Saham Hermanto Tanoko (RISE ) Disunat Usai Bonus Jumbo Rp525 Miliar
Jakarta — Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi melansir harga teoretis saham PT Jaya Sukses Makmur Tbk (RISE) setelah emiten properti milik konglomerat Hermanto Tanoko tersebut menggelontorkan saham bonus dalam jumlah jumbo. Nilai saham bonus yang dibagikan mencapai Rp525,36 miliar, dengan rasio 25:12, sebuah aksi korporasi yang langsung menyedot perhatian pelaku pasar.
Keputusan pembagian saham bonus ini membuat harga saham RISE secara teknis mengalami penyesuaian signifikan. Pada akhir perdagangan cum date di pasar reguler, Senin (19/1/2026), saham RISE ditutup di level Rp9.700 per saham. Namun mulai Selasa (20/1/2026), harga saham tersebut masuk fase penyesuaian dengan harga teoretis yang jauh lebih rendah.
Berdasarkan perhitungan BEI, harga teoretis saham RISE dihitung menggunakan formula standar pasca-saham bonus. Dengan mengalikan harga saham lama Rp9.700 sebanyak 25 lembar dan membaginya dengan total saham baru (25 saham lama + 12 saham bonus), diperoleh harga teoretis sebesar Rp6.554,054 per saham. Setelah disesuaikan dengan fraksi harga perdagangan di sistem JATS, harga teoritis resmi ditetapkan menjadi Rp6.550 per saham.
Penyesuaian ini berlaku sebagai pedoman tawar-menawar di pasar reguler dan pasar negosiasi, sekaligus menjadi dasar penghitungan Indeks Harga Saham Bursa Efek Indonesia (IHSG) serta Indeks Harga Saham Individual (IHSI) RISE.
Penyesuaian Harga Dasar dan Dampaknya ke Indeks
Tak hanya harga perdagangan yang berubah, BEI juga menyesuaikan harga dasar saham RISE untuk keperluan penghitungan indeks. Dengan menggunakan formula penyesuaian indeks, harga dasar baru saham RISE ditetapkan pada level 110,067, dari sebelumnya 163.
Langkah ini lazim dilakukan untuk menjaga kesinambungan perhitungan indeks agar tidak terjadi distorsi akibat aksi korporasi non-tunai seperti saham bonus. Meski demikian, bagi investor ritel, penurunan harga nominal saham kerap menimbulkan persepsi psikologis yang berbeda.
“Secara nilai tidak ada yang berubah. Ini hanya penyesuaian matematis. Tapi dari sisi likuiditas dan psikologi pasar, efeknya bisa signifikan,” ujar seorang analis pasar modal yang enggan disebutkan namanya.
Saham Bonus Jumbo, Likuiditas Jadi Taruhan
RISE membagikan saham bonus dengan total 5,25 miliar lembar saham baru, masing-masing bernilai nominal Rp100 per saham. Dengan rasio 25:12, setiap pemegang 25 saham lama berhak memperoleh 12 saham bonus.
Dalam praktiknya, satu lot saham RISE (100 saham) akan menghasilkan tambahan 48 saham baru. Artinya, investor yang memiliki satu lot saham sebelum cum date akan mengantongi total 148 saham setelah distribusi saham bonus rampung.
Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, saham RISE bahkan sempat menyentuh level Rp10.050 per saham. Dengan harga tersebut, investor perlu menyiapkan dana sekitar Rp1 juta untuk membeli satu lot saham, yang kemudian “dibalas” dengan tambahan 48 saham baru.
Manajemen RISE menegaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar kosmetik harga, melainkan bagian dari strategi jangka panjang perseroan untuk memperkuat struktur permodalan dan meningkatkan likuiditas saham di pasar.
“Ini langkah strategis untuk memperkuat fondasi permodalan, membuka ruang yang lebih luas bagi ekspansi usaha, serta mendukung pengembangan proyek-proyek ke depan,” ujar Direktur Utama Jaya Sukses Makmur, Budi Agusti, dalam keterangan resmi.
Jadwal Lengkap Saham Bonus RISE
Pembagian saham bonus RISE merupakan hasil keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar pada 8 Januari 2026, dengan mengacu pada kinerja keuangan tahun buku 2024.
Adapun jadwal pembagian saham bonus ditetapkan sebagai berikut:
-
Cum saham bonus pasar reguler dan negosiasi: 19 Januari 2026
-
Ex saham bonus pasar reguler dan negosiasi: 20 Januari 2026
-
Cum saham bonus pasar tunai: 21 Januari 2026
-
Ex saham bonus pasar tunai: 22 Januari 2026
-
Recording date: 21 Januari 2026 pukul 16.00 WIB
-
Distribusi saham bonus: 9 Februari 2026
Pembagian saham bonus tersebut bersumber dari modal disetor lainnya sebesar Rp567,89 miliar, dengan total ekuitas perseroan per 31 Desember 2024 mencapai Rp2,6 triliun.
Peluang atau Risiko?
Di kalangan pelaku pasar, aksi saham bonus seringkali memicu perdebatan klasik. Di satu sisi, harga saham yang lebih “murah” secara nominal berpotensi meningkatkan minat beli investor ritel. Likuiditas perdagangan pun diharapkan meningkat seiring bertambahnya jumlah saham beredar.
Namun di sisi lain, sebagian analis mengingatkan bahwa saham bonus tidak serta-merta menciptakan nilai tambah instan. Tanpa pertumbuhan kinerja fundamental yang berkelanjutan, efek saham bonus bisa cepat memudar.
“Pasar biasanya euforia di awal. Tapi setelah ex date, yang menentukan tetap kinerja laba, arus kas, dan prospek bisnis ke depan,” kata seorang fund manager di Jakarta.
Bagi RISE, tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa aksi korporasi ini sejalan dengan pertumbuhan bisnis riil, bukan sekadar strategi finansial jangka pendek.
Fokus Investor Beralih ke Fundamental
Dengan harga teoretis baru di kisaran Rp6.550, saham RISE kini memasuki fase krusial. Investor akan mulai menakar ulang valuasi, prospek ekspansi, serta kemampuan perseroan menjaga pertumbuhan laba.
Apakah saham RISE benar-benar menjadi peluang emas pasca bonus jumbo, atau justru berpotensi menjadi jebakan harga bagi investor yang terlambat membaca arah pasar, akan sangat ditentukan oleh kinerja perseroan sepanjang 2026.
Yang jelas, aksi saham bonus Rp525 miliar ini telah menempatkan RISE sebagai salah satu emiten paling ramai diperbincangkan di Bursa Efek Indonesia pada awal tahun.
Baca Juga
Komentar