60 Persen Warga Bekasi Mudik H-1 Lebaran, Tri Adhianto Sebut Sisanya Pemain Inti Kota
Bekasi – Fenomena arus mudik menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah mencapai puncaknya pada H-1 Lebaran. Di Kota Bekasi, pergerakan warga menuju kampung halaman terlihat signifikan, terutama melalui moda transportasi kereta api dan bus antarkota.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, turun langsung ke lapangan dengan meninjau aktivitas di Stasiun Bekasi pada Kamis (19/3/2026). Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan kelancaran arus mudik sekaligus mengecek kesiapan layanan transportasi bagi masyarakat.
Dalam keterangannya, Tri mengungkapkan bahwa sekitar 60 persen warga Kota Bekasi diperkirakan melakukan perjalanan mudik tahun ini. Angka tersebut mencerminkan tingginya mobilitas masyarakat menjelang Lebaran, yang setiap tahun menjadi tradisi nasional.
“Kurang lebih hampir 60 persen warga Kota Bekasi mudik. Sisanya adalah ‘pemain inti’ yang tetap menjaga kota ini berjalan, baik dari sisi pelayanan maupun aktivitas ekonomi,” ujar Tri di lokasi.
Istilah “pemain inti” yang disampaikan Tri merujuk pada warga yang tetap tinggal di Bekasi selama libur Lebaran. Mereka terdiri dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari petugas pelayanan publik, tenaga kesehatan, aparat keamanan, hingga pelaku usaha yang memastikan roda ekonomi tetap berputar.
Menurut Tri, keberadaan “pemain inti” ini sangat krusial dalam menjaga stabilitas kota, terutama saat sebagian besar penduduk melakukan perjalanan ke luar daerah. Pelayanan publik, keamanan, dan aktivitas ekonomi harus tetap berjalan normal meski dalam kondisi jumlah penduduk berkurang.
Di sela kunjungan, Tri juga berdialog langsung dengan sejumlah calon pemudik. Salah satunya adalah warga Perumahan Alinda, Bekasi Utara, yang hendak melakukan perjalanan ke Yogyakarta. Warga tersebut mengaku memilih berangkat pada H-1 Lebaran karena menunggu anaknya menyelesaikan tugas sekolah.
Interaksi tersebut dimanfaatkan Tri untuk memberikan imbauan langsung kepada masyarakat. Ia mengingatkan pentingnya menjaga kondisi fisik selama perjalanan, mengingat arus mudik kerap diwarnai kelelahan akibat padatnya lalu lintas dan durasi perjalanan yang panjang.
“Perjalanan jauh membutuhkan kesiapan fisik. Jangan memaksakan diri jika lelah, manfaatkan fasilitas yang ada untuk beristirahat,” pesannya.
Selain itu, Tri juga menyinggung terkait penetapan Hari Raya Idul Fitri oleh pemerintah. Ia mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan informasi resmi agar dapat mempersiapkan pelaksanaan ibadah, termasuk salat Idul Fitri, dengan baik dan tertib.
Peninjauan di Stasiun Bekasi juga dimanfaatkan untuk berdiskusi dengan jajaran manajemen PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang turut hadir di lokasi. Dalam perbincangan tersebut, dibahas sejumlah rencana pengembangan infrastruktur, termasuk pembangunan underpass di kawasan sekitar stasiun yang direncanakan terealisasi pada 2027.
Rencana pembangunan underpass ini dinilai penting untuk mengurai kemacetan yang selama ini kerap terjadi di sekitar Stasiun Bekasi, terutama saat volume kendaraan meningkat pada momen-momen tertentu seperti arus mudik dan arus balik Lebaran.
“Ke depan, kita ingin kawasan ini lebih tertata dan tidak lagi menjadi titik kemacetan. Underpass menjadi salah satu solusi yang sedang kita dorong bersama,” ungkap Tri.
Selain moda transportasi kereta api, Pemerintah Kota Bekasi juga memastikan kesiapan transportasi darat, khususnya di terminal bus. Tri menegaskan bahwa ketersediaan armada harus tetap terjaga agar masyarakat memiliki alternatif perjalanan yang aman dan nyaman.
Sebelumnya, Pemkot Bekasi telah lebih dulu memfasilitasi program mudik gratis bagi masyarakat. Sebanyak 27 armada bus diberangkatkan ke berbagai daerah tujuan, termasuk Malang. Program ini mendapat respons positif dari warga, terutama bagi mereka yang membutuhkan dukungan transportasi untuk pulang kampung.
“Alhamdulillah, seluruh peserta mudik gratis yang kita fasilitasi sudah sampai dengan selamat di kampung halamannya masing-masing,” kata Tri.
Ia berharap program tersebut dapat terus ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang, baik dari sisi jumlah armada maupun cakupan wilayah tujuan, sehingga semakin banyak masyarakat yang terbantu.
Lebih jauh, Tri menilai bahwa momentum mudik tidak hanya sekadar tradisi tahunan, tetapi juga memiliki dampak sosial dan ekonomi yang luas. Selain mempererat tali silaturahmi, mudik juga menjadi sarana distribusi ekonomi dari kota ke daerah.

Namun demikian, ia juga mengingatkan agar arus balik ke Kota Bekasi nantinya tetap memperhatikan kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal ini disampaikan dalam konteks pembangunan kota yang membutuhkan kontribusi dari masyarakat yang produktif dan siap bersaing.
“Titip salam untuk keluarga di kampung halaman. Jika nanti ada saudara yang ikut kembali ke Bekasi, pastikan memiliki kesiapan dan kualitas SDM yang baik, sehingga bisa bersama-sama membangun kota ini,” ujarnya.
Dari sisi kebijakan, Pemkot Bekasi menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan pelayanan publik, termasuk di sektor transportasi, guna mendukung mobilitas masyarakat yang semakin tinggi setiap tahunnya.
Arus mudik Lebaran 2026 sendiri diperkirakan menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat pascapandemi. Kondisi ini menuntut kesiapan infrastruktur serta koordinasi lintas sektor yang lebih matang.
Dengan pengawasan langsung dari kepala daerah dan sinergi bersama berbagai pihak, diharapkan arus mudik dan arus balik di Kota Bekasi dapat berjalan dengan lancar, aman, dan terkendali.
Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik ramainya arus mudik, terdapat peran penting “pemain inti” yang menjaga kota tetap hidup dan berfungsi bagi seluruh warganya.
Baca Juga
Komentar