Memasuki Abad Kedua, NU Ditantang Tetap Berakar dan Menjawab Perubahan Zaman Hari Ini
BEKASI – Memasuki abad kedua perjalanannya, Nahdlatul Ulama (NU) dihadapkan pada tantangan untuk tetap berpegang pada akar tradisi sekaligus mampu menjawab perubahan zaman.
NU yang berdiri pada 1926 kini tidak hanya menghadapi persoalan keberlangsungan organisasi, tetapi juga tuntutan untuk terus menjaga relevansi di tengah perkembangan teknologi, ekonomi, pendidikan, dan perubahan sosial yang semakin cepat. Sejumlah pemikiran tentang masa depan NU pun menempatkan abad kedua sebagai fase penting untuk memperkuat arah organisasi dan kemaslahatan umat.
Wildan Fathurrahman menilai perjalanan menuju abad kedua tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai pertambahan usia organisasi. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi pergantian zaman yang memunculkan pertanyaan mengenai peran NU pada masa depan.
“Apakah kita hanya ingin menjadi pewaris sejarah, atau menjadi pembuat sejarah berikutnya?” menjadi pertanyaan yang menurutnya perlu dijawab seluruh elemen NU.
Akar Tradisi di Tengah Perubahan
Menurut Wildan, NU dibangun dari tradisi keilmuan para ulama, doa para kiai, perjuangan santri, serta pengabdian masyarakat. Karena itu, perkembangan zaman tidak boleh membuat organisasi tersebut kehilangan akar dan jati dirinya.
Akar NU, kata dia, terletak pada Ahlussunnah wal Jamaah, tradisi pesantren, sanad keilmuan, adab kepada guru, serta nilai tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i'tidal.
“Nilai boleh tetap, cara boleh berubah,” ujarnya.
Prinsip menjaga tradisi yang baik sekaligus mengambil pembaruan yang lebih baik dinilai tetap relevan dalam menghadapi perkembangan zaman. Tantangan abad kedua NU juga banyak berkaitan dengan kemampuan organisasi untuk beradaptasi tanpa meninggalkan nilai dasar yang diwariskan para pendiri.
Pesantren, ulama, dan generasi muda dinilai memiliki peran penting untuk menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Gagasan mengenai penguatan pesantren, kemandirian ekonomi, transformasi digital, serta kaderisasi juga menjadi sejumlah agenda yang banyak dibicarakan dalam diskursus NU memasuki abad kedua.
Bukan Sekadar Besar Jumlahnya
Wildan menilai kebesaran NU tidak cukup hanya diukur berdasarkan jumlah warga dan luasnya struktur organisasi.
Menurutnya, pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa besar manfaat yang dapat diberikan NU kepada warga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
“Ukuran keberhasilan sebuah jam'iyah bukan hanya banyaknya pengurus, tetapi banyaknya kemaslahatan yang lahir dari kepengurusan,” katanya.
Karena itu, abad kedua diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kesejahteraan warga NU, pendidikan santri, kemandirian pesantren, penguatan pelaku usaha, hingga perluasan kesempatan bagi generasi muda.
Ia mengibaratkan besarnya jumlah warga NU seperti sumber daya yang harus mampu memberikan manfaat lebih luas.
“Besarnya jumlah warga harus berubah menjadi besarnya manfaat,” ujarnya.
Pesantren sebagai Mercusuar
Dalam menghadapi perubahan zaman, Wildan mendorong pesantren tidak hanya menjadi tempat menjaga tradisi keilmuan, tetapi juga hadir sebagai pusat lahirnya solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.
Pesantren, menurutnya, harus mampu berbicara mengenai persoalan ekonomi ketika masyarakat menghadapi kemiskinan, memberikan jawaban terhadap krisis moral, serta membantu generasi muda menghadapi perkembangan teknologi.
“Pesantren tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi ikut menentukan masa depan,” katanya.
Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai gagasan mengenai pentingnya memperkuat pesantren sebagai basis pengembangan masyarakat yang tetap kokoh pada tradisi, tetapi mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Generasi Muda sebagai Pembaharu
Peran generasi muda juga menjadi perhatian penting dalam perjalanan NU memasuki abad kedua.
Wildan menilai anak muda tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai penerus organisasi, melainkan juga harus diberikan ruang untuk menjadi pembaharu.
Perubahan cara belajar, bekerja, berdakwah, dan berkomunikasi membutuhkan pendekatan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Meski demikian, perubahan cara tersebut tidak berarti meninggalkan nilai dan prinsip dasar organisasi.
“Selama ruhnya tetap sama, cara boleh berubah,” ujarnya.
Generasi muda NU diharapkan mampu menguasai berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, teknologi, ekonomi hingga kepemimpinan, tanpa kehilangan nilai dan akhlak yang diwariskan tradisi pesantren.
Keterlibatan generasi muda dalam menentukan arah NU juga menjadi salah satu perhatian dalam diskursus Muktamar ke-35 NU yang berlangsung menjelang akhir Agustus 2026.
Politik sebagai Jalan Pengabdian
Wildan juga menyoroti peran kader NU dalam kehidupan politik dan pemerintahan.
Menurutnya, politik seharusnya dipahami sebagai salah satu jalan pengabdian kepada masyarakat, bukan sekadar sarana memperoleh kekuasaan.
Kader NU yang mendapatkan amanah jabatan, kata dia, harus mampu menjaga tanggung jawab terhadap masyarakat.
“Kalau belum mampu membuat rakyat tersenyum, setidaknya jangan membuat rakyat semakin susah,” katanya.
Ia menegaskan jabatan bersifat sementara, sementara manfaat dan pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian penting dari nilai yang harus dijaga.
Menuju Abad Kemandirian
Wildan membayangkan NU abad kedua sebagai kekuatan peradaban yang memiliki ekosistem pendidikan, kesehatan, ekonomi, teknologi, dan kaderisasi yang kuat.
Kemandirian warga menjadi salah satu agenda yang dinilai penting agar besarnya potensi NU dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Jangan sampai warga NU hanya menjadi pasar. Kita harus naik kelas menjadi produsen, pengusaha, profesional, pemilik teknologi, pemilik usaha, dan pengambil keputusan,” ujarnya.
Kemandirian ekonomi, menurutnya, bukan berarti meninggalkan nilai kesederhanaan yang diwariskan pesantren. Sebaliknya, kekuatan ekonomi harus menjadi sarana untuk menjaga martabat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menjemput Masa Depan
Memasuki abad kedua, NU memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dilepaskan dari perjuangan para ulama, kiai, santri, dan warga Nahdliyin.
Namun, Wildan mengingatkan bahwa sejarah tidak seharusnya hanya menjadi tempat untuk bernostalgia.
“Sejarah adalah cermin untuk melihat apakah langkah kita hari ini sudah benar,” katanya.
Menurutnya, pertanyaan penting bagi NU ke depan bukan hanya mengenai apa yang akan diperoleh organisasi tersebut pada abad kedua, tetapi apa yang dapat diberikan kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan.
NU, kata dia, harus hadir dalam kehidupan nyata masyarakat, mulai dari pendidikan bagi anak-anak, pelayanan kesehatan, kemandirian ekonomi santri, hingga kesempatan masa depan bagi generasi muda.
“NU yang besar bukanlah NU yang paling banyak meminta. NU yang besar adalah NU yang paling banyak memberi manfaat,” pungkasnya.
Dengan tetap berakar pada tradisi, menjaga arah perjuangan, serta mampu menghadapi perubahan zaman, NU diharapkan menjadikan abad kedua sebagai fase untuk memperluas kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Baca Juga
Komentar