Danantara dan Eramet Perkuat Kerja Sama Proyek Nikel Berkelanjutan di Indonesia
Pena Insight
Jakarta, 20 Juli 2025 – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memperkuat kerja sama dengan perusahaan tambang asal Prancis, Eramet, untuk mempercepat pengembangan hilirisasi nikel dan ekosistem kendaraan listrik (EV) di Indonesia. Kolaborasi ini diperkuat melalui forum bisnis tingkat tinggi serta penandatanganan kemitraan strategis yang disaksikan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
CEO Danantara Rosan Roeslani menegaskan pentingnya kemitraan ini dalam kerangka kerja sama ekonomi yang lebih luas antara Indonesia dan Uni Eropa. Ia menyebut bahwa Prancis kini merupakan investor terbesar ketiga dari Uni Eropa di Indonesia, dan perjanjian IEU–CEPA memberi ruang luas bagi investasi strategis, termasuk di sektor nikel dan baterai EV.
Dalam forum Breakfast Business Dialogue bersama MEDEF International, Rosan bersama tim Danantara bertemu dengan Group CEO Eramet, Paulo Castellari, dan CEO Eramet Jerome Baudelet. Pertemuan ini fokus pada penyelarasan strategi jangka panjang, transfer teknologi, dan efisiensi investasi di bidang hilirisasi nikel yang berkelanjutan.
Danantara dan Eramet sepakat menjajaki pembentukan platform investasi strategis di sektor nikel, mencakup seluruh rantai pasok dari hulu ke hilir. Kemitraan ini bertujuan mendukung pengembangan ekosistem bahan baku baterai EV berbasis praktik pertambangan berstandar internasional.
Dalam implementasinya, kedua pihak sepakat bahwa pengelolaan aset harus memenuhi standar keberlanjutan global, baik dari segi efisiensi ekonomi maupun tanggung jawab lingkungan. Penilaian awal kini tengah dilakukan untuk menentukan proyek-proyek prioritas.
CIO Danantara, Pandu Sjahrir, menyatakan bahwa peran Danantara adalah dalam pembiayaan jangka panjang dan manajemen investasi, sementara Eramet akan menyumbangkan pengalaman teknis dalam operasi tambang kelas dunia, khususnya dalam aspek ESG (environmental, social, governance).
Menurut Pandu, kerja sama ini menjadi pilar penting dalam mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pusat rantai pasok baterai EV global. Ia menekankan bahwa investasi nikel adalah jalan strategis memperkuat daya saing industri nasional di masa depan.
Selain Danantara dan Eramet, Indonesia Investment Authority (INA) juga berperan dalam kolaborasi ini. Ketua Dewan Direktur INA Ridha Wirakusumah menyebut inisiatif ini sebagai langkah konkret untuk memperkuat struktur pendanaan jangka panjang dan menciptakan ekosistem hilirisasi mineral strategis yang terintegrasi.
Penandatanganan kerja sama ini tidak berdiri sendiri. Pemerintah menjadikan proyek ini sebagai bagian dari upaya nasional menciptakan rantai pasok mineral kritis yang mandiri, sekaligus menarik investor global yang berkomitmen terhadap prinsip berkelanjutan.
Proyek kerja sama antara Danantara dan Eramet mencerminkan paradigma baru dalam investasi sektor pertambangan: menggabungkan kekuatan modal, teknologi, dan regulasi ramah lingkungan untuk menciptakan nilai tambah dalam negeri. Strategi ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta industri EV dunia.
Baca Juga
Komentar