Pemerintah Kota Bekasi Serahkan Penghargaan Sekolah Adiwiyata 2025
Bekasi — Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Lingkungan Hidup kembali menegaskan komitmennya pada pendidikan berwawasan lingkungan dengan menyerahkan Penghargaan Sekolah Adiwiyata Tingkat Kota Bekasi Tahun 2025. Penyerahan dilakukan langsung oleh Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono, pada apel di Plaza Kantor Wali Kota Bekasi.
Penghargaan ini diberikan kepada 15 sekolah yang dianggap berhasil mewujudkan sekolah bersih, sehat, dan asri. Penilaian tidak sekadar seremonial, tetapi berlandaskan aspek mendasar: kebijakan lingkungan, kurikulum berbasis ekologi, partisipasi warga sekolah dalam kegiatan lingkungan, hingga tata kelola sarana prasarana ramah lingkungan.
Program Adiwiyata bertujuan menanamkan kesadaran ekologis sejak dini kepada siswa, guru, hingga orang tua. Pemerintah Kota Bekasi ingin menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya soal akademik, tetapi juga tentang keberlanjutan dan kepedulian terhadap bumi.
Daftar penerima penghargaan tahun ini ditetapkan melalui Surat Keputusan Wali Kota Bekasi Nomor 600.4/Kep474-DLH/VIII/2025. Tercatat 15 sekolah yang berhasil masuk daftar elit tersebut.

Sekolah dasar penerima penghargaan meliputi SDN Duren Jaya VI, SDN Ciketing Udik II, SDN Jatiranggon III, SDN Jatikramat I, dan SDN Mustikajaya VI. Sekolah-sekolah ini dinilai konsisten membangun budaya lingkungan di tingkat dasar.
Selain itu, ada pula SDIT Insan Aulia, MI Maslakul Akhyar, MI Attaqwa 28, serta MI Al Hikmah yang mewakili sekolah swasta dan madrasah di Kota Bekasi.
Di tingkat menengah, penghargaan diberikan kepada SMPN 28, SMPN 31, dan MTs Annida Al Islamy. Ketiganya berhasil menunjukkan partisipasi aktif siswa dalam kegiatan peduli lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah hingga penghijauan kawasan sekolah.
Untuk jenjang SMA dan MA, penghargaan jatuh pada SMA Ananda, SMA Islam Al Azhar 8, serta MA Quantum Idea. Sekolah-sekolah ini dipandang berhasil menanamkan kesadaran lingkungan sekaligus mengintegrasikan isu perubahan iklim dalam pembelajaran.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menegaskan bahwa penghargaan ini bukan hanya bentuk apresiasi, melainkan juga pesan moral bagi seluruh sekolah. “Kita ingin sekolah menjadi garda terdepan dalam menumbuhkan generasi peduli lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, penghargaan ini harus dimaknai sebagai pemicu, bukan garis akhir. “Adiwiyata bukan soal piagam semata. Ini adalah budaya yang harus terus dirawat, agar Kota Bekasi benar-benar menjadi kota yang nyaman, sehat, dan sejahtera,” lanjut Tri.
Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Kiswati, mengungkapkan bahwa total sekolah adiwiyata di Kota Bekasi kini mencapai 143 sekolah. Capaian ini menunjukkan konsistensi kota dalam menggerakkan pendidikan lingkungan hidup secara berkesinambungan.
Menurutnya, penghargaan hanyalah pintu masuk. “Yang terpenting adalah implementasi di lapangan, bagaimana seluruh warga sekolah benar-benar hidup dengan pola yang ramah lingkungan,” kata Kiswati.
Meski demikian, sejumlah catatan kritis patut diajukan. Masih ada banyak sekolah di Bekasi yang belum tersentuh program Adiwiyata, terutama di wilayah padat penduduk dengan akses terbatas pada sarana hijau. Pemerintah perlu memastikan program ini tidak hanya menyentuh sekolah unggulan, tetapi juga sekolah di pinggiran kota.
Selain itu, tantangan terbesar adalah keberlanjutan. Tanpa monitoring dan evaluasi berkala, banyak sekolah yang hanya aktif saat penilaian, tetapi kembali abai setelah penghargaan diterima. Budaya lingkungan harus dibangun konsisten, bukan sekadar proyek tahunan.
Pemerintah Kota Bekasi juga didorong untuk memperluas dukungan nyata. Bukan hanya sosialisasi, melainkan juga penyediaan fasilitas pengelolaan sampah, insentif penghijauan, hingga integrasi kurikulum lingkungan dengan tantangan iklim global.
Kolaborasi dengan masyarakat juga penting. Sekolah tidak berdiri sendiri; orang tua, komite sekolah, dan warga sekitar harus dilibatkan agar budaya peduli lingkungan tidak berhenti di pagar sekolah.
Di tengah isu polusi udara Jabodetabek yang terus memburuk, program Adiwiyata bisa menjadi jawaban lokal yang relevan. Jika serius dijalankan, generasi muda Bekasi akan tumbuh dengan kesadaran ekologi yang lebih kuat dibanding generasi sebelumnya.
Penghargaan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan lingkungan bukan pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Kota Bekasi sedang menghadapi tantangan urbanisasi, sampah, hingga banjir. Tanpa pendidikan ekologis sejak dini, masalah lingkungan akan semakin sulit diatasi.
Dengan 143 sekolah adiwiyata, Bekasi kini punya modal sosial dan moral yang besar. Namun, pekerjaan rumahnya jelas: menjaga agar penghargaan tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi budaya hidup yang berkelanjutan.
Baca Juga
Komentar