Tommy Soeharto Borong HITS Jelang Delisting, Kuasai Penuh Jalur Logistik Laut Nasional
Pena Insight
JAKARTA, 9 Juli 2025 — Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto kembali menggemparkan lantai bursa. Lewat skema tender offer sukarela, putra bungsu Presiden RI ke-2 itu memperketat kendalinya atas PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk. (HITS), hanya beberapa pekan sebelum emiten tersebut resmi didepak dari papan perdagangan Bursa Efek Indonesia.
Berdasarkan dokumen resmi, aksi pengambilalihan ini dilakukan melalui entitas milik Tommy, PT Joyo Agung Permata (JAP), yang saat ini memegang 62,86% saham HITS. JAP menawarkan untuk membeli sisa saham publik sebanyak 865,32 juta lembar atau 37,14% kepemilikan dengan harga Rp260 per saham, nilai yang lebih tinggi dari harga pasar terakhir HITS di Rp250.
Total nilai tender offer ini diperkirakan mencapai Rp224,98 miliar, sebuah manuver yang dianggap sebagai bagian dari konsolidasi vertikal logistik laut dan energi milik keluarga Cendana. HITS diketahui memiliki armada kapal tanker dan transportasi LNG yang strategis dalam rantai distribusi migas nasional, yang sejalan dengan kepentingan bisnis Humpuss Group.
Langkah ini menandai ambisi Tommy untuk mengonsolidasikan aset-aset strategis di luar pengawasan publik. Setelah delisting, HITS akan menjadi perusahaan tertutup yang tak lagi wajib melaporkan kinerja keuangan secara publik, memberi keleluasaan penuh bagi pengendali untuk melakukan restrukturisasi atau integrasi bisnis.
Namun, analis memandang aksi ini sebagai sinyal berbahaya bagi transparansi pasar. “Ketika pemegang saham mayoritas bisa seenaknya menarik emiten dari pasar tanpa valuasi premium yang wajar, ini menciptakan preseden buruk dan merugikan investor minoritas,” ujar seorang analis senior dari sekuritas lokal.
Sebaliknya, kubu Tommy menyebut tender offer ini sebagai langkah wajar demi efisiensi dan kesinambungan bisnis, terutama karena minimnya likuiditas saham HITS yang membuatnya tidak lagi ideal sebagai perusahaan terbuka. Rata-rata volume transaksi harian HITS hanya berkisar 200–300 ribu lembar sejak awal 2024, jauh dari batas ideal bursa.
HITS akan secara resmi delisting setelah menyelesaikan seluruh proses tender pada pertengahan Agustus 2025. Setelah itu, otoritas Bursa akan mencabut status tercatat emiten secara permanen. Investor publik yang tidak menjual saham pada periode tender berisiko memiliki saham tanpa pasar, kecuali JAP bersedia membelinya di luar bursa.
Aksi ini bukan pertama kali terjadi. Selama dua tahun terakhir, gelombang delisting sukarela oleh pemilik mayoritas marak terjadi di BEI, terutama dari emiten logistik, energi, dan manufaktur. Isu utamanya adalah transparansi rendah, valuasi pasar yang stagnan, dan keinginan pengendali untuk menjalankan manuver bisnis secara tertutup.
Beberapa pengamat menilai ini sebagai alarm untuk regulator. BEI dan OJK perlu segera meninjau ulang mekanisme perlindungan investor publik dalam proses delisting sukarela, termasuk penerapan harga tender offer yang mencerminkan nilai wajar berdasarkan valuasi independen, bukan sekadar harga rata-rata 90 hari terakhir.
Dengan HITS segera meninggalkan pasar, Tommy Soeharto berhasil memindahkan aset penting logistik laut ke dalam lingkaran kendali penuh keluarga Cendana. Di tengah arah ekonomi nasional yang makin tergantung pada infrastruktur energi dan distribusi maritim, manuver ini bukan sekadar urusan korporasi — tetapi bisa berdampak geopolitik dan ekonomi yang jauh lebih luas.
Baca Juga
Komentar