Investor Kakap ANTM Raup Untung 95% YTD, MIND ID & Dana Pensiun Asing Dominasi Ratusan Juta Saham
Pena Insight
JAKARTA, 7 Juli 2025 — Di tengah reli harga nikel dan emas global, deretan investor kakap PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) tengah menikmati puncak kejayaan. Harga saham emiten tambang milik negara ini melonjak drastis 94,71% secara year-to-date (ytd) hingga menembus level Rp3.050 per lembar pada pekan pertama Juli 2025. Kapitalisasi pasar dan dividen yang menggiurkan menjadikan ANTM sebagai salah satu saham dengan performa terbaik tahun ini di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Reli harga saham ini turut mempertebal keuntungan para pemegang saham utama. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) hingga April 2025, induk holding tambang BUMN, Mining Industry Indonesia (MIND ID), masih menjadi pemegang saham terbesar dengan kepemilikan sebesar 15,62 miliar lembar atau setara 65%. Namun yang paling mencolok adalah dominasi investor institusi asing dan dana pensiun, seperti BNY Mellon (atas nama EPF Malaysia) dengan 418,23 juta saham, UBS AG London 280,22 juta lembar, serta dua entitas BPJS Ketenagakerjaan yang masing-masing menggenggam 258,30 juta dan 193,54 juta saham.
Sentimen positif pasar terhadap ANTM tak lepas dari ekspektasi kuat terhadap proyek hilirisasi nikel dan ekosistem kendaraan listrik (EV) yang sedang digarap melalui Indonesia Battery Corporation (IBC). Harga nikel dunia memang sempat tertekan, tetapi proyek strategis nasional dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dinilai tetap menjadi game changer jangka menengah-panjang bagi emiten ini.
Tidak hanya mengandalkan prospek bisnis jangka panjang, Antam juga memanjakan investornya dengan dividen besar. Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 12 Juni 2025 lalu mengesahkan pembagian dividen 100% dari laba tahun buku 2024. Investor berhak menerima Rp151,77 per lembar saham — yield dividen sebesar 4,9% terhadap harga saat ini, atau hampir dua kali lipat dari bunga deposito bank BUKU IV.
Namun, reli ini tak sepenuhnya tanpa risiko. Harga nikel global mengalami koreksi 18% sepanjang kuartal II/2025. Jika tren ini berlanjut, margin keuntungan dari segmen ferronickel Antam dapat tergerus. Tekanan lain datang dari proyek smelter nikel Halmahera yang hingga kini belum menunjukkan progres signifikan. Evaluasi tata kelola perusahaan pun kembali menguat, terutama pasca-digantinya Direktur Utama Nicolas D. Kanter oleh Achmad Ardianto pada RUPST 2025, yang menimbulkan tanya atas keberlanjutan strategi ekspansi jangka panjang.
Analis dari tiga broker lokal terkemuka memberikan target harga konsensus di kisaran Rp3.600–Rp3.800. Mereka menilai valuasi Antam yang saat ini diperdagangkan di sekitar 12 kali price to earnings ratio (PE) 2025 masih “murah”, apalagi jika dividen 100% dipertahankan dalam beberapa tahun ke depan. Namun mereka menekankan pentingnya disiplin dalam belanja modal (capex), terutama untuk proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) nikel.
Secara makro, posisi saham ANTM yang didominasi oleh investor institusional besar menunjukkan karakter saham ini sebagai aset “yield play” dengan kualitas fundamental yang relatif terjaga. Kombinasi antara dividen besar, prospek hilirisasi, dan dukungan pemerintah menjadikan ANTM semakin dilirik, terutama oleh institusi global yang mencari eksposur terhadap transisi energi di Asia Tenggara.
Jika pemerintah konsisten dengan agenda hilirisasi dan komoditas global kembali stabil, bukan tidak mungkin saham ini akan kembali mencetak rekor baru. Namun bagi investor, kehati-hatian tetap dibutuhkan, terutama pada dinamika pasar global dan implementasi proyek strategis yang masih penuh ketidakpastian.
Baca Juga
Komentar