Tanggul Muara Baru Bocor Akibat Usia, Perbaikan Permanen Ditargetkan Mulai 2026
Jakarta – Kebocoran tanggul di kawasan Muara Baru, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, kembali menimbulkan kekhawatiran warga pesisir. Kerusakan tersebut dipastikan terjadi karena usia konstruksi yang sudah mencapai satu dekade sehingga daya tahannya mulai menurun.
Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Utara, Heria Suwandi, menjelaskan bahwa kebocoran dipicu oleh adanya celah pada struktur sheet pile tanggul. Celah itu memungkinkan air laut masuk ke bagian belakang tanggul saat pasang tinggi.
“Secara teknis ada celah di sheet pile, sehingga air laut merembes ke belakang tanggul,” ujar Heria di Jakarta, Jumat (5/12/2025).
Ia mengatakan, penanganan yang dilakukan saat ini masih bersifat darurat. Sudin SDA belum dapat langsung melakukan perbaikan permanen karena perlu perencanaan teknis yang matang dan penganggaran khusus.
Sebagai langkah awal, petugas melakukan penambalan menggunakan karung pasir. Hingga saat ini, sekitar 500 karung telah dipasang dan jumlah tersebut masih berpotensi bertambah sesuai kondisi lapangan.
Selain itu, struktur beton yang mengalami korosi akibat paparan air laut juga ditangani sementara. Beton yang sudah terkelupas ditambal untuk memperlambat laju rembesan air.
Heria menjelaskan, meski mengalami kebocoran, tanggul Muara Baru masih mampu menahan tekanan air laut hingga ketinggian 2,65 meter pasang purnama atau cmPP. Namun kemampuan tersebut tidak dapat diandalkan untuk jangka panjang.
“Untuk sementara masih aman, tetapi tidak bisa ditunda terlalu lama. Solusinya tetap perbaikan permanen,” katanya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas SDA berencana membangun struktur tanggul baru sebagai solusi jangka panjang. Saat ini, perencanaan teknis masih dalam tahap penyusunan.
Heria menargetkan pembangunan permanen dapat dimulai pada tahun anggaran 2026 dan diharapkan rampung pada 2027.
Perbaikan jangka panjang direncanakan dilakukan dengan metode konstruksi yang lebih kuat. Salah satu opsi adalah penambahan tanggul di sisi luar menggunakan spun pile, seperti yang telah diterapkan di Pelabuhan Perikanan Nizam Zachman.
Menurut Heria, kebocoran tanggul terjadi karena kombinasi sejumlah faktor. Tekanan air laut yang tinggi, korosi beton akibat klorin, kenaikan muka air laut, hingga penurunan muka tanah menjadi penyebab utama melemahnya struktur tanggul.
Segmen tanggul yang mengalami kerusakan cukup parah diperkirakan sepanjang 500 meter. Sementara itu, total jalur tanggul dari kawasan Batang hingga bertemu dengan tanggul milik Kementerian PUPR mencapai sekitar dua kilometer.
Selain di pemukiman, limpasan air laut juga terjadi di kawasan Pelabuhan Perikanan Nizam Zachman. Kondisi tersebut dipicu oleh elevasi dermaga yang lebih rendah dibandingkan tinggi air rob.
Ketua RT 15 Penjaringan, Dewi, menyebut kebocoran tanggul sudah lama dikeluhkan warga. Menurutnya, air laut kerap masuk ke permukiman saat pasang tinggi.
“Kondisi tanggul sudah memprihatinkan sejak lama. Kami berharap perbaikan bisa segera dilakukan agar warga merasa aman,” ujarnya.
Rembesan air laut akibat kebocoran tanggul ini berdampak pada sedikitnya tujuh RT, yaitu RT 04, 05, 06, 11, 12, 14, dan 15 di wilayah Penjaringan.
Sebelumnya, Sudin SDA Jakarta Utara melakukan penanganan darurat setelah rembesan air rob muncul pada Kamis (4/12/2025) siang. Saat itu, permukaan air laut mencapai 211 cmPP dan menekan struktur tanggul.
Sekitar pukul 13.00 WIB, sebanyak 20 personel Satgas Pasukan Biru dikerahkan ke lokasi. Petugas membawa 500 karung pasir serta tiga unit dump truck untuk mendukung penanganan darurat.
Penambalan dilakukan dengan menumpuk karung pasir secara berlapis di titik kebocoran. Hasil pemantauan sementara menunjukkan rembesan dapat dikendalikan.
Meski demikian, Heria menegaskan penanganan darurat ini bukan solusi akhir. Pemerintah akan terus memantau kondisi tanggul sambil menyiapkan perbaikan struktural permanen.
“Ini langkah cepat untuk mengamankan kawasan. Kami juga mengimbau warga di wilayah rendah tetap waspada,” kata Heria.
Penanganan ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara dalam memperkuat perlindungan kawasan pesisir dari ancaman banjir rob yang semakin sering terjadi.
Baca Juga
Komentar