Hari Ini Dividen Jumbo Bank Jatim Naik, Tapi Kenapa Saham Bank Banten Masih Nyungsep, Ini Penjelasan Lengkapnya
SURABAYA – Bank Jatim kembali menunjukkan performa impresif sepanjang tahun buku 2025. Bank milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur itu resmi membagikan dividen jumbo senilai Rp850,17 miliar atau setara 55 persen dari total laba bersih perusahaan yang mencapai Rp1,61 triliun.
Keputusan tersebut disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Surabaya, Rabu (6/5/2026). Kinerja solid Bank Jatim langsung menjadi perhatian pelaku pasar karena di tengah tekanan sektor perbankan nasional, emiten berkode saham BJTM justru mampu mencatat pertumbuhan laba dan menjaga konsistensi pembagian dividen tinggi.
Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, mengatakan pembagian dividen tahun ini meningkat dibanding tahun sebelumnya.
“Dalam RUPS Tahunan Tahun Buku 2025, Bank Jatim berhasil membagi dividen sebesar Rp56,62 per lembar saham sehingga total dividen yang dibagi kepada pemegang saham berada di angka Rp850,17 miliar,” ujar Winardi di Surabaya.
Nilai dividen tersebut naik dibanding tahun lalu sebesar Rp54,71 per saham. Dengan harga penutupan saham BJTM di level Rp590 per lembar, dividend yield perseroan diperkirakan mencapai 9,6 persen. Angka tersebut menjadikan BJTM sebagai salah satu saham bank daerah dengan imbal hasil dividen tertinggi di Bursa Efek Indonesia.
Tidak hanya itu, aset Bank Jatim juga melonjak signifikan. Perseroan mencatat total aset mencapai Rp168,85 triliun atau tumbuh 42,93 persen secara tahunan. Laba bersih perusahaan juga naik 24,8 persen menjadi Rp1,61 triliun.
Kinerja tersebut mendapat apresiasi langsung dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Menurut Khofifah, capaian Bank Jatim menunjukkan fungsi intermediasi perbankan berjalan optimal sekaligus mampu menjaga keseimbangan ekspansi bisnis dan kualitas aset.
“Kinerja keuangan Bank Jatim sepanjang tahun 2025 menunjukkan capaian yang patut diapresiasi,” ujar Khofifah dalam RUPS Tahunan Bank Jatim.
Namun di tengah euforia kinerja BJTM, perhatian investor justru tertuju pada kondisi berbeda yang terjadi di BEKS atau Bank Banten. Banyak investor mempertanyakan mengapa saham Bank Banten masih bergerak di level sangat rendah, bahkan bertahan di kisaran Rp27 per saham, padahal Bank Jatim sudah masuk sebagai pemegang saham pengendali melalui skema Kelompok Usaha Bank (KUB).
Fenomena ini memunculkan banyak spekulasi di pasar modal. Sebagian investor ritel berharap masuknya Bank Jatim sebagai pengendali akan langsung mengangkat performa Bank Banten sekaligus mendongkrak harga sahamnya. Namun realitas di pasar menunjukkan kondisi berbeda.
Analis menilai proses transformasi bank daerah tidak bisa berjalan instan. Meski Bank Jatim memiliki fundamental kuat, Bank Banten tetap harus menyelesaikan berbagai tantangan internal yang selama ini membebani kinerja perusahaan.
Beberapa persoalan yang masih menjadi perhatian pasar antara lain profitabilitas yang belum stabil, efisiensi operasional rendah, tantangan kredit bermasalah, hingga persaingan ketat dengan bank digital dan bank nasional besar.
Pasar modal juga dikenal sangat rasional dalam menilai sebuah saham. Investor tidak hanya melihat siapa pengendalinya, tetapi lebih fokus pada kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan memperbaiki fundamental bisnis secara konsisten.
Dalam kasus Bank Banten, investor dinilai masih menunggu bukti nyata berupa peningkatan laba, pertumbuhan kredit, efisiensi bisnis, hingga transformasi digital yang benar-benar terlihat signifikan.
Selain itu, status saham murah atau mendekati kategori saham gocap juga membuat pergerakan BEKS sangat dipengaruhi sentimen jangka pendek dan aktivitas spekulatif trader harian.
Saham di level harga rendah umumnya memiliki volatilitas tinggi, likuiditas terbatas, dan rentan mengalami aksi ambil untung cepat. Akibatnya, kenaikan harga sering tidak bertahan lama.
Berbeda dengan BJTM yang kini lebih banyak dilirik investor jangka panjang karena memiliki fundamental kuat, laba konsisten, serta dividen besar yang stabil setiap tahun.
Pengamat pasar juga menilai bahwa transformasi Bank Banten di bawah pengendalian Bank Jatim masih berada dalam tahap awal. Pasar membutuhkan waktu untuk melihat hasil konkret dari sinergi tersebut.
Jika dalam beberapa kuartal ke depan Bank Banten mampu menunjukkan perbaikan signifikan, seperti peningkatan laba, pertumbuhan kredit sehat, dan penguatan modal, maka peluang saham BEKS untuk keluar dari tekanan terbuka lebar.
Namun untuk saat ini, mayoritas investor tampaknya masih memilih wait and see.
Di sisi lain, RUPS Bank Jatim tahun ini juga menyetujui sejumlah perubahan struktur organisasi perusahaan. Beberapa nomenklatur direksi diubah untuk memperkuat fokus bisnis dan tata kelola perusahaan.
Direktur Keuangan, Treasury & Global Services misalnya diubah menjadi Direktur Keuangan & Treasuri. Sementara Direktur Bisnis Menengah, Korporasi & Jaringan berubah menjadi Direktur Menengah, Korporasi & Kelembagaan.
Selain itu, Bank Jatim juga mengangkat Andry Wicaksono sebagai Direktur Manajemen Risiko dan Moh. Nasih sebagai Komisaris Independen.
Langkah restrukturisasi ini dinilai menjadi bagian dari strategi Bank Jatim memperkuat daya saing di tengah perubahan industri perbankan nasional yang semakin dinamis.
Dengan capaian laba yang terus meningkat dan pembagian dividen besar, saham BJTM kini semakin diperhitungkan sebagai salah satu emiten bank daerah paling menarik di pasar modal Indonesia.
Sementara itu, nasib saham BEKS masih menjadi tanda tanya besar bagi investor. Apakah transformasi di bawah kendali Bank Jatim akan berhasil mengangkat performa Bank Banten, atau justru saham tersebut akan terus tertahan di level bawah, kini menjadi perhatian pasar dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga
Komentar