Sampoerna Laba Merosot Karena Beban Pajak, Kinerja Layu
Pena Insight
Jakarta, 12 Agustus 2025 — PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) mencatat penurunan laba bersih hingga 35,82% year-on-year (YoY) menjadi Rp 2,12 triliun pada semester I-2025.
Penurunan tajam ini disebabkan oleh anjloknya penjualan bersih hingga 4,56% YoY menjadi Rp 55,17 triliun, dari posisi Rp 57,81 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perusahaan menyebut bahwa beban pajak satu kali pencatatan beban fiskal sebelumnya menjadi pemicu utama merosotnya laba, menurut regulasi PSAK. Tanpa beban ini, kinerja laba relatif sebanding dengan tahun lalu.
Meski laba melemah, HMSP mampu mempertahankan pangsa pasar sebesar 31%, naik 0,8 poin dibandingkan semester I-2024. Ini menunjukkan kekuatan portofolio merek yang dimiliki perusahaan.
Volume penjualan turun 1,5% menjadi 39,3 miliar batang, yang diakibatkan oleh tren downtrading di mana konsumen beralih dari produk premium ke produk yang lebih terjangkau.
Secara operasional, penurunan laba bersih tidak mencerminkan melemahnya fundamental bisnis, melainkan dampak akuntansi dari pencatatan beban pajak historis. HMSP tetap memimpin pasar industri hasil tembakau (IHT) nasional.
Para analis melihat bahwa dukungan kebijakan pemerintah terutama keputusan tidak menaikkan tarif cukai rokok pada 2025—telah membantu menjaga iklim usaha yang kondusif bagi HMSP.
Sebagai langkah antisipasi, HMSP diharapkan terus mengandalkan produk smoke-free (heated tobacco units), meski saat ini kontribusinya masih rendah, di kisaran 2–3 % dari total pendapatan.
Ke depan, investor dianjurkan memantau pemulihan harga saham HMSP, yang secara teknikal menunjukkan potensi rebound. Rekomendasi “trading buy” disampaikan dengan target harga di kisaran Rp 555–Rp 580 per saham.
Secara keseluruhan, meski laba merosot karena beban historis, HMSP tetap menunjukkan ketahanan pasar, strategi merek yang solid, dan prospek sebagai pemain utama dalam industri rokok Indonesia.
Baca Juga
Komentar