Archi Indonesia Gandeng Ormat Bentuk Usaha Patungan Geothermal, Targetkan PLTP 40 Megawatt
Jakarta — qPT Archi Indonesia Tbk (ARCI), salah satu perusahaan tambang emas terbesar di Indonesia, resmi memperluas portofolio bisnisnya ke sektor energi terbarukan. Perseroan menggandeng perusahaan asal Amerika Serikat, PT Ormat Geothermal Indonesia (Ormat), untuk membentuk usaha patungan bernama PT Toka Tindung Geothermal (TTG).
Langkah strategis ini diumumkan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (13/11/2025). Dalam keterangan resminya, Corporate Secretary Archi Indonesia, Hidayat Dwiputro Sulaksono, menyebut pembentukan perusahaan patungan ini menjadi bagian dari upaya diversifikasi usaha di sektor panas bumi.
Menurut Hidayat, pendirian TTG ditujukan untuk mengembangkan proyek-proyek geothermal di dalam area konsesi pertambangan yang dimiliki anak usaha Archi, yaitu PT Meares Soputan Mining dan PT Tambang Tondano Nusajaya, yang berlokasi di Sulawesi Utara.
“Tujuan pembentukan perusahaan patungan ini adalah untuk mengembangkan program eksplorasi dan pengoperasian fasilitas panas bumi, mulai dari pengeboran hingga produksi listrik,” ujar Hidayat dalam keterangannya.
Ia menambahkan, kerja sama dengan Ormat diharapkan dapat mempercepat proses pengembangan proyek karena perusahaan asal Amerika Serikat itu telah berpengalaman luas dalam bidang teknologi dan pengoperasian pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).
“Kolaborasi ini akan memberikan dampak positif bagi keberlangsungan bisnis perseroan dan anak usaha. Selain itu, proyek ini berpotensi menjadi sumber pendapatan baru di luar bisnis emas,” katanya.
Archi Indonesia diketahui memiliki porsi kepemilikan sebesar 5 persen, sementara Ormat menguasai 95 persen saham dalam PT Toka Tindung Geothermal. Meski porsi Archi terbilang kecil, perusahaan memastikan keterlibatan strategis dalam pengawasan dan arah pengembangan proyek.
Hidayat menuturkan bahwa TTG telah memperoleh izin panas bumi pada 13 Juni 2025, dan kini tengah menyiapkan tahap awal pengembangan lapangan serta studi kelayakan untuk proyek PLTP dengan kapasitas sekitar 40 megawatt (MW).
“Target kami adalah memastikan proyek ini bisa memasuki tahap konstruksi secepat mungkin setelah semua izin teknis dan lingkungan terpenuhi,” ujar Hidayat.
Proyek panas bumi ini diharapkan tidak hanya memperkuat portofolio energi hijau Archi, tetapi juga berkontribusi terhadap agenda transisi energi nasional yang menargetkan bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen pada tahun 2025.
Ormat sendiri merupakan salah satu pemain global di sektor geothermal dengan pengalaman lebih dari lima dekade dalam membangun dan mengoperasikan pembangkit di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Kenya, dan Filipina.
Melalui sinergi ini, Archi berupaya memanfaatkan potensi sumber daya panas bumi di sekitar area tambang emasnya untuk menghasilkan listrik yang bersih dan berkelanjutan. Model ini sekaligus memperkuat konsep “green mining” yang tengah didorong perusahaan tambang besar di dunia.
Dari sisi pendanaan, proyek ini akan dibiayai secara bertahap dengan skema investasi langsung dari kedua pihak, disesuaikan dengan progres studi dan konstruksi. Pembiayaan juga akan melibatkan pihak ketiga, termasuk lembaga keuangan yang mendukung proyek energi hijau.
Selain memberi nilai tambah ekonomi, proyek geothermal ini diharapkan dapat memberikan manfaat sosial bagi masyarakat sekitar melalui penyediaan lapangan kerja, peningkatan infrastruktur, serta pengembangan kapasitas lokal di bidang energi.
Dengan masuknya Archi ke sektor panas bumi, perusahaan menegaskan komitmennya untuk menjadi pemain tambang yang berorientasi masa depan—tidak hanya fokus pada eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan energi nasional.
Baca Juga
Komentar