Tak Punya Buku dan Pulpen Rp10 Ribu, Bocah SD di Ngada Meninggal Dunia, Tamparan Keras Dunia Pendidikan Kita
Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur — Sebuah kabar duka datang dari pelosok timur Indonesia. Seorang bocah sekolah dasar berusia 10 tahun berinisial YBS ditemukan meninggal dunia, diduga setelah mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku pelajaran dan pulpen dengan nilai kurang dari Rp10 ribu. Peristiwa memilukan ini mengguncang warga sekitar sekaligus memantik kemarahan publik terhadap mahalnya biaya pendidikan yang seharusnya menjadi jalan keluar dari kemiskinan.
Di mata banyak orang, angka Rp10 ribu mungkin tak berarti. Namun bagi YBS dan keluarganya, jumlah itu adalah beban yang terasa mustahil dipenuhi.
YBS tinggal bersama neneknya. Ibunya, MGT, seorang orang tua tunggal, bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima anak. Penghasilan yang tak menentu membuat kebutuhan sehari-hari saja kerap tak tercukupi, apalagi biaya sekolah yang datang silih berganti.
Menurut keterangan warga, YBS dikenal pendiam namun rajin. Ia tetap berangkat sekolah meski perlengkapannya serba terbatas. Namun belakangan, ia disebut gelisah karena belum bisa membeli buku pelajaran dan alat tulis yang diminta guru.
Tragedi itu mencapai puncaknya ketika YBS meninggalkan sepucuk pesan untuk ibunya.
“Ma, saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya, Ma. Tidak perlu mencari saya. Selamat tinggal, Mama.”
Kalimat sederhana itu kini menjadi luka yang tak akan sembuh bagi keluarganya.
Tamparan bagi Dunia Pendidikan
Kasus ini langsung menuai perhatian berbagai pihak. Aktivis perempuan Ida N Kusdianti menilai peristiwa tersebut bukan sekadar tragedi keluarga, melainkan bukti nyata kegagalan sistem pendidikan nasional.
“Ini bukan semata persoalan kemiskinan satu rumah tangga. Ini kegagalan negara menghadirkan pendidikan yang ramah bagi anak-anak miskin,” kata Ida saat dihubungi, Rabu (5/2).
Menurutnya, pendidikan seharusnya menjadi alat pembebasan sosial, bukan justru menciptakan tekanan baru.
“Pendidikan mestinya mencerdaskan, membuka akses mobilitas sosial, membangun martabat manusia. Yang terjadi sekarang, justru sebaliknya. Sekolah makin mahal, makin rumit, dan terasa seperti bisnis,” tegasnya.
Ia menyoroti kebijakan pergantian buku paket hampir setiap tahun dengan alasan pembaruan kurikulum. Kebijakan ini dinilai membebani orang tua karena buku tak lagi bisa diwariskan dari kakak ke adik seperti dulu.
“Dulu buku bisa dipakai turun-temurun. Sekarang tiap tahun ganti. Orang tua bisa habis jutaan rupiah per anak, tapi kualitas belajar belum tentu meningkat,” tambahnya.
Biaya Pendidikan Kian Menyesakkan
Di sejumlah daerah, biaya pendidikan memang terus naik. Mulai dari buku, seragam, iuran kegiatan, hingga sumbangan pembangunan sekolah. Bagi keluarga berpenghasilan tetap, beban itu mungkin masih bisa diatur. Namun bagi pekerja harian seperti ibu YBS, setiap rupiah harus diperhitungkan.
Seorang warga Ngada, yang enggan disebut namanya, mengatakan banyak orang tua terpaksa berutang demi memenuhi kebutuhan sekolah anak.
“Kalau tidak beli, anak malu. Takut dimarahi. Jadi orang tua pinjam sana-sini,” ujarnya.
Di sisi lain, guru juga tak lepas dari tekanan. Mereka harus mengikuti administrasi yang berlapis, perubahan kurikulum yang kerap terjadi, serta target formal yang menyita waktu. Ruang untuk benar-benar mendidik anak justru semakin sempit.
“Guru dipaksa tunduk pada sistem, bukan fokus memahami kebutuhan murid,” kata Ida.
Kesenjangan di Lingkungan Sekolah
Masalah tak berhenti pada biaya. Kesenjangan ekonomi juga menciptakan jarak sosial di lingkungan pendidikan. Anak dari keluarga mampu datang dengan perlengkapan lengkap dan fasilitas tambahan, sementara siswa dari keluarga miskin sering merasa tertinggal.
Tak jarang kondisi ini memicu perundungan.
Secara tidak langsung, anak-anak belajar bahwa nilai diri diukur dari kekayaan orang tua. Empati dan solidaritas perlahan memudar.
“Sekolah seharusnya tempat semua anak merasa setara, bukan arena kompetisi finansial,” ujar Ida.
Negara Diminta Hadir
Bagi para pemerhati pendidikan, tragedi YBS seharusnya menjadi peringatan keras. Negara dinilai tak boleh lagi bersikap pasif.
Solusi yang ditawarkan sebenarnya sederhana: pengadaan buku bersama, sistem perpustakaan kelas, modul tambahan alih-alih ganti total buku, hingga pemanfaatan materi digital murah.
“Kenapa selalu pilih jalan termahal untuk rakyat kecil?” kata Ida.
Ia menegaskan pendidikan bukan proyek tahunan, bukan ladang bisnis, dan bukan hak eksklusif segelintir kalangan.
“Kalau pendidikan tunduk pada logika pasar, yang dikorbankan adalah masa depan bangsa,” ujarnya.
Duka yang Tersisa
Kini, rumah sederhana keluarga YBS dipenuhi suasana duka. Tangis ibunya pecah setiap kali mengingat pesan terakhir sang anak. Warga datang silih berganti memberi dukungan, namun kehilangan itu tak tergantikan.
Bagi sebagian orang, kisah ini mungkin hanya sepintas berita. Namun bagi keluarga YBS, itu adalah kenyataan pahit yang akan mereka bawa seumur hidup.
Tragedi ini mengajukan satu pertanyaan sederhana namun menyakitkan: jika untuk membeli buku dan pulpen saja seorang anak merasa tak punya harapan, di mana letak janji negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa?
Jawabannya kini ditunggu, sebelum ada YBS lain yang merasa sendirian menghadapi beban sekolah.
Baca Juga
Komentar