Setahun Prabowo–Gibran: Saham BBNI, BBRI, hingga BMRI Meledak, IHSG Tembus 8.000
Jakarta — Tepat satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, pasar modal Indonesia menunjukkan lonjakan luar biasa. Saham-saham perbankan besar meroket tajam, membawa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level 8.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah modern ekonomi Indonesia.
Kenaikan ini menjadi refleksi optimisme investor terhadap stabilitas kebijakan ekonomi nasional yang selama setahun terakhir diarahkan pada percepatan investasi, transformasi digital, dan penguatan sektor riil.
Pada pukul 09.45 WIB, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menjadi motor utama penguatan. Harga saham BBNI melesat 220 poin atau 5,79%, memperkuat indeks sektor keuangan yang sejak awal perdagangan sudah berwarna hijau tebal.
Tak mau ketinggalan, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ikut menanjak 150 poin (4,57%) berkat laporan keuangan kuartal ketiga yang mencatat pertumbuhan signifikan di sektor pembiayaan UMKM. Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menguat 170 poin (4,2%), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menambah 45 poin (3,95%).
Kenaikan serentak saham perbankan besar ini disempurnakan oleh PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang melesat 100 poin (3,97%), mempertegas dominasi sektor perbankan dalam menopang pergerakan indeks nasional.
Akibat euforia di lantai bursa, IHSG dibuka naik 1,01% ke level 8.001,88, mencetak rekor baru setelah sebelumnya sempat tertekan akibat gejolak global. Level psikologis 8.000 menjadi simbol baru kepercayaan pasar terhadap stabilitas pemerintahan dan kebijakan fiskal Indonesia.
Secara keseluruhan, dari ribuan saham yang diperdagangkan pagi ini, 240 saham naik, 74 turun, dan 642 stagnan. Nilai transaksi tercatat Rp 654,6 miliar, melibatkan 934,6 juta saham dalam 72.210 kali transaksi.
Lonjakan ini menjadi momentum rebound kuat setelah IHSG sempat terkoreksi 4,14% pada pekan lalu akibat tekanan eksternal dan ketegangan geopolitik. Kini, investor kembali menatap cerah arah perekonomian nasional.
“Pemerintah berhasil menciptakan iklim ekonomi yang lebih pasti. Sektor perbankan menjadi refleksi kepercayaan terhadap arah fiskal dan moneter yang stabil,” ujar seorang analis pasar modal di Jakarta.
Selain faktor domestik, penguatan indeks saham Asia juga menjadi katalis positif bagi IHSG. Investor asing tercatat mulai melakukan net buy, menandakan aliran modal mulai kembali ke Indonesia setelah sempat menunggu arah kebijakan global.
Kebijakan Bank Indonesia yang tetap menahan suku bunga acuan juga dipandang tepat, menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah dan daya saing investasi. Likuiditas perbankan terjaga, rasio kredit bermasalah (NPL) menurun, dan laba bersih sektor keuangan tumbuh dua digit.
Analis memperkirakan harga saham BBNI dan BBRI berpotensi menembus all time high jika tren penguatan ekonomi terus berlanjut hingga akhir kuartal keempat 2025. “Momentum ini bisa menjadi titik balik pasar modal Indonesia menuju fase ekspansi baru,” tambahnya.
Selain itu, sektor UMKM dan pembiayaan digital menjadi pendorong utama pertumbuhan. Penyaluran kredit mikro yang masif menandakan ekonomi rakyat kembali berdenyut setelah sempat terhambat oleh ketidakpastian global.
Meski demikian, sejumlah pengamat tetap mengingatkan agar investor tidak lengah. Geopolitik global yang memanas dan fluktuasi harga komoditas masih berpotensi memicu volatilitas ekstrem dalam jangka pendek.
Rupiah sendiri menunjukkan penguatan tipis terhadap dolar AS, sementara yield obligasi pemerintah tetap stabil. Kondisi ini menunjukkan pasar keuangan domestik masih terjaga dalam koridor yang aman.
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan investasi domestik.
Optimisme ini semakin kuat menjelang penutupan tahun 2025. Dengan pergerakan IHSG yang terus mendaki dan kinerja BUMN perbankan yang solid, banyak analis percaya bahwa ekonomi Indonesia telah memasuki fase “recovery menuju resiliensi”.
Setahun pemerintahan Prabowo–Gibran bukan hanya tentang politik, tetapi juga tentang bagaimana pasar percaya pada arah ekonomi baru Indonesia. Lonjakan saham BBNI, BBRI, BMRI, dan BRIS hari ini adalah sinyal bahwa kepercayaan itu nyata — dan masa depan ekonomi Nusantara sedang disambut dengan optimisme.
Baca Juga
Komentar