Budaya Hijau Diperkuat Sejak Bangku Sekolah, 21 Sekolah Bekasi Borong Penghargaan Adiwiyata
KOTA BEKASI — Pemerintah Kota Bekasi terus memperkuat fondasi budaya peduli lingkungan sejak usia sekolah sebagai langkah strategis menjawab persoalan lingkungan yang kian kompleks, khususnya pengelolaan sampah. Upaya tersebut dijalankan secara berkelanjutan melalui Program Adiwiyata yang menyasar satuan pendidikan di berbagai jenjang.
Sepanjang tahun 2025, komitmen tersebut membuahkan hasil positif. Sebanyak 21 sekolah di Kota Bekasi berhasil meraih penghargaan Adiwiyata, mulai dari tingkat kota, provinsi, hingga nasional.
Rinciannya, 15 sekolah meraih Adiwiyata tingkat kota, enam sekolah tingkat Provinsi Jawa Barat, dan lima sekolah berhasil menembus Adiwiyata tingkat nasional. Penghargaan tingkat nasional tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup.
Capaian ini dinilai menjadi indikator meningkatnya kesadaran lingkungan di dunia pendidikan Kota Bekasi, sekaligus menunjukkan peran sekolah sebagai agen perubahan dalam membentuk perilaku ramah lingkungan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi, Kiswatiningsih, menyampaikan bahwa Program Adiwiyata selaras dengan visi Kota Bekasi Hijau yang dicanangkan oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bekasi.
Menurutnya, indikator penilaian Adiwiyata secara langsung mendukung program strategis pemerintah daerah, terutama dalam pengurangan dan pengelolaan sampah dari sumbernya.
“Ini semua mendukung program pemerintah. Kita tahu bersama, salah satu poin utama penilaian Adiwiyata adalah pengelolaan sampah, yang saat ini menjadi fokus kita,” ujar Kiswatiningsih, Selasa (6/1/2026).
Ia menjelaskan, sekolah-sekolah yang berhasil meraih Adiwiyata tingkat nasional sebelumnya telah melalui proses panjang, mulai dari pembinaan di tingkat kota hingga provinsi.
Ke depan, Pemkot Bekasi mendorong lebih banyak sekolah untuk tidak hanya mengikuti Program Adiwiyata, tetapi juga meningkatkan statusnya ke jenjang yang lebih tinggi.
“Target kita bukan hanya menambah jumlah sekolah Adiwiyata, tetapi mendorong sekolah-sekolah yang sudah lolos nasional agar bisa naik ke Adiwiyata Mandiri,” jelasnya.
Namun demikian, Kiswatiningsih mengakui bahwa syarat menuju Adiwiyata Mandiri tergolong cukup berat. Salah satu ketentuannya, sekolah peraih Adiwiyata nasional wajib membina minimal dua sekolah lain agar ikut berproses bersama.
“Artinya, sekolah bukan hanya peduli terhadap lingkungannya sendiri, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi sekolah lain,” tambahnya.
Ia menegaskan, membangun budaya peduli lingkungan bukan pekerjaan instan. Proses tersebut menyasar seluruh ekosistem sekolah, mulai dari siswa, guru, tenaga kependidikan, hingga orang tua.
Dalam proses pendampingan, DLH Kota Bekasi berperan aktif membantu sekolah, termasuk melalui dukungan sarana dan prasarana penunjang.
“Biasanya apa yang belum bisa dipenuhi sekolah, kami bantu melalui stimulan sarpras agar mereka dapat memenuhi setiap tahapan penilaian,” katanya.
Salah satu sekolah yang berhasil mencatatkan prestasi di tingkat nasional adalah SMAN 15 Kota Bekasi. Sekolah ini mulai menanamkan budaya peduli lingkungan sejak 2023 sebelum akhirnya meraih Adiwiyata Nasional.
Kepala SMAN 15 Kota Bekasi, Khomsatun Rokhyati, mengatakan pembentukan budaya lingkungan dilakukan melalui kebiasaan sederhana yang diterapkan secara konsisten.
“Setiap hari Jumat, tempat sampah kami simpan. Siswa membawa pulang sampahnya masing-masing. Kami juga membiasakan membawa tumbler dan tempat makan, baik guru maupun siswa,” ujarnya.
Ia menambahkan, penggunaan wadah sekali pakai dilarang di lingkungan sekolah, termasuk di area kantin. Kebijakan tersebut dikenalkan sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
“Sejak 2023 program ini tidak berubah, karena membentuk budaya itu butuh konsistensi,” katanya.
Selain perubahan perilaku, SMAN 15 juga menyiapkan fasilitas pendukung, seperti pengolahan kompos untuk sampah organik dan instalasi hidroponik sebagai sarana pembelajaran lingkungan.
Program tersebut tidak hanya berorientasi pada kebersihan, tetapi juga membangun kesadaran siswa terhadap siklus lingkungan dan keberlanjutan.
Ke depan, SMAN 15 bersama empat sekolah lain di Kota Bekasi ditargetkan untuk melangkah ke jenjang Adiwiyata Mandiri.
“Tahun ini kami berencana masuk Adiwiyata Mandiri dengan membina sekolah lain. Anak-anak juga kami siapkan menjadi duta lingkungan bersama DLH, orang tua, dan KCD Wilayah III,” tutup Khomsatun.
Sebagai informasi, lima sekolah peraih Adiwiyata tingkat nasional di Kota Bekasi adalah SDN Mustikajaya IV, SMPN 7, SMPN 32 Kota Bekasi, SMAN 15 Kota Bekasi, dan SMKN 8 Kota Bekasi.
Pemkot Bekasi menilai keberhasilan ini sebagai langkah awal membangun generasi yang lebih peduli lingkungan, sekaligus investasi jangka panjang dalam mewujudkan kota yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Baca Juga
Komentar