Danantara Siapkan Proyek Waste to Energy, Solusi Krisis Sampah dan Energi Bersih Nasional
Jakarta—Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) tengah menyiapkan proyek ambisius waste to energy (WTE), atau pengolahan sampah menjadi listrik. Proyek ini disebut bakal menjadi salah satu yang terbesar di dunia dan diharapkan dapat menjadi solusi atas persoalan sampah yang menumpuk di sejumlah kota besar Indonesia.
Managing Director Stakeholder Management and Communications Danantara Indonesia, Rohan Hafas, menjelaskan bahwa sekitar 60 persen sampah di Indonesia tidak terkelola dengan baik. Angka tersebut, kata dia, mengacu pada data yang dirilis oleh Bank Dunia (World Bank).
“Bank Dunia menyebut 60 persen sampah berakhir di jalanan dan selokan, sementara hanya 40 persen yang berhasil diolah,” ujar Rohan dalam temu media di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu (1/11/2025).
Ia menambahkan, banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan bukan karena kurangnya kesadaran, melainkan karena kendala ekonomi.
“Di kampung-kampung, warga biasanya membayar iuran pengangkutan sampah, sekitar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per rumah. Tapi banyak yang tidak mampu membayar, akhirnya mereka membuang sampah ke sungai atau ke jalan,” jelasnya.
Pemerintah, menurut Rohan, telah menyiapkan berbagai regulasi untuk mempercepat realisasi proyek WTE. Beberapa di antaranya yakni penyediaan lahan secara gratis, penghapusan tipping fee, serta penetapan tarif listrik hasil olahan sampah sebesar 20 sen per kilowatt hour (kWh).
Langkah-langkah ini diharapkan dapat memperkuat minat investor dan mempercepat pembangunan fasilitas WTE di berbagai wilayah.
“Regulasi sudah cukup mendukung. Sekarang tinggal implementasi di lapangan dan kerja sama dengan daerah,” kata Rohan.
Rohan juga menyinggung kondisi pengelolaan sampah di Jakarta, yang sebagian besar masih dibuang ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. Dengan adanya proyek WTE, sampah yang semula menumpuk akan dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik.
“Harapannya, dengan proyek WTE, sebagian sampah yang menumpuk di Bantar Gebang dapat diolah menjadi energi terbarukan,” ujarnya.
Selain Jakarta, proyek serupa juga direncanakan akan dikembangkan di sejumlah kota besar lain seperti Surabaya, Medan, dan Makassar yang menghadapi persoalan serupa.
Proyek WTE saat ini masih dalam tahap proses tender, dan menurut Rohan, sejumlah investor baik dari dalam maupun luar negeri telah menyatakan minat untuk berpartisipasi.
Namun, ia belum mengungkapkan secara rinci siapa saja calon investor tersebut.
“Sudah banyak yang tertarik, baik dari sektor energi maupun investasi hijau internasional. Tapi kami belum bisa sebutkan karena prosesnya masih berjalan,” katanya.
Danantara berencana membangun fasilitas PSEL (Pembangkit Sampah Energi Listrik) dengan kapasitas 1.000 ton sampah per hari.
Untuk satu unit PSEL, diperlukan investasi mencapai Rp2 triliun hingga Rp3 triliun, tergantung lokasi dan infrastruktur pendukungnya.
“Skalanya cukup besar. Kalau satu PSEL bisa mengolah 1.000 ton sampah, bayangkan kalau ada lima atau enam proyek serupa di seluruh Indonesia. Dampaknya besar sekali bagi lingkungan dan energi nasional,” ujar Rohan.
Sebelumnya, Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Patria Sjahrir, juga menegaskan bahwa proyek WTE yang digagas perusahaannya akan menjadi yang terbesar di dunia dalam kategori investasi energi dari sampah.
Dalam acara peringatan 1 Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Kamis (16/10/2025), Pandu menjelaskan bahwa proyek ini bukan hanya berorientasi pada keuntungan, melainkan juga solusi krisis lingkungan hidup.
“Tidak ada satu negara pun yang berinvestasi sebesar ini untuk waste to energy. Per hari ini, proyek ini adalah yang terbesar di dunia,” kata Pandu.
“Tujuan utamanya bukan hanya menciptakan keuntungan, tapi menyelesaikan isu utama — yaitu krisis lingkungan.”
Dengan mengolah sampah menjadi energi, proyek ini diharapkan bisa mendukung transisi energi bersih sekaligus memperkuat ekonomi sirkular di Indonesia.
Selain menghasilkan listrik, fasilitas WTE juga akan mengurangi volume sampah di TPA dan menekan emisi gas metana yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Rohan menilai, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan proyek ini.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Ini soal kebiasaan, sistem, dan kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan,” ujarnya.
Melalui proyek WTE, Danantara berharap dapat membantu pemerintah mencapai target pengurangan sampah nasional sebesar 30 persen dan penanganan 70 persen sampah pada tahun 2030, sebagaimana tertuang dalam Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah (Jakstranas).
Jika berhasil, proyek ini juga bisa menjadi model pengelolaan sampah modern bagi negara berkembang lainnya di Asia Tenggara.
“Indonesia punya potensi besar. Kita tidak hanya menyelesaikan sampah, tapi juga menghasilkan listrik untuk masyarakat. Dari masalah, lahir energi,” tutup Rohan.
Baca Juga
Komentar