Harga Minyak Dunia Tembus USD100 per Barel, Dampak Konflik AS–Iran Guncang Pasar Global
Jakarta — Harga minyak dunia melonjak tajam dan menembus USD100 per barel pada Minggu (8/3/2026), untuk pertama kalinya sejak Juli 2022. Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus memengaruhi pasar energi global.
Laporan media internasional NBC News menyebut lonjakan harga minyak juga berdampak pada pasar saham Amerika Serikat. Kontrak berjangka S&P 500 turun sekitar 1,5 persen, sementara kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average merosot hingga 800 poin. Di sisi lain, kontrak berjangka Nasdaq-100 juga melemah sekitar 1,2 persen.
Penurunan tersebut mengindikasikan bahwa pasar saham di Amerika Serikat kemungkinan akan melanjutkan tren pelemahan yang terjadi sepanjang pekan sebelumnya.
Dalam sepekan terakhir, harga minyak mentah dilaporkan telah melonjak hingga 35 persen. Kenaikan ini turut mendorong harga bahan bakar di Amerika Serikat, dengan rata-rata harga bensin nasional kini melampaui USD3,45 per galon.
Konflik yang terus berlangsung dilaporkan telah merusak sejumlah infrastruktur minyak di kawasan Timur Tengah, sehingga memaksa beberapa perusahaan penyulingan untuk mengurangi produksi.
Perusahaan minyak milik negara Kuwait dilaporkan mulai memangkas produksi. Sementara perusahaan energi milik negara di Uni Emirat Arab menyatakan tengah “mengelola” sebagian produksinya, yang mengindikasikan kemungkinan pengurangan output.
Situasi semakin kompleks karena jalur strategis energi dunia, Selat Hormuz, di wilayah selatan Iran, saat ini dilaporkan sulit dilalui oleh sebagian besar kapal tanker minyak dan gas alam cair yang menuju pasar global.
Gangguan pada jalur pelayaran tersebut berpotensi memperketat pasokan energi dunia dan mempercepat kenaikan harga minyak.
Para konsumen mulai merasakan dampaknya di stasiun pengisian bahan bakar. Analis dari GasBuddy, Patrick De Haan, memperkirakan harga bensin di Amerika Serikat masih akan terus meningkat.
“Saya sekarang memperkirakan peluang rata-rata nasional mencapai USD4 per galon dalam bulan depan mencapai 80 persen,” kata Patrick De Haan melalui unggahannya di platform X.
Lonjakan harga energi ini diperkirakan akan terus memengaruhi stabilitas ekonomi global dalam beberapa pekan ke depan, terutama jika konflik geopolitik di Timur Tengah belum mereda.
Baca Juga
Komentar