JP Morgan Cap BBNI & BMRI “Top Avoid”, NIM Tergerus & Risiko Kredit Membayangi Juli 2025
Pena Insight
JAKARTA, 7 Juli 2025 — Dua bank pelat merah raksasa, PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) dan PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), masuk dalam daftar saham paling dihindari atau “Top Avoids” oleh JP Morgan untuk kawasan ASEAN pada Juli 2025. Keputusan mengejutkan ini memicu guncangan psikologis di kalangan investor, mengingat keduanya selama ini dikenal sebagai emiten perbankan paling kuat dan stabil di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dalam laporan riset “ASEAN Top Avoids List for July 2025”, JP Morgan menyebut tekanan terhadap net interest margin (NIM), kenaikan biaya dana (cost of fund/CoF), dan peningkatan potensi risiko kredit sebagai faktor utama yang membuat BBNI dan BMRI tidak direkomendasikan untuk dibeli dalam waktu dekat. Selain Indonesia, daftar tersebut juga mencakup 12 emiten dari Malaysia, Thailand, dan Singapura.
Secara valuasi, baik BBNI maupun BMRI memang masih diperdagangkan dengan price-to-earnings ratio (PER) yang tergolong wajar BBNI di kisaran 9,5x dan BMRI 10,2x namun JP Morgan menilai valuasi itu tidak lagi mencerminkan risiko jangka pendek yang meningkat. NIM BBNI diproyeksi tergerus 22 basis poin menjadi 4,27%, sedangkan BMRI bahkan bisa anjlok 31 basis poin ke level 4,96% angka terendah dalam tiga tahun terakhir.
Tak hanya margin bunga, risiko penurunan kualitas aset juga menjadi sorotan utama. Analis JP Morgan, Harsh Modi, menyebut pertumbuhan kredit korporasi dan konsumer yang melambat dapat memicu kenaikan beban cadangan kerugian kredit (cost of credit/CoC) pada semester II/2025. Hal ini membuat profitabilitas kedua bank kemungkinan besar akan direvisi ke bawah dalam laporan keuangan kuartal III.
Ironisnya, hanya empat bulan lalu, JP Morgan justru menaikkan rekomendasi BBNI dan BMRI menjadi "overweight" karena dinilai berhasil melakukan transformasi digital dan efisiensi biaya. Pergeseran pandangan yang ekstrem ini menimbulkan tanda tanya besar terhadap konsistensi house view lembaga keuangan global tersebut, terutama di mata investor institusi domestik.
Di sisi lain, manajemen BBNI menegaskan akan tetap fokus pada ekspansi kredit berbasis ESG dan menjaga rasio dana murah (CASA) sebagai upaya menahan lonjakan biaya dana. Sementara itu, BMRI mengklaim pertumbuhan fee-based income dari layanan digitalnya meningkat 18% YoY pada kuartal I/2025, menjadi bantalan pendapatan non-bunga yang penting untuk menjaga kinerja laba.
Beberapa analis lokal tetap mempertahankan rating “buy” untuk BBNI dan BMRI, dengan alasan fundamental keduanya tetap kokoh dan prospek dividen masih menarik, dengan payout ratio diprediksi bertahan di atas 45%. Namun mereka tak menampik bahwa tekanan sentimen dari asing akan membuat saham ini rawan koreksi jangka pendek, terutama bila BI belum memberi sinyal pelonggaran suku bunga dalam waktu dekat.
Ketergantungan BUMN bank terhadap obligasi pemerintah dan proyek strategis nasional juga dinilai menjadi titik lemah ketika volatilitas yield surat utang negara (SUN) meningkat. Jika tekanan fiskal memaksa pemerintah menaikkan target pembiayaan melalui pasar, maka margin perbankan BUMN dapat kembali tertekan demi menjaga stabilitas pembiayaan sektor riil, terutama UMKM.
Hingga penutupan Jumat, 4 Juli 2025, harga saham BBNI bertahan di level Rp4.000, sedangkan BMRI berada di kisaran Rp4.900. Secara year-to-date, keduanya tercatat bergerak stagnan hingga negatif. Jika tekanan sentimen global berlanjut dan data NIM kuartal III menunjukkan pelemahan nyata, potensi penurunan harga hingga ke level Rp3.900 (BBNI) dan Rp4.600 (BMRI) menjadi area akumulasi yang dinanti sebagian investor jangka panjang.
Meski masuk daftar "Top Avoid" JP Morgan, fundamental jangka panjang BBNI dan BMRI belum sepenuhnya goyah. Kinerja digital, dominasi sektor pinjaman produktif, dan kestabilan struktur modal masih menjadi daya tarik utama. Investor disarankan untuk menahan diri, memantau kinerja NIM dan CoC kuartal berikutnya, dan memanfaatkan koreksi sebagai peluang beli — jika strategi perbankan menghadapi tekanan suku bunga global tetap terukur.
Baca Juga
Komentar