IHSG Diprediksi Lanjutkan Rebound Hari Ini, Saham RATU, BMRI, dan HRTA Direkomendasikan Analis
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Rabu (10/6/2026) setelah mencatat lonjakan signifikan pada sesi sebelumnya. Sejumlah analis menilai perbaikan sentimen pasar, penguatan nilai tukar rupiah, serta kebijakan moneter yang lebih agresif dari Bank Indonesia menjadi katalis utama yang mendorong optimisme investor.
IHSG pada perdagangan sebelumnya ditutup melonjak 404 poin atau 7,57 persen ke level 5.722. Penguatan tersebut menjadi salah satu rebound terbesar dalam beberapa waktu terakhir setelah pasar mengalami tekanan tajam selama beberapa pekan.
Menurut riset harian dari sekuritas, pergerakan IHSG hari ini masih berpotensi bergerak positif dengan area support berada di level 5.630 dan resistance di kisaran 5.850. Secara teknikal, posisi indeks yang sebelumnya berada pada area oversold membuka peluang penguatan lanjutan apabila sentimen positif tetap terjaga.
Salah satu faktor yang mendorong pemulihan pasar adalah keputusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.
Kebijakan tersebut dinilai berhasil memberikan sinyal kuat kepada pasar bahwa otoritas moneter berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global. Penguatan rupiah yang terjadi setelah keputusan tersebut turut meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik.
Selain itu, munculnya wacana dukungan likuiditas melalui program buyback saham BUMN juga dianggap mampu meningkatkan minat beli pelaku pasar. Langkah tersebut dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas pasar modal sekaligus mengurangi tekanan jual yang sempat mendominasi perdagangan dalam beberapa hari terakhir.
Penguatan IHSG juga mendapat dukungan dari sentimen global. Bursa saham Amerika Serikat menunjukkan pergerakan yang relatif stabil dengan indeks utama masih mampu bertahan di zona positif meskipun terjadi fluktuasi pada sektor teknologi.
Selain faktor domestik, penurunan harga minyak dunia ke bawah level US$90 per barel juga menjadi sentimen yang diperhatikan investor.
Harga energi yang lebih rendah berpotensi mengurangi tekanan inflasi serta memperbaiki ekspektasi biaya produksi bagi berbagai sektor industri. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi pertumbuhan laba emiten dalam beberapa kuartal mendatang.
Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor sejumlah produk energi, stabilitas harga minyak juga berkontribusi terhadap pengendalian defisit transaksi berjalan dan tekanan terhadap nilai tukar.
Analis menilai kombinasi penguatan rupiah, stabilitas harga komoditas, dan dukungan kebijakan pemerintah dapat menjadi fondasi bagi pemulihan pasar saham dalam jangka pendek.
Di tengah potensi lanjutan rebound IHSG, sejumlah saham direkomendasikan untuk dicermati investor.
Salah satu saham yang menjadi pilihan utama adalah PT Raharja Energi Cepu Tbk atau RATU.
Analis merekomendasikan beli saham RATU dengan target harga berada pada rentang Rp4.810 hingga Rp5.500 per saham.
Secara teknikal, saham RATU dinilai masih memiliki momentum penguatan setelah berhasil mempertahankan area support penting. Volume transaksi yang meningkat juga menunjukkan minat beli investor masih cukup kuat.
Sektor energi yang mulai kembali diminati pasar turut menjadi faktor pendukung bagi prospek pergerakan saham ini dalam jangka pendek.
Saham berikutnya yang direkomendasikan adalah Bank Mandiri dengan kode saham BMRI.
BMRI direkomendasikan beli dengan target harga berada di kisaran Rp4.150 hingga Rp4.220 per saham.
Sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia, BMRI dinilai memiliki fundamental yang kuat serta posisi strategis dalam mendukung pembiayaan berbagai program pembangunan nasional.
Kenaikan saham sektor perbankan pada perdagangan sebelumnya menunjukkan investor mulai kembali masuk ke saham-saham berkapitalisasi besar yang sempat mengalami koreksi dalam beberapa pekan terakhir.
Selain faktor fundamental, perbaikan sentimen terhadap sektor keuangan pasca keputusan suku bunga Bank Indonesia juga menjadi katalis tambahan bagi saham perbankan nasional.
Saham lain yang direkomendasikan adalah PT Hartadinata Abadi Tbk atau HRTA.
Target harga yang diberikan analis berada pada rentang Rp2.170 hingga Rp2.230 per saham.
HRTA dinilai memiliki peluang menarik seiring stabilisasi harga emas global dan meningkatnya minat investor terhadap instrumen berbasis logam mulia di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Perusahaan juga memiliki posisi yang cukup kuat di industri perhiasan dan perdagangan emas nasional sehingga dianggap mampu mempertahankan pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.
Meski IHSG berhasil mencatat lonjakan signifikan, investor asing masih membukukan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp2,44 triliun pada perdagangan sebelumnya.
Aksi jual terbesar tercatat pada saham Bank Central Asia (BBCA) sebesar Rp490,46 miliar, disusul Bank Rakyat Indonesia (BBRI) senilai Rp476,87 miliar serta BMRI sebesar Rp267,76 miliar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian investor asing masih melakukan penyesuaian portofolio di tengah tingginya volatilitas pasar.
Namun demikian, masuknya dana domestik dalam jumlah besar berhasil menahan tekanan jual sehingga IHSG tetap mampu ditutup menguat signifikan.
Penguatan IHSG kemarin ditopang hampir seluruh sektor saham.
Sektor energi dan material dasar menjadi pemimpin kenaikan dengan penguatan lebih dari 9 persen. Sementara sektor industri naik 8,55 persen, sektor keuangan menguat 7,13 persen, dan sektor infrastruktur bertambah 7,37 persen.
Saham-saham yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu juga menjadi motor penggerak pasar.
Beberapa emiten seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk, PT Barito Pacific Tbk, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk, serta PT Barito Renewables Energy Tbk mencatat penguatan signifikan.
Di sisi lain, sejumlah saham lapis kedua bahkan berhasil menyentuh batas auto reject atas (ARA), menandakan tingginya minat spekulatif investor terhadap peluang rebound pasar.
Pelaku pasar saat ini menunggu sejumlah data ekonomi domestik yang dapat memengaruhi arah pergerakan pasar dalam beberapa hari ke depan.
Data cadangan devisa, indeks kepercayaan konsumen, serta penjualan ritel menjadi indikator yang akan diperhatikan investor untuk mengukur kekuatan pemulihan ekonomi nasional.
Jika sentimen positif tetap terjaga dan rupiah mampu mempertahankan penguatannya, IHSG berpeluang melanjutkan rebound menuju area resistance 5.850.
Meski demikian, investor tetap disarankan menerapkan manajemen risiko yang disiplin mengingat volatilitas pasar masih tergolong tinggi dan dipengaruhi berbagai faktor global maupun domestik.
Baca Juga
Komentar