Tempat Makan Seikhlasnya PKK Kota Bekasi, Dari Solidaritas Warga hingga Kritik atas Ketimpangan Sosial
Bekasi, 20 September 2025 - Pada Jumat (19/9/2025), Ketua TP PKK Kota Bekasi, Wiwiek Hargono Tri Adhianto, bersama Sekretaris TP PKK Kota Bekasi, Wuri Handayani, menggandeng komunitas dan Yayasan BERSINAR dalam sebuah kegiatan sosial yang menyita perhatian publik. Bertempat di kawasan Bulan-Bulan, dekat Stasiun Kota Bekasi, mereka membuka “tempat makan seikhlasnya” bagi masyarakat.
Program ini bukan sekadar bagi-bagi makanan. Lebih jauh, ia menyodorkan kritik halus terhadap kondisi sosial-ekonomi yang masih timpang di tengah geliat pembangunan perkotaan.
Konsep tempat makan seikhlasnya jelas sederhana namun sarat makna. Masyarakat yang singgah bebas menikmati makanan, dan apabila ingin berkontribusi, mereka cukup membayar seikhlasnya. Tak ada harga paten, tak ada sekat kelas sosial.
Sasaran kegiatan ini cukup luas: para pengendara yang kebetulan melintas, para pekerja harian di sekitar kawasan, hingga para jemaah usai Salat Jumat dari masjid terdekat. Semua disambut dengan satu pesan: solidaritas lebih penting daripada nominal rupiah.
Sebanyak 200 porsi makanan disiapkan. Menu yang ditawarkan pun sederhana namun bergizi: capcay, telur, air putih, serta es kopyor. Sebuah simbol bahwa berbagi tidak harus mewah, tetapi harus penuh niat.
Wiwiek menegaskan, konsep ini adalah bentuk kepedulian nyata. Ia berharap kegiatan tersebut tak berhenti di momentum seremonial, melainkan terus berjalan konsisten agar masyarakat merasakan dampak langsung.
“Tempat makan seikhlasnya ini adalah wujud kepedulian. Konsepnya mengajarkan bahwa berbagi tidak mengenal batas penghasilan. Semua bisa berpartisipasi dengan ikhlas, dari yang berlebih hingga yang sederhana,” ujar Wiwiek.
Namun di balik semangat kegiatan ini, publik tak bisa menutup mata terhadap ironi yang lebih besar. Kota Bekasi dengan anggaran belanja daerah triliunan rupiah ternyata masih menyisakan ruang di mana warganya kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Kegiatan berbagi makanan seikhlasnya menjadi alarm: ada masalah ketahanan pangan dan kesejahteraan yang belum tuntas. Bila pemerintah mampu mengalokasikan dana untuk proyek-proyek besar, mengapa urusan dasar seperti akses pangan sehat masih mengandalkan solidaritas komunitas?
Yayasan BERSINAR dan komunitas yang terlibat jelas memainkan peran penting. Namun, keberlanjutan program ini tak bisa sepenuhnya ditumpukan pada swadaya masyarakat. Ada tanggung jawab struktural yang seharusnya diemban pemerintah daerah maupun pusat.

Kegiatan ini juga menyentil sisi lain pembangunan perkotaan. Di tengah menjulangnya gedung-gedung komersial dan infrastruktur baru, masih ada kelompok warga yang lebih menghargai semangkuk capcay gratis ketimbang janji-janji besar pembangunan.
Tak heran jika kegiatan ini mendapat apresiasi luas, sekaligus kritik terhadap sistem. Di satu sisi, masyarakat melihat wajah humanis Pemkot Bekasi. Di sisi lain, mereka juga melihat bagaimana kesenjangan nyata mendorong lahirnya inisiatif berbasis solidaritas.
Program makan seikhlasnya bisa menjadi model inovatif sosial. Jika dikembangkan dengan dukungan pemerintah, konsep ini dapat diperluas ke berbagai titik keramaian di Bekasi: terminal, stasiun, pasar tradisional, bahkan sekolah-sekolah.
Namun bila berhenti hanya sebagai seremonial PKK, maka ia hanya akan tercatat sebagai agenda musiman. Padahal semangat berbagi ini bisa menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan sosial di perkotaan.
Wiwiek sendiri menekankan bahwa aksi berbagi ini bukan sekadar tentang pangan, melainkan pendidikan moral. Warga diajak belajar bahwa berbagi bukan monopoli mereka yang berlimpah. Justru keberanian untuk berbagi dari sedikit yang dimiliki adalah cermin solidaritas sejati.
Bagi Pemkot Bekasi, kegiatan ini juga dapat menjadi cermin. Apakah kota ini hanya berfokus pada pembangunan fisik, atau mampu mengedepankan pembangunan manusia yang lebih substansial?
Sebagai kota penyangga ibu kota, Bekasi menghadapi tantangan besar: padat penduduk, urbanisasi tinggi, dan kesenjangan sosial-ekonomi yang semakin kentara. Program-program sosial berbasis komunitas bisa menjadi katalis untuk menjembatani jurang tersebut.
Di tengah isu besar nasional seperti stunting, inflasi pangan, hingga kemiskinan struktural, gerakan kecil seperti ini justru menghadirkan relevansi nyata. Ia membuktikan bahwa problem bangsa bisa diurai lewat aksi sederhana namun konsisten.
Akhirnya, kegiatan tempat makan seikhlasnya ini bukan sekadar aksi karitatif. Ia adalah simbol kritik terhadap ketidakadilan sosial sekaligus seruan agar pemerintah tak melupakan hal paling mendasar: memastikan setiap warga negara bisa makan dengan layak.
Baca Juga
Komentar