Lavrov Tuduh Eropa Hambat Perundingan Ukraina, 16 Orang Tewas dalam 24 Jam Terbaru
NEW YORK – Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menuduh negara-negara Eropa berupaya menggagalkan perundingan untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina yang didukung pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Tuduhan tersebut disampaikan Lavrov dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Sabtu (26/9/2026). Pernyataan itu muncul ketika serangan Rusia dan Ukraina kembali menyebabkan korban jiwa di kedua negara.
“Eropa melakukan segala yang bisa dilakukan untuk menggagalkan perundingan damai yang diinginkan pemerintahan Trump,” kata Lavrov, seperti dilaporkan AFP.
Lavrov juga menegaskan bahwa Moskow akan tetap mengejar tujuan militernya di Ukraina. Ia menggunakan istilah “operasi militer khusus” yang digunakan pemerintah Rusia untuk menyebut perang tersebut.
“Tujuan operasi militer khusus akan tercapai, ancaman terhadap keamanan Rusia akan dihilangkan dan kehidupan damai akan kembali. Ini akan terjadi apa pun keadaannya,” ujar Lavrov.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah belum adanya terobosan dalam upaya diplomatik yang dipimpin Amerika Serikat untuk menghentikan pertempuran antara Moskow dan Kyiv. Presiden Donald Trump sebelumnya mengatakan di Sidang Umum PBB bahwa pemerintahannya terus berupaya mencapai penyelesaian perang tersebut.
Di medan perang, Rusia dan Ukraina melaporkan sedikitnya 16 orang tewas dalam periode 24 jam akibat serangkaian serangan. Masing-masing pihak memberikan laporan korban di wilayah yang berada di bawah kendalinya.
Kyiv menyatakan serangan Rusia menewaskan sedikitnya enam orang di Sumy, Zaporizhzhia, dan wilayah Dnipropetrovsk. Salah satu korban disebut merupakan perempuan berusia 17 tahun.
Sementara itu, Rusia melaporkan empat orang tewas akibat serangan Ukraina di wilayah Krasnodar dan Belgorod. Pejabat yang ditunjuk Moskow di wilayah Ukraina selatan yang diduduki Rusia juga melaporkan enam kematian lainnya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya telah memperingatkan mengenai meningkatnya korban sipil akibat perang yang masih berlangsung.
Di Kyiv, serangan pada Jumat siang dilaporkan menewaskan tujuh orang. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kemudian menuduh Rusia terus meningkatkan eskalasi dan kembali menyerukan tekanan serta sanksi lebih besar dari negara-negara pendukung Ukraina.
Di sisi lain, Moskow terus menyatakan keinginannya menguasai wilayah Ukraina timur yang masih berada di bawah kendali Kyiv. Situasi tersebut menjadi salah satu persoalan utama yang masih menghambat tercapainya kesepakatan politik.
Lavrov Bertemu Menlu Jerman
Sebelum menyampaikan pidatonya, Lavrov bertemu Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul di sela-sela Sidang Umum PBB. Pertemuan tersebut menjadi pertemuan pertama antara menteri luar negeri Rusia dan Jerman sejak sebelum invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 2022.
Pertemuan berlangsung ketika hubungan Berlin dan Moskow berada dalam kondisi tegang. Jerman sebelumnya menuduh Rusia terkait sejumlah aktivitas yang disebut sebagai serangan hibrida dan sabotase, termasuk insiden drone di Bandara Leipzig/Halle.
Menurut sumber dari delegasi Jerman, Wadephul meminta Rusia meninggalkan apa yang disebut Berlin sebagai jalur eskalasi berbahaya terhadap Jerman, Eropa, dan NATO.
Wadephul juga menegaskan bahwa insiden seperti dugaan upaya serangan di Leipzig maupun serangan hibrida lainnya tidak akan mengubah sikap Jerman dalam mendukung Ukraina.
Kedua menteri juga membahas hubungan bilateral serta perang di Ukraina. Dalam pertemuan tersebut, Wadephul turut mendorong Rusia mengambil langkah untuk memulihkan ekspor gandum melalui Laut Hitam, menurut sumber dari delegasi Jerman.
Pertemuan Lavrov dan Wadephul menjadi kontak diplomatik tingkat tinggi yang jarang terjadi antara Moskow dan Berlin sejak perang pecah. Lavrov terakhir bertemu menteri luar negeri Jerman pada Januari 2022, ketika Annalena Baerbock masih menjabat, kurang dari sebulan sebelum invasi besar-besaran Rusia.
Dalam pidatonya di PBB, Lavrov kembali mengkritik kebijakan negara-negara Barat, termasuk Jerman. Ia juga menolak gagasan reformasi Dewan Keamanan PBB yang menurutnya memberikan kursi tambahan kepada negara-negara Barat.
Lavrov secara khusus menyebut Jerman dan Jepang dalam kritiknya dan menilai kedua negara tersebut berada pada jalur menuju militerisme.
Sementara itu, perang Rusia-Ukraina masih berlangsung tanpa kesepakatan damai final. Tuduhan Lavrov mengenai peran Eropa dalam menghambat perundingan merupakan posisi pemerintah Rusia, sementara negara-negara Eropa menyatakan dukungan terhadap Ukraina dan menyerukan Rusia mengambil langkah menuju penghentian perang.
Baca Juga
Komentar