Saham BEKS Rp36 Melonjak 31,82%, Bank Banten Buka Suara soal Laba dan KUB Bank Jatim
JAKARTA —Saham PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) kembali mencuri perhatian pasar setelah bergerak sangat volatil. Dari penutupan Rp22 pada 25 September 2026, harga BEKS sempat melesat ke Rp29 pada 28 September 2026 atau naik 31,82% dalam sehari, sebelum kembali berfluktuasi dan ditutup di Rp26 pada 2 Oktober 2026.
Lonjakan tersebut memicu permintaan penjelasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kepada perseroan. Menanggapi hal itu, Bank Banten menyatakan lonjakan aktivitas perdagangan saham BEKS tidak berkaitan dengan fakta material yang belum disampaikan kepada publik.
Jawaban itu disampaikan melalui surat tertanggal 5 Oktober 2026, merespons surat BEI Nomor S-12532/BEI.PP1/09-2026 tertanggal 29 September 2026. Demikian dikutip dari keterbukaan informasi BEI pada Rabu (7/10/2026).
Berdasarkan keterbukaan informasi tersebut, pada periode lonjakan akhir September 2026, transaksi BEKS tercatat mencapai 590.445.600 saham dengan frekuensi 5.192 kali. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan perdagangan sebelumnya yang mencatat 6.003.700 saham dengan frekuensi 213 kali.
Pada periode yang sama, harga saham BEKS bergerak dari Rp22 menjadi Rp29. Kenaikan harga tersebut mencapai Rp7 atau setara 31,82%.
Bank Banten menyatakan tidak mengetahui informasi maupun fakta material yang dapat memengaruhi nilai efek perusahaan atau keputusan investasi pemodal dan belum diungkapkan kepada publik. Perseroan juga menyebut tidak mengetahui adanya aktivitas pemegang saham tertentu yang wajib dilaporkan berdasarkan ketentuan OJK mengenai kepemilikan atau perubahan kepemilikan saham perusahaan terbuka.
Selain itu, Bank Banten memastikan belum mempunyai rencana melakukan tindakan korporasi dalam waktu dekat. Pernyataan ini mencakup aksi yang dapat berdampak pada pencatatan saham perseroan di bursa.
“Dalam waktu 3 bulan mendatang Perseroan belum memiliki rencana untuk melaksanakan aksi korporasi,” demikian kutipan surat tanggapan perseroan.
Bank Banten turut menegaskan tidak terdapat informasi, fakta, atau kejadian penting lain yang bersifat material dan berpotensi memengaruhi harga saham maupun kelangsungan hidup perseroan yang belum disampaikan kepada publik. Untuk perubahan kepemilikan saham, perseroan menyatakan dalam jangka pendek tidak terinformasi adanya rencana perubahan kepemilikan dari pemegang saham utama maupun pengendali.
Volatilitas BEKS Masih Tinggi
Pergerakan harga BEKS dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan volatilitas yang tinggi. Setelah lonjakan ke Rp29, saham BEKS turun 6,90% ke Rp27 pada 29 September 2026 dengan volume sekitar 289,3 juta saham.
Pada 30 September 2026, BEKS kembali turun 7,41% menjadi Rp25. Kemudian pada 1 Oktober 2026, saham naik 8% ke Rp27 dengan volume sekitar 323,61 juta saham, sebelum ditutup Rp36 pada 5 Oktober 2026 Naik melonjak tinggi.
Jika dibandingkan posisi 25 September 2026, BEKS masih mencatat kenaikan sekitar 18,2% hingga penutupan 2 Oktober 2026. Pola tersebut menunjukkan risiko koreksi tetap terbuka bagi investor yang masuk setelah harga melonjak.
**Laba Semester I 2026 Naik Tajam**
Di sisi fundamental, Bank Banten menunjukkan perbaikan kinerja pada semester I 2026. Laporan keuangan kuartal II 2026 menunjukkan BEKS membukukan laba bersih Rp21,4 miliar, meningkat sekitar 239,7% dibandingkan Rp6,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan juga meningkat dari Rp382,1 miliar menjadi sekitar Rp395 miliar, sementara EBITDA naik sekitar 238,1% menjadi Rp49,7 miliar.
Meski demikian, laba Rp21,4 miliar tersebut masih relatif kecil dibandingkan total aset Bank Banten yang mencapai sekitar Rp10,4 triliun. Pada semester I 2026, ROA tercatat sekitar 0,21% dan ROE sekitar 1,12%.
Dari sisi neraca, kredit yang disalurkan mencapai sekitar Rp5,9 triliun, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) berada di kisaran Rp6,8 triliun. Perseroan juga menyebut kualitas kredit terus membaik dengan NPL berada di bawah 5%.
Bank Banten sebelumnya menargetkan pertumbuhan aset sekitar 20% menjadi Rp12 triliun pada akhir 2026 serta laba bersih Rp75 miliar. Perseroan juga menargetkan NPL gross dapat ditekan ke kisaran 3%–3,5%.
KUB Bank Jatim Jadi Penopang
Perubahan besar pada Bank Banten terjadi setelah perseroan resmi masuk dalam Kelompok Usaha Bank (KUB) Bank Jatim. Berdasarkan informasi resmi Bank Banten, OJK menerbitkan surat penegasan persetujuan efektif struktur KUB pada 15 Desember 2025.
Dalam struktur tersebut, Bank Jatim bertindak sebagai induk KUB dan pemegang saham pengendali setelah Pemerintah Provinsi Banten. Bank Jatim membeli saham Bank Banten melalui pasar sekunder pada November 2025, dan struktur tersebut kemudian efektif sebagai KUB.
Bagi Bank Banten, skema itu membawa potensi sinergi dalam permodalan, likuiditas, tata kelola, manajemen risiko, layanan perbankan, teknologi informasi, digitalisasi, hingga pengembangan produk.
Catatan Lama yang Belum Boleh Dilupakan
Di balik perbaikan tersebut, investor tetap perlu mencermati catatan lama. Pada September 2025, Bank Banten masih memiliki defisit sekitar Rp2,82 triliun akibat akumulasi kerugian operasional tahun-tahun sebelumnya, termasuk dampak penyisihan cadangan kerugian penurunan nilai atau CKPN.
Dalam penjelasannya kepada BEI, Bank Banten menyatakan akan meningkatkan efisiensi operasional, fokus pada segmen yang profitable, serta mempertimbangkan opsi penambahan modal melalui rights issue atau strategic investor.
Dengan demikian, perbaikan laba semester I 2026 merupakan perkembangan positif, tetapi keberlanjutannya masih perlu diuji pada laporan keuangan berikutnya. Beberapa indikator yang perlu dicermati antara lain pertumbuhan kredit, DPK, NPL, NIM, CKPN, ROA, ROE, CAR, laba bersih, kualitas aset, serta biaya operasional.
Bank Banten sendiri menyatakan proses transformasi dilakukan melalui perbaikan tata kelola, peningkatan sumber daya manusia, dan pengelolaan bisnis. Perseroan juga menyebut sinergi KUB Bank Jatim memberikan dukungan pada aspek permodalan, likuiditas, tata kelola, manajemen risiko, layanan, dan digitalisasi.
Pasar kini sedang menguji apakah kenaikan harga BEKS mendahului fundamental yang mulai membaik, atau justru sudah berlari terlalu jauh dibandingkan kemampuan bisnis perseroan saat ini. Artikel ini bukan rekomendasi investasi.
Baca Juga
Komentar