Ibas Ajak Pelaku Pasar Modal Bangun Kepercayaan Publik untuk Perkuat Ekonomi Indonesia
Jakarta – Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menegaskan pentingnya membangun kepercayaan publik sebagai modal utama dalam memperkuat perekonomian nasional. Pesan tersebut disampaikan saat membuka Diskusi Kebangsaan bertajuk "Membangun Patriotisme Ekonomi Melalui Etika, Integritas, dan Kepercayaan Publik: Dari Investor Menjadi Pemilik Masa Depan Indonesia" yang berlangsung di Kompleks MPR RI, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Dalam forum yang dihadiri pelaku pasar modal, investor, akademisi, praktisi, dan anggota DPR RI tersebut, Ibas menilai dunia saat ini tengah menghadapi perubahan besar akibat dinamika geopolitik, persaingan ekonomi antarnegara, serta perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Kondisi tersebut membuat kepercayaan menjadi faktor paling menentukan dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.
Menurut Ibas, era geoekonomi modern telah menggeser bentuk persaingan global. Jika sebelumnya kekuatan negara diukur dari kemampuan militer, kini pertarungan utama terjadi pada penguasaan modal, data, teknologi, dan investasi. Dalam situasi tersebut, kepercayaan menjadi aset strategis yang tidak kalah penting dibandingkan sumber daya alam maupun kekuatan finansial.
Ia menjelaskan bahwa kepercayaan memiliki pengaruh langsung terhadap keputusan investasi. Ketika tingkat kepercayaan meningkat, arus investasi akan tumbuh dan memberikan dampak positif terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas, serta percepatan pertumbuhan ekonomi nasional.
Mengutip pandangan ekonom peraih Nobel Robert Shiller, Ibas menyampaikan bahwa ekonomi tidak hanya berdiri di atas modal, tetapi juga dibangun melalui kepercayaan. Oleh karena itu, menjaga kredibilitas institusi dan konsistensi kebijakan menjadi faktor penting dalam memperkuat daya tarik investasi Indonesia.
Dalam paparannya, Ibas menilai Indonesia memiliki berbagai keunggulan yang menjadikannya berpotensi menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G20, Indonesia didukung oleh jumlah penduduk yang besar, bonus demografi, pasar domestik yang kuat, serta sumber daya alam yang melimpah.
Selain itu, stabilitas fiskal dan moneter yang selama ini dijaga pemerintah menjadi modal penting dalam menghadapi ketidakpastian global. Ketahanan ekonomi Indonesia yang telah teruji menghadapi berbagai krisis dinilai menjadi bukti kuat bahwa fondasi pembangunan nasional terus berkembang ke arah yang lebih baik.
Ibas menegaskan bahwa pembangunan ekonomi harus tetap berpedoman pada tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Pertumbuhan ekonomi, menurutnya, tidak boleh hanya diukur melalui angka statistik, tetapi juga harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas dan berkeadilan.
Dalam konteks pasar modal, Ibas menyebut bahwa bursa dan aktivitas investasi merupakan cerminan tingkat kepercayaan terhadap masa depan perekonomian Indonesia. Ia menilai perkembangan pasar modal nasional selama beberapa tahun terakhir menunjukkan daya tahan yang kuat meskipun menghadapi berbagai tantangan global.
Menurutnya, indikator investasi dan peringkat kredit internasional menjadi salah satu ukuran yang digunakan dunia untuk menilai tingkat kepercayaan terhadap suatu negara. Karena itu, penerapan tata kelola yang baik atau good governance harus terus diperkuat di seluruh sektor ekonomi dan keuangan.
Ibas menekankan bahwa transparansi, akuntabilitas, serta integritas merupakan syarat mutlak untuk menjaga kepercayaan investor. Good governance bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang harus diterapkan secara konsisten oleh seluruh pemangku kepentingan agar pasar modal Indonesia semakin kredibel dan kompetitif.
Dalam kesempatan tersebut, Ibas juga mengingatkan bahwa sejarah ekonomi dunia menunjukkan setiap krisis selalu menghadirkan peluang baru bagi pihak yang memiliki kesiapan dan visi jangka panjang. Investor yang memahami fundamental ekonomi akan lebih mampu bertahan dan memanfaatkan momentum ketika kondisi pasar bergejolak.
Mengutip investor legendaris Warren Buffett, ia mengajak pelaku pasar untuk melihat peluang secara rasional dan tidak terjebak dalam kepanikan sesaat. Investasi, menurutnya, merupakan perjalanan jangka panjang yang membutuhkan disiplin, konsistensi, serta pemahaman mendalam terhadap nilai suatu aset.
Ia juga menegaskan pentingnya membedakan investasi dengan spekulasi sebagaimana diajarkan Benjamin Graham. Investor harus mengedepankan analisis dan pertimbangan yang matang, sementara perilaku spekulatif yang berlebihan berpotensi menciptakan ketidakstabilan dan mengurangi kepercayaan pasar.
Lebih jauh, Ibas menilai investor memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional. Investor bukan sekadar pencari keuntungan, tetapi juga bagian dari pihak yang ikut menentukan arah pembangunan ekonomi Indonesia di masa depan. Oleh sebab itu, aktivitas investasi harus selalu berpijak pada etika dan tanggung jawab.
Menurutnya, patriotisme ekonomi dapat diwujudkan ketika aktivitas investasi tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga berkontribusi dalam memperkuat ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
Sementara itu, para peserta diskusi menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi pasar modal Indonesia, terutama terkait kepastian hukum, konsistensi regulasi, transparansi kebijakan, dan efektivitas komunikasi publik. Faktor-faktor tersebut dinilai memiliki pengaruh besar terhadap tingkat kepercayaan investor domestik maupun global.
Para akademisi, praktisi, dan investor juga mendorong percepatan reformasi pasar modal, penguatan literasi keuangan, peningkatan kualitas investor, serta penyederhanaan berbagai proses pendanaan seperti IPO dan right issue. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam memperebutkan arus investasi global.
Menutup diskusi, Ibas menyampaikan optimisme bahwa Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia apabila seluruh elemen bangsa mampu menjadikan etika sebagai fondasi, integritas sebagai karakter, dan kepercayaan sebagai budaya bersama. Dengan semangat patriotisme ekonomi, Indonesia diyakini mampu membangun masa depan yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat.
Baca Juga
Komentar