Wawali Harris Bobihoe Pimpin Apel Dan Lepas Paskibraka Ke Tingkat Nasional dan Provinsi
Pena Insight
Bekasi, 14 Juli 2025 – Kota Bekasi Kirim Wakil ke Istana Negara, Panggung Apresiasi Generasi Muda Diwarnai Sorotan atas Konsistensi Pembinaan Talenta.Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe memimpin apel pagi yang diselenggarakan di Plaza Pemkot Bekasi, Senin (14/7), dalam suasana penuh semangat nasionalisme. Tak sekadar apel rutin, kegiatan ini menjadi simbol prestise daerah dengan pelepasan anggota Paskibraka Kota Bekasi ke tingkat nasional dan provinsi, disertai penyerahan penghargaan bagi atlet-atlet berprestasi di tingkat regional.
Kyla Princessa, terpilih mewakili Kota Bekasi di Istana Negara sebagai anggota Paskibraka tingkat nasional, sementara Raffa Pinandito Ardi dipercaya bertugas di tingkat Provinsi Riau. Keduanya disebut sebagai representasi terbaik hasil seleksi ketat dan pembinaan selama berbulan-bulan oleh tim PPI dan dinas terkait.

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota menegaskan bahwa keterlibatan generasi muda dalam kegiatan seperti Paskibraka bukan hanya tentang seremoni tahunan, tetapi merupakan momentum pembangunan karakter. “Ini kebanggaan, tapi sekaligus amanah untuk terus mendorong SDM muda kita agar berdaya saing dan punya semangat kebangsaan,” tegas Harris.
Namun di balik kemegahan acara dan sorotan kamera, muncul pertanyaan mendalam: sejauh mana kebijakan Pemkot benar-benar mendukung pembinaan jangka panjang bagi generasi muda? Apresiasi simbolik tentu penting, tetapi konsistensi program, anggaran, dan pendampingan pasca-ajang juga tak kalah vital.
Penyerahan piala Festival Permainan Rakyat tingkat provinsi dan medali Kejuaraan Panahan Caruban Nagari Open Turnamen 2025 memperkuat citra bahwa potensi atlet muda Kota Bekasi tak bisa diremehkan. Tapi realitas di lapangan sering berbeda—minimnya fasilitas olahraga dan ketimpangan pembinaan antarwilayah menjadi pekerjaan rumah tersendiri.
Dalam konteks ini, apel di Plaza Pemkot patut dilihat sebagai refleksi ganda: capaian yang patut dirayakan sekaligus peringatan bagi Pemda agar tidak menjadikan ajang nasional semata sebagai “etalase politik” prestasi instan tanpa kesinambungan pembinaan.
Harris Bobihoe juga menyampaikan harapannya agar pengalaman sebagai Paskibraka menjadi bekal inspiratif. Namun bagi para pemuda, tantangannya justru datang setelah seremoni: bagaimana mempertahankan semangat dan kontribusi di tengah minimnya ruang aktualisasi di daerahnya sendiri.
ASN dan pejabat eselon yang hadir dalam apel pun menjadi bagian dari tanggung jawab kolektif. Apresiasi harus diikuti dengan program turunan yang konkret—dari pelatihan berjenjang hingga beasiswa dan jaringan karier—agar energi nasionalisme tidak berhenti di lapangan upacara.
Bekasi tidak kekurangan bakat, tetapi yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang mampu menerjemahkan semangat simbolik menjadi ekosistem pembinaan. Tanpa itu, Paskibraka hanya akan menjadi seremoni elitis yang terlepas dari denyut kehidupan generasi muda sehari-hari.
Baca Juga
Komentar