Harga Emas Tergelincir, Pasar Bersiap Sambut Data Penting AS
Jakarta - Harga emas dunia kembali tergelincir pada perdagangan Rabu (24/9/2025). Tekanan datang setelah dolar Amerika Serikat (AS) menguat, membuat logam mulia turun dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) yang baru saja dicapai sehari sebelumnya.
Menurut laporan Reuters, pelemahan harga emas terjadi seiring para investor menanti rilis data ekonomi AS yang dinilai akan memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Harga emas spot tercatat melemah 0,74% ke level US$ 3.736,3 per troy ounce, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi di US$ 3.791 per ounce pada Selasa (23/9/2025). Sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup turun 1,2% ke US$ 3.768,1 per ounce.
Jika dilihat dalam jangka pendek, pergerakan emas tetap impresif. Dalam sebulan terakhir, harga emas telah naik 10,82%. Bahkan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, lonjakan mencapai 40,47% (year on year). Secara keseluruhan sejak awal tahun (year to date), harga emas telah melejit 43,84%.
Pelemahan terbaru emas salah satunya dipicu oleh penguatan dolar AS. Indeks dolar tercatat naik sekitar 0,6%, membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun juga turut bergerak naik. Kenaikan yield biasanya menekan harga emas, sebab logam mulia tidak menawarkan imbal hasil seperti obligasi.
Kepala Strategi Pasar di Blue Line Futures, Phillip Streible, mengatakan bahwa pasar emas masih mencerna komentar The Fed sehari sebelumnya. “Harga emas masih mencerna komentar dari The Fed kemarin serta ketegangan geopolitik dengan Rusia. Investor cenderung hati-hati menjelang rilis data ekonomi AS,” jelasnya.
Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam pernyataan terbarunya tidak memberikan sinyal baru terkait arah suku bunga. Ia hanya menegaskan perlunya menjaga keseimbangan antara risiko inflasi yang masih tinggi dan tanda-tanda perlambatan di pasar tenaga kerja.
Pasar keuangan saat ini memperkirakan adanya dua kali pemangkasan suku bunga tambahan The Fed tahun ini. Setiap pemangkasan diperkirakan sebesar 25 basis poin, dengan peluang pemotongan pada Oktober mencapai 94%, dan peluang tambahan pada Desember sekitar 77%, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Dalam jangka pendek, fokus utama investor tertuju pada data klaim pengangguran mingguan AS yang akan dirilis Kamis (25/9/2025). Selain itu, indikator penting lainnya adalah indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) yang akan dirilis Jumat (26/9/2025). PCE dikenal sebagai ukuran inflasi favorit The Fed.
Secara historis, ketidakpastian seputar inflasi dan arah kebijakan suku bunga AS memiliki pengaruh besar terhadap harga emas. Investor cenderung menjadikan emas sebagai lindung nilai terhadap risiko inflasi maupun gejolak ekonomi global.
Selain faktor ekonomi, kondisi geopolitik juga menjadi sorotan pasar. Pada Rabu dini hari, militer Ukraina mengklaim telah menghantam dua stasiun pompa minyak di wilayah Volgograd, Rusia. Ketegangan semacam ini biasanya meningkatkan permintaan emas sebagai aset safe haven.
Namun, meski geopolitik sering kali mendukung emas, penguatan dolar yang tajam dalam jangka pendek dapat mengimbangi sentimen tersebut, sehingga menahan reli harga emas lebih lanjut.
Tidak hanya emas, harga logam mulia lainnya juga turut melemah pada perdagangan Rabu. Perak spot turun 0,4% ke US$ 43,84 per ounce, platinum terkoreksi 0,7% ke US$ 1.468,44 per ounce, dan paladium anjlok 0,7% ke US$ 1.211,45 per ounce.
Banyak analis memperkirakan emas masih berpotensi mencetak rekor baru apabila data ekonomi AS menunjukkan pelemahan yang signifikan. Sebaliknya, jika data inflasi lebih kuat dari perkiraan, tekanan terhadap emas kemungkinan berlanjut.
Secara keseluruhan, pasar emas saat ini berada dalam fase konsolidasi setelah reli tajam yang membawa harga ke rekor tertinggi. Investor global kini menunggu konfirmasi dari data ekonomi AS sebagai petunjuk langkah berikutnya.
Baca Juga
Komentar