CSOP Hong Kong Jual 4,6 Miliar Saham GOTO, Lawan Tren JPMorgan dan BlackRock
Pena Insight
JAKARTA, 7 Juli 2025 — Keputusan mengejutkan datang dari CSOP Asset Management Ltd, manajer aset berbasis di Hong Kong, yang secara agresif melepas seluruh kepemilikannya di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) pada kuartal II/2025. Langkah ini justru bertolak belakang dengan strategi dua raksasa keuangan global asal Amerika Serikat, JPMorgan Chase dan BlackRock, yang justru meningkatkan porsi kepemilikan mereka pada saham teknologi tersebut.
Menurut laporan Bloomberg, CSOP sebelumnya tidak tercatat memiliki saham GOTO hingga awal 2025. Namun pada kuartal I, mereka masuk daftar pemegang saham dengan akumulasi sebesar 4,62 miliar saham, dibeli di harga rata-rata tertimbang (VWAP) Rp81,07 per saham. Sayangnya, pergerakan harga saham GOTO selama kuartal II stagnan di kisaran Rp55–68, menimbulkan potensi kerugian mark-to-market hingga 32% bagi CSOP.
Motif di balik aksi jual cepat ini diduga berkaitan dengan rebalancing internal dana ETF yang dikelola CSOP, yang ingin mengurangi eksposur terhadap saham teknologi volatil dari kawasan Asia Tenggara. Di sisi lain, JPMorgan dan BlackRock justru melihat koreksi harga GOTO sebagai peluang strategis untuk masuk lebih dalam, dengan asumsi valuasi saat ini telah mencerminkan risiko terburuk pasca gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pengetatan insentif operasional.
Menariknya, meski investor besar melakukan manuver signifikan, harga saham GOTO tetap tak banyak bergerak. Sepanjang April hingga Juni 2025, rentang harga penutupan hanya Rp61,10 per saham, jauh dari harga IPO atau puncak harga tahun sebelumnya. Volume perdagangan harian juga cenderung menipis hingga di bawah 3 miliar saham menjelang akhir Juni, mengindikasikan hilangnya minat spekulatif jangka pendek.
GOTO sendiri telah menggelontorkan dana besar untuk buyback saham. Setelah menyelesaikan program pembelian kembali senilai Rp2,09 triliun, perusahaan kembali mendapat persetujuan RUPS untuk program lanjutan senilai Rp3,3 triliun (setara US$200 juta) hingga Juni 2026. Pada Mei lalu, GOTO membeli 2,41 miliar saham, menambah porsi treasury stock menjadi lebih dari 30 miliar lembar atau sekitar 2,54% dari total modal ditempatkan.
Dari sisi kinerja, GOTO masih mencatat kerugian bersih sebesar Rp38,7 miliar pada kuartal I/2025, dengan pendapatan menurun 3,36% dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi Rp3,94 triliun. Meski manajemen mengklaim efisiensi operasional berjalan baik dan monetisasi fintech membaik, jalan menuju profitabilitas penuh diperkirakan baru tercapai pada 2026.
Beberapa analis menyoroti kembali naiknya beban insentif kepada mitra driver, terutama setelah kembali berhembusnya rumor merger antara GOTO dan Grab. Jika sinergi strategis tidak segera terjadi, kekhawatiran investor terhadap tekanan margin dan “bakar uang” bisa kembali meningkat. Ini pula yang bisa jadi alasan rasional di balik keputusan cepat CSOP keluar dari posisi.
Langkah CSOP ini memberi sinyal penting ke pasar: bahwa tidak semua investor institusi bersedia menahan posisi jangka panjang pada saham teknologi dengan fundamental belum stabil, meski didukung proyek buyback dan valuasi “murah”. Sebaliknya, aksi JPMorgan dan BlackRock menunjukkan keyakinan terhadap konsolidasi sektor ekonomi digital Asia Tenggara yang dipimpin oleh entitas seperti GOTO.
Dengan kapitalisasi pasar saat ini sebesar Rp73 triliun dan price-to-sales ratio sekitar 2,1×, sejumlah analis lokal mulai menaikkan rating GOTO dari "sell" menjadi "neutral". Namun, mereka menyarankan posisi beli (entry point) hanya dilakukan jika harga kembali turun ke bawah Rp60, sambil mencermati realisasi burn rate dan efektivitas strategi buyback berikutnya.
Ke depan, prospek GOTO tetap menarik bagi investor jangka panjang yang bersedia menanggung volatilitas. Apabila strategi efisiensi, akuisisi sektor fintech, dan potensi sinergi regional terealisasi, emiten ini bisa berbalik untung pada semester II/2026. Namun di sisi lain, pelemahan makro, persaingan agresif, serta ketidakpastian manajemen membuat langkah cepat CSOP keluar pasar mungkin terlihat lebih visioner ketimbang terburu-buru.
Baca Juga
Komentar