam bentuk perizinan atau fasilitasi lokasi. Namun, tampil langsung sebagai bagian dari cerita tentu menghadirkan daya tarik berbeda.
Sebagian kalangan menilai langkah ini berani dan inovatif. Di tengah tantangan pembangunan daerah yang kompleks, pendekatan kreatif seperti ini menunjukkan bahwa promosi daerah tidak harus selalu formal atau konvensional.
Dengan ikut berdiri di depan kamera, Kang Rey seolah mengirim pesan bahwa pemerintah hadir dan mendukung penuh sektor kreatif.
Subang dan Potensi Besar Industri Perfilman
Kabupaten Subang memiliki posisi geografis strategis di Jawa Barat. Aksesibilitas yang semakin baik, infrastruktur yang berkembang, serta keberagaman lanskap menjadi nilai tambah bagi industri perfilman.
Film Sisa Waktu Senja menjadi momentum pembuktian bahwa Subang mampu menjadi lokasi produksi yang representatif. Jika sukses, bukan tidak mungkin daerah ini akan semakin dilirik rumah produksi lain.
Hal ini bisa menciptakan ekosistem kreatif berkelanjutan, mulai dari pelatihan talenta lokal hingga pengembangan komunitas film daerah.
Harapan di Balik Layar
Di luar aspek promosi, Kang Rey berharap film ini sukses secara komersial dan mendapat tempat di hati penonton. Keberhasilan film tentu akan berdampak langsung pada citra positif Subang sebagai lokasi syuting.
Selain itu, keterlibatan figur publik daerah dalam proyek kreatif dapat menginspirasi generasi muda untuk berani terjun ke industri kreatif. Pesan yang ingin disampaikan cukup jelas: kreativitas adalah bagian penting dari pembangunan.
Momentum Transformasi Citra Subang
Selama ini, Subang dikenal sebagai daerah agraris dengan kekuatan sektor pertanian dan perkebunan. Namun, potensi kreatifnya belum sepenuhnya terekspos.
Melalui film Sisa Waktu Senja, citra Subang perlahan bertransformasi menjadi daerah yang terbuka terhadap industri kreatif. Branding seperti ini penting dalam menarik investasi, kunjungan wisata, hingga kolaborasi lintas sektor.
Kehadiran Bupati Subang di lokasi syuting menjadi simbol bahwa pemerintah tidak sekadar memberikan izin, tetapi juga terlibat aktif dalam mendukung pertumbuhan sektor kreatif.
Lebih dari Sekadar Peran Kepala Sekolah
Peran Kepala Sekolah yang dimainkan Kang Rey mungkin hanya bagian kecil dari keseluruhan cerita film. Namun secara simbolis, langkah tersebut menyiratkan pesan kepemimpinan yang adaptif dan responsif terhadap perkembangan zaman.
Di era ekonomi kreatif, kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri menjadi kunci. Apa yang dilakukan Kang Rey bisa menjadi contoh bagaimana kepala daerah dapat memanfaatkan momentum budaya populer untuk kepentingan promosi wilayah.
Film Sisa Waktu Senja pun kini bukan sekadar proyek sinema. Ia menjadi simbol pertemuan antara dunia pemerintahan dan industri kreatif—dua sektor yang jika bersinergi mampu menciptakan dampak luas.
Jika strategi ini berhasil, bukan tidak mungkin Subang akan dikenal bukan hanya karena hasil buminya, tetapi juga sebagai salah satu pusat kreativitas baru di Jawa Barat.
Dan semua itu dimulai dari satu adegan di SMA Negeri 1 Subang, ketika seorang bupati berdiri di depan kamera, memerankan kepala sekolah—dengan visi besar untuk daerahnya.
Baca Juga
Komentar