Haji Isam Kokohkan Kontrak JARR–Pertamina Patra Niaga
Pena Insight
JAKARTA, 05 Agustus 2025 – PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), perusahaan biodiesel milik Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, berhasil mengamankan perpanjangan kontrak dengan PT Pertamina Patra Niaga hingga akhir tahun 2025.
Kontrak tersebut memiliki nilai sekitar Rp 2,37 triliun, yang telah menjadi katalis pertumbuhan laba bersih JARR naik 82,6 % di semester I 2025, menurut laporan keuangan kuartalannya.
Kerja sama biodiesel atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) antara JARR dan Pertamina Patra Niaga bukan hal baru; sudah berlangsung sejak paling tidak 2021 dan terus diperbarui setiap tahun berdasarkan volume dan harga pasar.
Namun, meskipun kontrak diperpanjang, tren penjualan JARR ke Pertamina menurun dari Rp 3,99 triliun di 2022 menjadi Rp 2,38 triliun pada 2023. Pada 2024 kembali turun menjadi sekitar Rp 1,36 triliun, meskipun total penjualan perseroan tetap di level triliunan rupiah.
Secara operasional, penjualan semester I 2025 mencapai Rp 2,04 triliun, tumbuh sekitar 18,7 % YoY, dengan porsi terbesar dari segmen biodiesel (Rp 1,11 triliun ke Pertamina Patra Niaga, naik 146 % YoY).
Laba bersih periode yang sama melonjak hingga Rp 160,39 miliar, dari Rp 87,85 miliar pada semester I 2024, mencerminkan efisiensi operasional meski beban pokok meningkat sebesar 12,7 %.
Dorongan utama pencapaian ini adalah kontrak jumbo dengan Pertamina, mendominasi portofolio pendapatan JARR dengan sekitar 84,5 % kontribusi dari FAME dalam total pendapatan semester I 2025.
Namun lemahnya diversifikasi pelanggan menjadi soal, karena sebagian besar pendapatan bergantung pada satu entitas BUMN. Penjualan ke entitas lain seperti AKR Corporindo dan Andifa hanya menyumbang sebagian kecil dari total pendapatan 2024.
Sisi keberlanjutan juga menjadi tantangan. Produksi biodiesel dari JARR diserap oleh Pertamina serta pelaku swasta lain, tetapi ketergantungan terhadap kebijakan pemerintah soal campuran B‑40/B‑50 dapat menjadi risiko jika terjadi perubahan regulasi.
Penutup: meskipun JARR berhasil mempertahankan kontrak strategis dan membukukan pertumbuhan laba signifikan, ketergantungan tinggi terhadap satu klien dan fluktuasi harga CPO menjadikan pertanyaan soal daya tahan bisnis jangka panjang. JARR perlu memperkuat diversifikasi mitra dan efisiensi operasional untuk menghadapi ketidakpastian pasar.
Baca Juga
Komentar