Bursa Asia Bersiap Melemah, Sentimen Wall Street Tekan Pasar Regional
Jakarta - Bursa saham Asia diperkirakan akan melemah pada perdagangan Rabu (5/11/2025), menyusul koreksi di Wall Street yang menekan saham teknologi dan aset kripto. Sementara itu, imbal hasil obligasi dan dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan moderat.
Kontrak berjangka menunjukkan arah pasar yang beragam, dengan indeks di Tokyo diproyeksikan turun, Sydney sedikit menguat, dan Hong Kong diperkirakan bergerak mendatar. Kondisi ini mencerminkan sentimen kehati-hatian investor global terhadap potensi koreksi pasar.
Pada perdagangan Selasa (4/11) waktu New York, indeks S&P 500 turun 1,2%, dipicu kekhawatiran investor terhadap valuasi saham teknologi yang dinilai sudah terlalu tinggi. Para eksekutif lembaga keuangan besar di AS juga memperingatkan bahwa fase koreksi mungkin menjadi hal yang sehat setelah reli panjang.
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun tiga basis poin menjadi 4,28%, menunjukkan adanya arus modal masuk ke aset aman. Di sisi lain, Bitcoin sempat jatuh di bawah level psikologis US$100.000 untuk pertama kalinya sejak Juni, menandakan tekanan pada pasar aset digital.
Dari pasar mata uang, dolar Australia menguat tajam terhadap dolar Selandia Baru setelah data ekonomi menunjukkan lonjakan tingkat pengangguran di Selandia Baru, memicu ekspektasi penurunan suku bunga lebih lanjut oleh bank sentral negara tersebut.
Reli panjang saham AS dalam beberapa bulan terakhir banyak ditopang oleh ketahanan korporasi besar, optimisme terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), dan harapan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan tetap melanjutkan kebijakan suku bunga rendah.
Namun, reli tersebut kini semakin terkonsentrasi hanya pada beberapa saham berkapitalisasi besar, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan risiko overvaluasi. Beberapa indikator teknikal juga menunjukkan pasar mulai berada pada level jenuh beli.
“Pasar saham saat ini berada pada titik yang rentan untuk mengalami koreksi signifikan dalam waktu dekat, terlepas dari arah jangka panjangnya,” ujar Matt Maley, analis dari Miller Tabak, dalam sebuah wawancara.
Sejumlah analis menilai peringatan tentang valuasi yang terlalu tinggi kian sering terdengar setelah lonjakan tajam indeks sejak April lalu. Kenaikan yang terlalu cepat dinilai membuat sebagian investor mengabaikan potensi risiko di balik valuasi yang mahal.
Kekhawatiran juga muncul akibat penyempitan kepemimpinan pasar. Hanya segelintir saham raksasa, terutama di sektor teknologi, yang mendorong kenaikan indeks utama. Kondisi ini membuat pasar rentan jika sentimen terhadap sektor tersebut memburuk.
“Kinerja fundamental perusahaan memang baik, namun tantangan terbesar saat ini adalah valuasinya,” kata Mike Gitlin, CEO Capital Group, dalam forum keuangan yang digelar oleh Otoritas Moneter Hong Kong pada Selasa.
Gitlin menilai bahwa sebagian besar pelaku pasar kini sepakat harga saham telah bergerak di antara level “wajar dan penuh,” bukan lagi di antara “murah dan wajar.”
Pandangan serupa diungkapkan oleh Ted Pick, CEO Morgan Stanley, dan David Solomon, CEO Goldman Sachs, yang menyebut bahwa koreksi adalah bagian alami dari siklus pasar.
“Kekhawatiran terhadap valuasi tinggi bukan hal baru. Namun, ketika harga saham di level tertinggi menjadi hal biasa, risiko psikologis pasar justru meningkat,” tulis analis BMO Capital Markets, yakni Ian Lyngen, Vail Hartman, dan Delaney Choi, dalam laporan riset mereka.
Tim analis BMO juga menambahkan bahwa fase konsolidasi justru dapat menguntungkan aset berisiko dalam jangka menengah, karena memungkinkan investor untuk menyesuaikan kembali posisi mereka setelah periode kenaikan yang panjang.
“Salah satu kekhawatiran utama saat ini adalah kepemimpinan pasar yang terlalu sempit. Jika narasi AI terguncang, pasar bisa terkoreksi lebih dalam,” ujar Fawad Razaqzada, analis dari Forex.com.
Meski demikian, waktu dan skala koreksi pasar masih sulit diprediksi. Menurut Chris Low dari FHN Financial, belum jelas apakah penurunan kali ini akan menjadi peluang untuk membeli saham di harga bawah (buy the dip) atau awal dari tren penurunan yang lebih panjang.
“Peluang terbaik masih ada pada strategi beli saat koreksi, ketika pasar menemukan dukungan yang kuat setelah enam bulan reli beruntun,” tutur Craig Johnson, analis teknikal senior di Piper Sandler.
Baca Juga
Komentar