Bukan Sekadar Tanam Pohon Tri Adhianto Gaungkan Sedekah Udara, 1.000 Pohon Hidup Jadi Investasi Sehat Warga Bekasi
Bekasi — Pagi itu suasana di kawasan Lagoon Avenue Mall Bekasi terlihat berbeda. Bukan seremoni penuh panggung atau baliho besar. Yang tampak justru cangkul, tanah basah, bibit pohon, dan deretan orang berseragam kerja yang sibuk menanam.
Di tengah kerumunan, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto ikut turun langsung. Tangannya kotor tanah, sepatu berlumur lumpur. Ia menanam pohon satu per satu.
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya simbolis.
Namun bagi Pemerintah Kota Bekasi, gerakan ini punya makna lebih dalam: sedekah udara.
Sebuah istilah sederhana, tapi mengandung pesan kuat tentang masa depan kota.
Kegiatan penanaman pohon ini dilakukan dalam rangka Peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional Tahun 2026, yang tahun ini tidak hanya dimaknai sebagai keselamatan di tempat kerja, melainkan juga keselamatan lingkungan hidup.
Tri ingin memperluas makna K3.
Bukan cuma helm, sepatu safety, atau standar operasional.
Tapi juga udara bersih, suhu kota yang sejuk, dan ruang hijau yang membuat warga sehat.
“Setiap pohon yang kita tanam adalah sedekah udara,” kata Tri Adhianto, usai menanam bibit pohon di lokasi.
Kalimat itu langsung mencuri perhatian.
Dari Karangan Bunga ke Pohon Hidup
Apa yang dilakukan Pemkot Bekasi sebenarnya bukan program dadakan.
Gerakan ini sudah dimulai sejak tahun sebelumnya.
Tri mengubah tradisi lama yang selama ini dianggap biasa: kirim karangan bunga saat perayaan atau pelantikan pejabat.
Bagi sebagian orang, karangan bunga memang simbol ucapan selamat.
Tapi setelah acara selesai?
Layunya dibuang.
Jadi sampah.
Tak ada manfaat jangka panjang.
Karena itu, Tri membuat keputusan berbeda.
Karangan bunga diganti pohon atau tanaman hidup.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Dalam waktu singkat, hampir 1.000 pohon terkumpul dan ditanam di berbagai titik Kota Bekasi.
Taman kota bertambah.
Jalanan lebih rindang.
Beberapa kawasan yang dulunya panas kini mulai terasa teduh.
“Hampir 1.000 pohon telah disumbangkan dan ditanam. Dampaknya sudah mulai terasa,” ujar Tri.
Kebijakan kecil, tapi efeknya nyata.
K3 Tak Lagi Soal Helm dan Rompi
Biasanya, Bulan K3 identik dengan inspeksi keselamatan kerja, pelatihan, atau seminar di dalam ruangan.
Namun tahun ini, Pemkot Bekasi mencoba pendekatan berbeda.
Tri menilai, keselamatan dan kesehatan kerja tidak bisa dipisahkan dari kondisi lingkungan.
Percuma memakai alat pelindung lengkap jika udara yang dihirup penuh polusi.
Tak ada artinya prosedur kerja aman kalau suhu kota makin panas ekstrem.
Menurutnya, lingkungan sehat adalah fondasi keselamatan jangka panjang.
“Keselamatan itu bukan hanya di dalam kantor atau pabrik. Lingkungan hidup yang sehat juga bagian dari K3,” tegasnya.
Konsep ini pelan-pelan menggeser cara pandang banyak pihak.
Bahwa menjaga pohon, mengurangi polusi, dan menambah ruang hijau sama pentingnya dengan standar keselamatan industri.
Filosofi “Sedekah Udara”
Istilah “sedekah udara” yang diucapkan Tri terdengar sederhana, tapi sarat makna.
Ia menyebut, setiap pohon yang ditanam akan menghasilkan oksigen sepanjang hidupnya.
Artinya, manfaatnya tidak berhenti hari ini.
Bisa puluhan tahun.
Bahkan puluhan generasi.
“Mulai dari membeli, menanam, sampai memelihara pohon itu, insyaallah ada nilai ibadahnya,” ucapnya.
Pendekatan spiritual ini sengaja dipilih.
Tri tahu, bicara soal lingkungan sering terdengar teknis dan membosankan.
Tapi ketika dikaitkan dengan nilai sosial dan ibadah, masyarakat lebih mudah tersentuh.
Menanam pohon bukan lagi sekadar kewajiban.
Tapi amal.
Investasi kebaikan.
Dan itu terasa lebih dekat di hati.
Bekasi dan Tantangan Kota Penyangga
Sebagai kota penyangga Jakarta, Bekasi menghadapi tekanan besar.
Penduduk terus bertambah.
Perumahan tumbuh cepat.
Kendaraan makin padat.
Ruang terbuka hijau makin tergerus.
Akibatnya, suhu kota meningkat dan kualitas udara menurun.
Beberapa kawasan bahkan dikenal panas menyengat saat siang hari.
Di sinilah pentingnya gerakan penghijauan.
Pohon bukan sekadar estetika.
Ia menyerap karbon, menghasilkan oksigen, meredam kebisingan, hingga menurunkan suhu.
Satu pohon dewasa bisa menyerap puluhan kilogram karbon dioksida per tahun.
Bayangkan jika ribuan pohon ditanam.
Dampaknya bisa signifikan.
Bukan cuma untuk hari ini, tapi dekade mendatang.
Kolaborasi Jadi Kunci
Pemkot Bekasi juga tidak bergerak sendirian.
Kegiatan penanaman pohon melibatkan berbagai pihak.
Mulai dari perusahaan, komunitas, hingga pekerja di kawasan industri.
Konsepnya sederhana: gotong royong.
Semua ikut menanam.
Semua ikut merawat.
Tri percaya, keberlanjutan program lingkungan tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah.
Harus jadi gerakan bersama.
“Kalau semua elemen terlibat, dampaknya jauh lebih besar,” katanya.
Respons Warga Positif
Beberapa warga yang ditemui di sekitar lokasi menyambut baik program tersebut.
Mereka berharap kegiatan seperti ini rutin dilakukan, bukan hanya seremonial.
“Kalau makin banyak pohon, enak juga buat jalan kaki atau olahraga. Bekasi kan panas banget,” kata Rina, warga setempat.
Komentar serupa banyak terdengar.
Warga mulai merasakan pentingnya ruang hijau.
Bukan cuma untuk pemandangan, tapi kualitas hidup.
Menuju Kota Sehat dan Berkelanjutan
Tri menegaskan, gerakan menanam pohon akan terus berlanjut.
Bukan berhenti di Bulan K3 saja.
Ia ingin Bekasi pelan-pelan bertransformasi menjadi kota yang lebih ramah lingkungan.
Lebih sehat.
Lebih layak huni.
Targetnya jelas: pembangunan tidak boleh merusak alam.
Kemajuan harus sejalan dengan keberlanjutan.
“Kalau kotanya sehat, warganya pasti sejahtera,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tapi mungkin di situlah inti dari semuanya.
Bahwa masa depan kota bukan cuma soal gedung tinggi atau jalan lebar.
Melainkan udara bersih yang bisa dihirup anak-anaknya.
Dan mungkin, dari satu pohon kecil yang ditanam hari ini, Bekasi sedang menanam masa depan yang lebih baik.
Baca Juga
Komentar