Trump Desak Ukraina Ikhlaskan Krimea, Pemimpin Eropa Geruduk Washington
Pena Insight
Washington, 19 Agustus 2025 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi terkait perang Rusia–Ukraina. Menjelang pertemuannya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa Krimea tidak akan pernah kembali ke Ukraina dan negara itu sebaiknya melupakan rencana bergabung dengan NATO.
Trump menyampaikan pandangan tersebut melalui akun Truth Social beberapa jam sebelum bertemu Zelensky. Ia menegaskan, perang bisa segera berakhir jika Zelensky mau menerima kenyataan bahwa Rusia tetap menguasai Krimea, wilayah yang dicaplok pada 2014. “Presiden Zelensky bisa mengakhiri perang dengan Rusia segera, jika dia mau,” tulis Trump.
Pernyataan Trump muncul setelah pertemuan tiga jam dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska pada Jumat (15/8/2025). Pertemuan tingkat tinggi tersebut bertujuan membahas gencatan senjata, namun tidak menghasilkan kesepakatan konkret. Sebaliknya, Trump menyiratkan kemungkinan adanya pertukaran wilayah antara Rusia dan Ukraina.
Hari ini, Zelensky hadir di Washington didampingi sejumlah pemimpin Eropa untuk menemui Trump. Mereka yang turut hadir antara lain Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Kanselir Jerman Friedrich Merz, Presiden Finlandia Alexander Stubb, serta Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.
Kehadiran para pemimpin Eropa dipandang sebagai bentuk dukungan kolektif terhadap Ukraina. Namun, sejumlah diplomat Barat mengkhawatirkan adanya tekanan agar Kyiv menyetujui syarat-syarat perdamaian yang lebih menguntungkan Rusia. Trump sendiri menyebut pertemuan di Gedung Putih sebagai “hari besar dengan kehormatan besar” karena dihadiri banyak pemimpin Eropa sekaligus.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membantah anggapan bahwa Zelensky akan ditekan Trump. Ia menyebut narasi intimidasi itu sebagai “omong kosong media” dan menegaskan diskusi akan fokus pada jaminan keamanan bagi Ukraina. Rubio juga menyatakan, meski belum ada kesepakatan damai, pertemuan lanjutan akan digelar karena ada “pergerakan positif” dalam negosiasi.
Di sisi lain, sejumlah pejabat Eropa menegaskan tidak akan menerima kesepakatan yang menyinggung soal wilayah tanpa persetujuan Ukraina. Kementerian Luar Negeri Polandia menolak keras gagasan negosiasi di bawah ancaman militer. Inggris, Prancis, dan Jerman bahkan menawarkan pengerahan pasukan penjaga perdamaian pascaperang untuk mengamankan wilayah Ukraina.
Zelensky dalam pernyataan di media sosial X menegaskan bahwa Ukraina mendapat dukungan penuh dari sekutu Eropa. Ia menyatakan semua pemimpin sepakat bahwa perbatasan tidak boleh diubah secara paksa, serta menuntut jaminan keamanan konkret mencakup darat, laut, dan udara. “Kemerdekaan dan kedaulatan Ukraina bukan untuk ditawar,” tulis Zelensky.
Pertemuan di Washington ini dianggap krusial karena menyatukan kembali posisi Barat setelah konferensi Trump–Putin di Alaska yang tidak melibatkan Kyiv. Para pengamat menilai, pertemuan tersebut akan menjadi penentu arah baru diplomasi Barat terhadap perang Ukraina, antara kompromi wilayah atau jaminan keamanan setara Pasal 5 NATO.
Sejak invasi penuh Rusia pada Februari 2022, hampir seperlima wilayah Ukraina telah dikuasai Moskwa. Kini, dengan Trump kembali berkuasa di Gedung Putih, jalan menuju perdamaian tampak semakin rumit: antara menerima kompromi teritorial atau terus melawan dengan dukungan penuh dari Eropa.
Baca Juga
Komentar