Konflik Thailand vs Kamboja Meletus, ASEAN Disindir Warganet Dunia, Organisasi Tak Berguna
Pena Insight
Jakarta, 26 Juli 2025 - Ketegangan antara dua negara Asia Tenggara, Thailand dan Kamboja, tengah menjadi sorotan dunia. Di tengah konflik yang semakin memanas di wilayah perbatasan, warganet internasional—terutama dari Asia—menyoroti peran ASEAN yang dianggap tidak efektif dalam meredam konflik antar anggotanya sendiri.
Tagar #ASEANuseless bahkan sempat menjadi trending di media sosial X (dulu Twitter), dipicu oleh unggahan seorang warganet asal Thailand yang menyindir Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) melalui meme. Dalam gambar itu, ASEAN digambarkan sebagai organisasi yang "sibuk rapat tapi tidak pernah bertindak." Sentimen serupa juga digaungkan oleh sejumlah pengguna dari Vietnam, Filipina, hingga Malaysia.
Kritik keras itu bukan tanpa alasan. Meskipun konflik Thailand-Kamboja telah menewaskan puluhan warga sipil dan memicu eksodus di wilayah perbatasan, ASEAN belum mengeluarkan pernyataan sikap tegas ataupun langkah diplomatik yang konkret. Banyak yang mempertanyakan efektivitas prinsip non-interference (tidak saling mencampuri urusan internal negara anggota) yang selama ini menjadi fondasi utama organisasi regional tersebut.
Prinsip konsensus yang menjadi ciri khas ASEAN juga disorot sebagai hambatan. Banyak pihak menilai bahwa upaya penyelesaian konflik melalui konsensus terlalu lamban dan tidak relevan dalam situasi konflik bersenjata seperti saat ini. Warganet mempertanyakan: “Apakah ASEAN hanya akan menunggu semua pihak setuju, sementara rakyat sipil jadi korban?”
Pengamat hubungan internasional dari Singapura, Dr. Alvin Chua, menilai kritik warganet tidak sepenuhnya salah. "ASEAN memang memiliki keterbatasan struktural. Ia bukan Uni Eropa yang memiliki kewenangan hukum mengikat. Tapi dalam kasus seperti ini, ketidaktegasan ASEAN justru berisiko melemahkan legitimasi dan kepercayaan masyarakat internasional,” ujarnya dalam wawancara dengan media lokal.
Hingga berita ini diturunkan, Sekretariat ASEAN di Jakarta belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait eskalasi konflik. Padahal, tekanan diplomatik dan seruan damai dari komunitas internasional terus meningkat. Sebagian analis menilai bahwa jika ASEAN tidak segera bertindak, peluang mediasi justru akan diambil alih oleh kekuatan luar seperti China atau Amerika Serikat.
Di dalam negeri, beberapa anggota parlemen di negara-negara ASEAN bahkan mulai menyuarakan reformasi internal ASEAN, terutama menyangkut prinsip pengambilan keputusan dan mekanisme respons krisis. Wacana pembentukan satuan diplomasi cepat atau ASEAN Peace Council kembali mencuat.
Dengan krisis kemanusiaan yang tengah berlangsung, dunia kini menanti: apakah ASEAN akan tetap mempertahankan pendekatan pasif dan simbolisnya, atau berani mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan wibawa dan masa depan organisasi
Baca Juga
Komentar