Bekasi Hari Ini: Peran Perempuan Era Digital Jadi Sorotan, Strategi Kartini Modern Terungkap
KOTA BEKASI – Peringatan Hari Kartini tahun 2026 di Kota Bekasi tidak sekadar menjadi seremoni tahunan. Pemerintah Kota Bekasi justru memanfaatkannya sebagai momentum strategis untuk memperkuat peran perempuan di tengah arus digitalisasi yang semakin cepat dan kompetitif.
Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe, menegaskan bahwa sosok “Kartini modern” saat ini dituntut tidak hanya berperan dalam lingkup domestik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan menjadi agen perubahan di berbagai sektor kehidupan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam peringatan Hari Kartini tingkat Kota Bekasi yang berlangsung di Aula Nonon Sonthanie, Kompleks Kantor Pemerintah Kota Bekasi, Rabu (22/4/2026).
Kartini Modern di Tengah Arus Digitalisasi
Dalam sambutannya, Harris menekankan bahwa perempuan masa kini memiliki ruang gerak yang jauh lebih luas dibandingkan era sebelumnya. Digitalisasi membuka peluang besar bagi perempuan untuk berkontribusi dalam pembangunan, baik di bidang ekonomi, pendidikan, hingga sosial.
Menurutnya, tantangan utama bukan lagi soal akses, melainkan kesiapan sumber daya manusia untuk beradaptasi dengan perubahan.
“Perempuan saat ini memiliki peran strategis. Kartini modern harus melek teknologi, mampu meningkatkan kapasitas diri, dan tetap menjadi pilar utama dalam keluarga,” ujar Harris.
Pernyataan ini mencerminkan perubahan paradigma dalam melihat peran perempuan, dari sekadar pendukung menjadi aktor utama dalam pembangunan berbasis teknologi.
Peran PKK Jadi Garda Terdepan
Harris secara khusus menyoroti peran Tim Penggerak PKK sebagai ujung tombak pemberdayaan perempuan di tingkat akar rumput.
Ia menilai, aktivitas yang selama ini dijalankan oleh PKK—mulai dari pendidikan keluarga, kesehatan, hingga ekonomi kreatif—merupakan bentuk nyata implementasi nilai-nilai Kartini dalam konteks kekinian.
“Peran ibu-ibu PKK harus terus menyala. Dari keluarga, mereka mendidik generasi, menjaga ketahanan keluarga, sekaligus beradaptasi dengan teknologi,” katanya.
Dengan pendekatan berbasis komunitas, PKK dinilai mampu menjangkau lapisan masyarakat paling bawah, sehingga program pemberdayaan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Momentum Bukan Sekadar Seremonial
Lebih jauh, Harris mengingatkan bahwa peringatan Hari Kartini tidak boleh berhenti pada kegiatan simbolik. Ia menekankan pentingnya menjadikan momen ini sebagai titik refleksi dan akselerasi peningkatan kualitas perempuan.
“Ini bukan sekadar seremoni. Ini momentum untuk mendorong perempuan agar lebih berdaya, mandiri, dan menjadi pelopor perubahan positif,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan semangat emansipasi yang diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini, yang menempatkan pendidikan dan kemandirian sebagai fondasi utama kemajuan perempuan.

Kolaborasi Pemerintah dan PKK
Pemerintah Kota Bekasi, lanjut Harris, terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk PKK dan organisasi perempuan lainnya, untuk mendorong terciptanya ekosistem pemberdayaan yang inklusif.
Program-program yang dijalankan tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan, tetapi juga pada penguatan mental, kepemimpinan, dan literasi digital.
Upaya ini menjadi bagian dari visi besar pembangunan daerah yang mengarah pada terciptanya masyarakat yang sejahtera dan berdaya saing.
Visi Bekasi Keren dan Peran Perempuan
Dalam konteks pembangunan daerah, pemberdayaan perempuan menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan visi “Bekasi Keren”. Konsep ini menekankan pada kota yang nyaman, maju, dan memiliki kualitas sumber daya manusia yang unggul.
Ketua TP PKK Kota Bekasi, Wiwiek Hargono Tri Adhianto, bersama jajaran pengurus turut hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap program pemberdayaan perempuan.
Kehadiran berbagai pemangku kepentingan menunjukkan bahwa isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan menjadi agenda bersama yang terus didorong oleh pemerintah daerah.
Tantangan Perempuan di Era Digital
Meski peluang semakin terbuka, Harris tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang dihadapi perempuan di era digital. Salah satunya adalah kesenjangan literasi teknologi yang masih terjadi di sebagian masyarakat.
Selain itu, perempuan juga dihadapkan pada tantangan ganda, yaitu menjalankan peran domestik sekaligus profesional. Kondisi ini membutuhkan dukungan sistem yang kuat, baik dari keluarga maupun lingkungan kerja.
Oleh karena itu, peningkatan kapasitas melalui pelatihan, edukasi, dan akses terhadap teknologi menjadi hal yang krusial.
Perempuan sebagai Agen Perubahan
Dalam penutup sambutannya, Harris mengajak seluruh perempuan di Bekasi untuk menjadikan semangat Kartini sebagai energi dalam berkarya dan berinovasi.
Ia menegaskan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, termasuk dari lingkungan keluarga.
“Jadikan semangat Kartini sebagai energi untuk terus berkarya, berinovasi, dan memberikan dampak positif,” ujarnya.
Pesan ini menjadi penegasan bahwa perempuan bukan hanya objek pembangunan, tetapi subjek yang memiliki peran penting dalam menentukan arah masa depan.
Dampak Nyata bagi Pembangunan Daerah
Pemberdayaan perempuan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada pembangunan daerah secara keseluruhan. Perempuan yang berdaya akan mampu meningkatkan kualitas keluarga, yang pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan kualitas masyarakat.
Dalam konteks ekonomi, perempuan yang memiliki keterampilan dan akses terhadap teknologi dapat menjadi pelaku usaha yang produktif. Sementara dalam bidang pendidikan, perempuan berperan penting dalam membentuk karakter generasi penerus.
Hal ini menunjukkan bahwa investasi pada pemberdayaan perempuan merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan daerah.
Kartini Modern sebagai Pilar Masa Depan
Peringatan Hari Kartini 2026 di Kota Bekasi menjadi refleksi bahwa perjuangan emansipasi belum selesai, melainkan terus berkembang mengikuti dinamika zaman.
Kartini modern tidak hanya diukur dari keberanian bersuara, tetapi juga dari kemampuan beradaptasi, berinovasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Dengan dukungan pemerintah, organisasi masyarakat, dan partisipasi aktif perempuan itu sendiri, harapan untuk menciptakan generasi yang lebih maju dan berdaya bukanlah hal yang mustahil.
Bekasi, melalui berbagai program dan kolaborasi, berupaya menjadikan perempuan sebagai pilar utama dalam pembangunan berbasis digital—sebuah langkah yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak di tengah perubahan global yang semakin cepat.
Baca Juga
Komentar