USSEC Impor Kedelai RI dari AS Berpotensi Naik, Didorong Program Makan Bergizi Gratis
Jakarta – US Soybean Export Council (USSEC) menilai potensi impor kedelai Indonesia dari Amerika Serikat (AS) berpeluang meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Faktor utamanya, program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan hingga 2029 dinilai bakal mendorong konsumsi pangan berbasis kedelai.
USSEC Regional Director Southeast Asia & Oceania, Timothy Loh, mengatakan, budaya kuliner Indonesia yang lekat dengan produk berbahan kedelai, seperti tahu dan tempe, menjadi penopang utama tingginya permintaan.
“Permintaan konsumen yang kuat serta budaya kuliner yang lekat dengan pangan berbahan kedelai, seperti tempe dan tahu, menjadi pendorong utama impor kedelai,” ujar Timothy dalam keterangan tertulis, Kamis (2/10/2025).
Program MBG sendiri menargetkan 83 juta anak-anak dan ibu hamil sebagai penerima manfaat hingga 2029. Selain memperkuat gizi nasional, program ini juga diharapkan mampu mendukung pertanian lokal dan konsumsi produk kaya nutrisi.
Menurut USSEC, upaya pemerintah Indonesia memperluas asupan protein sejalan dengan peluang peningkatan impor kedelai dari mitra global, termasuk AS. Dengan basis produksi kedelai dalam negeri yang masih terbatas, impor diperkirakan akan tetap menjadi instrumen utama memenuhi kebutuhan.

Dalam laporan USSEC, pada tahun pemasaran 2023/2024, Asia Tenggara tercatat mengimpor sekitar 9,08 juta metrik ton (MMT) kedelai utuh dan 20,89 MMT bungkil kedelai. Angka tersebut menunjukkan tren permintaan yang terus menguat.
“Asia Tenggara terus menjadi kawasan penting bagi pertumbuhan kedelai Amerika. Didorong oleh meningkatnya permintaan kelas menengah yang berkembang dan konsumsi protein yang kian besar,” tambah Timothy.
Selain itu, USSEC menyoroti pentingnya kolaborasi jangka panjang antara produsen kedelai AS dan mitra dagang di Indonesia serta Asia Tenggara. Tujuannya memastikan keandalan pasokan, memperkuat akses pasar, dan menciptakan nilai tambah bersama.
Amerika Serikat sendiri masih menjadi salah satu mitra dagang terbesar Indonesia di sektor non-migas. Sepanjang Januari–Agustus 2025, nilai impor Indonesia dari AS mencapai US$6,51 miliar atau berkontribusi 4,83% dari total impor non-migas nasional.
Dari nilai tersebut, mesin dan peralatan mekanis menjadi komoditas impor terbesar dengan total US$1,30 miliar atau setara 19,90% dari keseluruhan impor Indonesia dari AS.
Komoditas lainnya adalah mesin dan perlengkapan elektrik senilai US$0,72 miliar atau 10,99%. Sementara biji dan buah mengandung minyak menyumbang US$680 juta atau sekitar 10,39% dari total impor Indonesia dari AS.
Dengan adanya program MBG dan peningkatan konsumsi berbasis protein, USSEC menilai kedelai berpotensi semakin memainkan peran penting dalam perdagangan kedua negara.
Ke depan, kerja sama Indonesia–AS di sektor pangan dinilai tidak hanya memperkuat rantai pasok kedelai, tetapi juga mendukung ketahanan pangan nasional serta diversifikasi nutrisi bagi masyarakat.
Baca Juga
Komentar