Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II–2025 5,12 %, Kepercayaannya Disoal
Pena Insight
Jakarta, 8 Agustus 2025 – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,12 % YoY pada kuartal II–2025. Angka ini jauh melebihi proyeksi analis yang sebelumnya diperkirakan di bawah 5 %, memicu pro dan kontra di kalangan ekonom dan pemangku kepentingan.
Komponen konsumsi rumah tangga disebut sebagai pendorong utama di balik pertumbuhan ini. Namun, fenomena tersebut bertentangan dengan tren penurunan penjualan ritel, penurunan penjualan kendaraan, serta melambatnya pertumbuhan kredit usaha, menurut kalangan ekonom.
Pertumbuhan investasi (Gross Fixed Capital Formation / GFCF) juga diklaim meningkat, namun hal ini bertentangan dengan data yang menunjukkan pelemahan pada pertumbuhan kredit modal kerja dan menurunnya arus investasi asing langsung (FDI).
Sejumlah lembaga riset ekonomi Indonesia pun menyampaikan kekhawatiran atas angka yang dirilis oleh BPS. Mereka menyoroti keraguan mengenai konsistensi data jika dilihat dari indikator lemah di sektor riil, termasuk penurunan aktivitas manufaktur dan banyaknya laporan PHK.
Bhima Yudhistira dari Center of Economic and Law Studies menilai data tersebut terlalu optimistik, bahkan menuding adanya potensi manipulasi demi mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 % pada 2029.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menolak tudingan adanya "data bermasalah". Ia menyatakan bahwa metode dan proses pelaporan telah dilakukan secara profesional.
Reuters mencatat, realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai angka tertingginya sejak kuartal II–2023, dengan pertumbuhan kuartal ke kuartal sebesar 4,04 %. Namun, analis memperingatkan bahwa dorongan utama datang dari ekspor yang dipercepat (frontloading) menjelang pemberlakuan tarif AS.
Secara lebih luas, pelaku usaha menilai bahwa kondisi perekonomian lebih berada pada fase bertahan, bukan ekspansi. Mereka menyebut konsumsi domestik yang melambat dan kasus PHK massal sebagai sinyal lemahnya daya beli masyarakat.
Pemerintah sendiri tengah menyiapkan paket stimulus tambahan tahun ini, yang diperkirakan membantu mengatasi pelemahan konsumsi dan melanjutkan momentum pemulihan ekonomi.
Baca Juga
Komentar