IHSG Berpeluang Tembus 7.300 Hari Ini, Rekomendasikan Saham BBNI, BBCA, UNVR, ISAT, dan ASII Pilihan Utama
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Kamis (9/4/2026), seiring kombinasi sentimen global yang semakin kondusif dan sinyal teknikal yang menguat. Optimisme pelaku pasar meningkat setelah meredanya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta penurunan tajam harga minyak dunia yang menjadi katalis utama pergerakan indeks.
Pada penutupan perdagangan Rabu (8/4/2026), IHSG mencatat lonjakan signifikan sebesar 4,42% ke level 7.279,21. Kenaikan tajam ini menjadi salah satu reli harian terbesar dalam beberapa waktu terakhir, sekaligus menandakan kembalinya minat beli investor ke pasar saham domestik.
Analis menilai, momentum ini masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek, didukung oleh kombinasi faktor global dan domestik yang relatif stabil.
Sentimen Global Reda, Pasar Beralih ke Mode Risk-On
Penguatan IHSG tidak lepas dari membaiknya sentimen global. Kabar mengenai gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik geopolitik yang sebelumnya menekan aset berisiko.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyebut bahwa meredanya konflik tersebut mendorong pelaku pasar kembali masuk ke instrumen saham.
“IHSG rebound dipicu optimisme gencatan senjata dan koreksi signifikan harga minyak,” ujarnya dalam riset harian, Rabu (8/4/2026).
Selain itu, pasar global juga menunjukkan penguatan serempak. Bursa saham di kawasan Asia dan Eropa mayoritas ditutup di zona hijau. Sementara itu, Wall Street mencatat reli kuat dengan kenaikan lebih dari 2,5% di indeks utamanya.
Kondisi ini memperkuat sentimen risk-on, di mana investor cenderung beralih dari aset aman seperti emas dan obligasi ke aset berisiko seperti saham.
Harga Minyak Anjlok Tajam, Tekan Risiko Inflasi Global
Faktor lain yang turut menopang penguatan IHSG adalah penurunan drastis harga minyak mentah dunia. Pada sesi perdagangan sebelumnya, harga minyak jenis WTI anjlok 16,41% ke level US$ 94,41 per barel, sementara Brent turun 13,29% ke US$ 94,75 per barel.
Penurunan ini memberikan angin segar bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Harga minyak yang lebih rendah berpotensi menekan inflasi, mengurangi beban subsidi energi, serta meningkatkan daya beli masyarakat.
Bagi emiten, khususnya sektor manufaktur dan konsumsi, penurunan biaya energi juga dapat meningkatkan margin keuntungan.
“Turunnya harga minyak menjadi katalis positif karena mengurangi tekanan inflasi dan meningkatkan ekspektasi stabilitas ekonomi,” tulis analis dalam laporan riset.
Sinyal Teknikal Kuat, IHSG Berpeluang Uji Resistance
Dari sisi teknikal, indikator menunjukkan tren yang semakin positif. IHSG berhasil menembus beberapa level penting yang sebelumnya menjadi resistance jangka pendek.
Beberapa indikator yang menjadi perhatian antara lain:
-
MACD histogram bergerak di zona positif, menandakan momentum bullish
-
Volume transaksi meningkat, mencerminkan akumulasi oleh investor
-
Stochastic RSI menunjukkan tren naik, mengindikasikan potensi lanjutan penguatan
-
IHSG telah menembus moving average (MA) 5 dan MA20, yang menjadi sinyal awal pembalikan tren
Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan akan menguji level resistance di kisaran 7.300 hingga 7.350 dalam waktu dekat.
Adapun level teknikal penting hari ini meliputi:
-
Support: 7.200
-
Pivot: 7.300
-
Resistance: 7.350 – 7.400
Jika mampu bertahan di atas level pivot, peluang penguatan lanjutan semakin terbuka lebar.
Rupiah Menguat, Stabilitas Ekonomi Tetap Terjaga
Dari sisi makroekonomi domestik, nilai tukar rupiah juga menunjukkan penguatan. Pada penutupan perdagangan terakhir, rupiah menguat 0,55% ke posisi Rp 17.012 per dolar AS.
Penguatan rupiah ini menjadi sinyal positif bagi investor asing, karena mencerminkan stabilitas pasar keuangan Indonesia di tengah dinamika global.
Sementara itu, cadangan devisa Indonesia tercatat turun menjadi US$ 148,2 miliar pada Maret 2026, dari sebelumnya US$ 151,9 miliar pada Februari 2026. Meski mengalami penurunan, posisi ini masih tergolong aman.
Bank Indonesia menyebut bahwa cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan sekitar enam bulan impor atau jauh di atas standar kecukupan internasional.
Hal ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan mampu menghadapi tekanan eksternal.
Saham-Saham Rekomendasi Hari Ini
Seiring dengan proyeksi penguatan IHSG, analis merekomendasikan sejumlah saham unggulan yang berpotensi mencatat kinerja positif pada perdagangan hari ini.
Berikut beberapa saham pilihan:
-
BBNI (Bank Negara Indonesia)
Berpotensi menguat seiring sentimen positif sektor perbankan dan arus dana masuk ke saham blue chip. -
BBCA (Bank Central Asia)
Tetap menjadi favorit investor karena fundamental kuat dan stabilitas kinerja. -
UNVR (Unilever Indonesia)
Diuntungkan oleh potensi peningkatan konsumsi domestik. -
ISAT (Indosat Ooredoo Hutchison)
Prospek sektor telekomunikasi yang masih solid menjadi daya tarik tersendiri. -
ASII (Astra International)
Mendapat sentimen positif dari pemulihan ekonomi dan penurunan harga komoditas energi.
Saham-saham tersebut dinilai memiliki likuiditas tinggi dan fundamental yang kuat, sehingga cocok untuk strategi jangka pendek maupun menengah.
Strategi Investor: Momentum Jangka Pendek Masih Menarik
Dengan berbagai sentimen positif yang ada, pelaku pasar disarankan untuk tetap memanfaatkan momentum penguatan IHSG. Namun demikian, strategi selektif tetap diperlukan mengingat volatilitas pasar global masih berpotensi terjadi sewaktu-waktu.
Investor jangka pendek dapat memanfaatkan momentum teknikal, sementara investor jangka panjang disarankan untuk fokus pada saham dengan fundamental kuat dan prospek bisnis yang jelas.
Selain itu, perkembangan geopolitik global, kebijakan suku bunga, serta pergerakan harga komoditas tetap menjadi faktor yang perlu dicermati.
Kesimpulan: Peluang Terbuka, Tapi Tetap Waspada
IHSG memiliki peluang besar untuk melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini, didorong oleh sentimen global yang membaik, penurunan harga minyak, serta indikator teknikal yang solid.
Namun, pelaku pasar tetap perlu mencermati dinamika eksternal yang dapat memengaruhi arah pergerakan indeks secara tiba-tiba.
Dengan strategi yang tepat dan pemilihan saham yang selektif, momentum saat ini dapat dimanfaatkan untuk meraih peluang keuntungan di pasar saham.
Baca Juga
Komentar