Turap DAS Rawalumbu Rampung, Pemkot Bekasi Dorong Penanganan Banjir hingga Jembatan Carita
KOTA BEKASI – Pemerintah Kota Bekasi memperkuat upaya pengendalian banjir di wilayah Rawalumbu melalui pembangunan turap Daerah Aliran Sungai (DAS) Rawalumbu di kawasan Perumahan Bumi Bekasi Baru, Kelurahan Sepanjang Jaya, Kecamatan Rawalumbu.
Turap tersebut diresmikan Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, Kamis (13/8/2026). Infrastruktur ini diharapkan dapat memperkuat perlindungan kawasan permukiman yang selama ini berada di sekitar aliran Kali Rawalumbu.
Kali Rawalumbu menjadi salah satu titik perhatian karena alirannya melintasi sejumlah kawasan permukiman, termasuk tiga RW di Kelurahan Pengasinan dan tiga RW di Kelurahan Sepanjang Jaya.
Tri Adhianto mengatakan, penanganan Kali Rawalumbu tidak boleh dilakukan secara parsial hanya pada satu titik. Menurutnya, pengendalian banjir harus dirancang secara menyeluruh dari kawasan hulu hingga hilir.
“Jembatan dari titik pertama sampai Carita sudah sangat bagus. Tetapi saya minta jangan berhenti di sini, harus kita lanjutkan sampai Jembatan Carita. Karena ketika Jembatan 0 dibangun, justru kita melihat air meluap. Artinya, penanganannya harus kita lihat secara utuh dari hulu sampai hilir,” ujar Tri.
Ia menilai pembangunan infrastruktur pengendalian banjir harus diikuti dengan perencanaan yang matang dan pemeliharaan secara berkelanjutan. Infrastruktur yang telah selesai dibangun, kata dia, tidak boleh hanya diperhatikan ketika proses pembangunan atau peresmian berlangsung.
“Persoalan kita klasik. Jangan sampai setelah dibangun kemudian kita tidak peduli ke depannya. Jangan karena baru dibuat, perhatiannya hanya di awal. Setelah itu harus ada pemeliharaan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Tri juga menyoroti kondisi fiskal Pemerintah Kota Bekasi yang membutuhkan penyesuaian anggaran. Ia menyebut pemerintah melakukan efisiensi hampir Rp500 miliar dari anggaran yang sebelumnya berada di kisaran Rp7 triliun menjadi sekitar Rp6,5 triliun.
“Efisiensi kita hampir Rp500 miliar. Biasanya sekitar Rp7 triliun, sekarang menjadi sekitar Rp6,5 triliun. Ada beberapa yang kita kurangi, seperti snack dan kopi, termasuk pelaksanaan upacara yang tidak lagi menggunakan tenda. Pemerintah harus mengalah, karena uang yang berasal dari masyarakat harus kita kembalikan lagi kepada masyarakat,” jelasnya.

Menurut Tri, keterbatasan anggaran harus diimbangi dengan perencanaan pembangunan yang lebih terukur. Termasuk dukungan anggaran kewilayahan sebesar Rp100 juta yang harus diarahkan berdasarkan kebutuhan dan skala prioritas masing-masing wilayah.
“Rp100 juta itu harus punya perencanaan. Mana yang menjadi prioritas di wilayah, itu yang harus kita kerjakan. Jangan sampai semua ingin dikerjakan tetapi tidak ada yang optimal,” katanya.
Selain pembangunan fisik, pemerintah juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga hasil pembangunan. Turap, saluran air, taman, dan berbagai fasilitas lingkungan lainnya perlu dirawat secara bersama agar dapat berfungsi dalam jangka panjang.
Tri mengatakan, penguatan pembangunan berbasis kewilayahan juga dilakukan melalui program Lingkar Keren. Program tersebut diarahkan untuk membantu kecamatan dan RW mengidentifikasi persoalan sekaligus menyusun solusi sesuai kebutuhan lingkungan masing-masing.
“Lingkar Keren ini harus menjadi upaya untuk menjawab persoalan di masing-masing wilayah. Semua kecamatan dan RW bisa memanfaatkan program ini, sehingga apa yang menjadi masalah di lingkungan bisa kita carikan jawabannya bersama,” pungkas Tri.
Dengan rampungnya pembangunan turap DAS Rawalumbu, Pemkot Bekasi berharap perlindungan kawasan permukiman di sekitar aliran sungai semakin kuat. Namun, pemerintah menegaskan penanganan banjir akan terus dilanjutkan melalui pembangunan infrastruktur, pemeliharaan, serta penataan aliran sungai secara menyeluruh
Baca Juga
Komentar