Keponakan Prabowo Rahayu Saraswati, Raup Rp53 Miliar! Jual 48,97 Juta Saham TRIN Picu Sorotan Pasar
Jakarta - Pasar modal Indonesia kembali diramaikan oleh pergerakan signifikan dari salah satu tokoh publik. Rahayu Saraswati Djojohadikusumo tercatat melakukan aksi divestasi besar terhadap saham TRIN milik PT Perintis Triniti Properti Tbk. Keponakan dari Presiden Indonesia, Prabowo Subianto tersebut diketahui melepas 48,97 juta lembar saham melalui serangkaian transaksi yang berlangsung sejak akhir 2025 hingga awal 2026.
Aksi divestasi yang dilakukan Sara sapaan akrabnya menjadi perhatian pelaku pasar. Selain karena jumlah saham yang dilepas cukup besar, langkah ini juga menghasilkan dana segar mencapai Rp53,52 miliar. Pergerakan saham yang terjadi setelah transaksi tersebut pun memunculkan berbagai spekulasi mengenai strategi investasi yang sedang dijalankan oleh keluarga bisnis besar tersebut.
Transaksi Bertahap dalam Tujuh Gelombang
Berdasarkan laporan transaksi di pasar modal, penjualan saham oleh Sara dilakukan secara bertahap dalam tujuh kali transaksi. Proses penjualan dimulai pada 19 Desember 2025 dan berlanjut hingga 5 Februari 2026.
Pada transaksi pertama tanggal 19 Desember 2025, Sara melepas 10 ribu saham dengan harga Rp850 per lembar sehingga menghasilkan dana sekitar Rp8,5 juta. Meski jumlahnya relatif kecil, transaksi ini menjadi pembuka rangkaian divestasi yang kemudian berlangsung dalam skala lebih besar.
Gelombang kedua terjadi pada 30 Desember 2025, ketika Sara menjual 350 ribu saham dengan harga Rp1.135 per saham atau senilai sekitar Rp397,25 juta.
Memasuki tahun baru, tepatnya 2 Januari 2026, ia kembali melepas 250 ribu lembar saham pada harga Rp1.250 per saham dengan nilai transaksi sekitar Rp312,5 juta.
Transaksi berikutnya pada 5 Januari 2026 menunjukkan peningkatan volume yang signifikan. Saat itu, Sara menjual 1,3 juta saham dengan harga Rp1.395 per lembar yang menghasilkan dana sekitar Rp1,81 miliar.
Dua hari berselang, tepatnya 7 Januari 2026, ia kembali melakukan divestasi dengan melepas 400 ribu saham pada harga Rp1.875 per saham. Dari transaksi tersebut, Sara memperoleh sekitar Rp750 juta.
Aksi jual masih berlanjut pada 20 Januari 2026, ketika Sara menjual 150 ribu lembar saham dengan harga Rp1.650 per saham senilai Rp247,5 juta.
Namun transaksi paling besar terjadi pada 5 Februari 2026. Pada tanggal tersebut, Sara melepas 46.511.628 saham sekaligus dengan harga Rp1.075 per saham. Transaksi jumbo ini saja menghasilkan dana sekitar Rp50 miliar.
Jika seluruh transaksi dijumlahkan, total saham yang dilepas mencapai 48.971.628 lembar dengan nilai keseluruhan sekitar Rp53,52 miliar.
Kepemilikan Saham Berkurang
Setelah menyelesaikan seluruh transaksi tersebut, kepemilikan saham Sara di perusahaan properti itu mengalami penurunan cukup signifikan.
Melalui entitas investasinya Raksaka Satya Devya, Sara kini tercatat memiliki 133,08 juta saham atau sekitar 2,92 persen dari total saham perusahaan. Jumlah ini berkurang dari sebelumnya 182,05 juta saham atau sekitar 4 persen.
Artinya, kepemilikan saham Sara menyusut sekitar 1,08 persen setelah rangkaian aksi divestasi tersebut.
Menariknya, sebelum melakukan penjualan, Sara diketahui sempat membeli saham TRIN dalam jumlah besar pada 16 Desember 2025. Saat itu ia mengakumulasi 182,05 juta saham dengan harga sekitar Rp200 per lembar, sehingga total nilai investasi awalnya mencapai Rp36,41 miliar.
Dengan menjual sebagian sahamnya pada harga yang jauh lebih tinggi, Sara berhasil mencatatkan keuntungan sementara sekitar Rp17,11 miliar dari transaksi tersebut.
Kepemilikan Lewat Dua Entitas
Selain melalui Raksaka Satya Devya, Sara juga memiliki saham TRIN melalui perusahaan lain, yakni Rada Saraswati Surya.
Lewat entitas tersebut, ia tercatat menguasai sekitar 45.514.573 saham atau sekitar 1 persen dari total saham perusahaan.
Dengan demikian, jika digabungkan dari kedua entitas tersebut, Sara saat ini masih menguasai sekitar 178,6 juta saham atau setara 3,92 persen dari seluruh saham perusahaan.
Angka ini menunjukkan bahwa meskipun telah melakukan divestasi besar, Sara tetap menjadi salah satu pemegang saham signifikan di perusahaan properti tersebut.
Pergerakan Saham TRIN Tertekan
Sementara itu, pergerakan saham TRIN di pasar menunjukkan tren yang cukup menantang dalam beberapa waktu terakhir.
Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, saham perusahaan tersebut berada di level Rp760 per saham. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 75 poin atau sekitar 8,98 persen dibanding perdagangan sebelumnya.
Jika dilihat sejak awal tahun 2026, tekanan terhadap saham TRIN bahkan lebih terasa. Dibandingkan dengan harga penutupan pada 2 Januari 2026 yang berada di level Rp1.250, saham ini telah mengalami koreksi sekitar 490 poin atau setara 39,20 persen.
Penurunan tersebut membuat saham TRIN menjadi salah satu emiten sektor properti yang mendapat perhatian investor dalam beberapa bulan terakhir.
Strategi Investasi atau Sinyal Pasar?
Aksi divestasi yang dilakukan oleh Sara memunculkan berbagai interpretasi di kalangan pelaku pasar. Sebagian analis menilai langkah tersebut merupakan strategi investasi yang wajar, terutama setelah harga saham sempat mengalami kenaikan signifikan dari harga akumulasi awal.
Namun ada juga yang menilai bahwa pergerakan saham dan aksi jual besar dari pemegang saham penting sering kali memicu sentimen pasar tersendiri.
Meski demikian, Sara sendiri masih mempertahankan sebagian besar kepemilikan sahamnya. Hal ini menunjukkan bahwa ia masih memiliki eksposur terhadap perusahaan properti tersebut.
Bagi investor pasar modal, dinamika seperti ini menjadi pengingat bahwa pergerakan saham sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor mulai dari strategi investor besar, kondisi industri, hingga sentimen pasar secara keseluruhan.
Yang jelas, langkah divestasi bernilai puluhan miliar rupiah ini telah menempatkan nama Sara kembali menjadi sorotan dalam dinamika pasar modal Indonesia.
Baca Juga
Komentar