Saham BEKS Naik Tipis, Publik Bertanya: Bank Banten Benar Bangkit atau Sekadar Drama Lama
Jakarta, Rabu 17 September 2025 - Pasar modal kembali dikagetkan dengan fenomena saham PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS). Setelah Bertahun - tahun terpuruk sebagai “saham Busuk”, harga BEKS mendadak bergerak dari Rp27 ke Rp34 per saham. Meski masih di bawah level gocap, lonjakan ini langsung memicu spekulasi panas di kalangan investor.
Pertanyaannya: apakah ini sinyal kebangkitan nyata, atau sekadar drama lama yang kembali dimainkan sehingga Investor ritel yang sudah lama nyangkut di saham ini justru menaruh curiga.
Bank Banten dikenal dengan segudang masalah. sering kali rights issue gagal mendongkrak kinerja, modal seret, tata kelola buruk, hingga reputasi yang hancur di mata publik. Namun tiba-tiba sahamnya menggeliat setelah Menteri Keuangan baru mengumumkan strategi menyalurkan dana ke bank-bank pemerintah anggota Himbara (Himpunan Bank Milik Negara, yakni Mandiri, BRI, BNI, dan BTN).
Kebijakan ini memang dimaksudkan untuk memperkuat ketahanan keuangan nasional. Tetapi, efek psikologisnya ternyata merembet hingga ke saham Bank Banten yang notabene bukan anggota Himbara, melainkan hanya bank daerah bermasalah.
Kenaikan BEKS justru menimbulkan tanda tanya besar. Apakah ini benar karena stimulus pemerintah pusat, atau hanya permainan spekulan yang memanfaatkan sentimen kebijakan.
Banyak analis menilai, Pemkot Banten sebagai pemilik Bank Banten tidak pernah serius memperbaiki kondisi bank ini. Bahkan, publik menuding Pemkot menutup mata ketika BEKS terpuruk bertahun-tahun tanpa arah.
“Berkali - kali rights issue sudah jadi bukti kegagalan. Modal disuntik, tapi bank tidak berbenah. Investor ritel hanya jadi korban,” ujar seorang pengamat pasar modal.
Kritik semakin tajam karena Bank Banten sering dianggap sebagai simbol buruknya pengelolaan BUMD perbankan. Transparansi minim, strategi bisnis kabur, dan kinerja manajemen tak kunjung membaik..
Investor kini terjebak dalam dilema. Apakah akan bertahan dengan harapan ada perbaikan nyata, atau segera keluar sebelum drama lama kembali memakan korban.
Kenaikan tipis dari Rp27 ke Rp34 bukanlah prestasi, melainkan alarm bahaya. Karena tanpa perbaikan fundamental, lonjakan harga bisa runtuh kapan saja.
Sejumlah ekonom menyebut BEKS hanyalah “ilusi perbankan” yang kembali dimainkan di lantai bursa. Jika tidak ada restrukturisasi total, Bank Banten akan terus menjadi masalah bagi pasar dan keuangan daerah.
Investor Menilai Pemprov Banten gagal mengawasi dan membiarkan Bank Banten menjadi beban investor ritel maupun masyarakat.
“Selama ini BEKS cuma jadi lahan drama. Investor masuk, uang habis, bank tetap sakit. Ini bukan kebangkitan, ini jebakan,” tambah seorang analis senior.
Fenomena ini menegaskan betapa rapuhnya kepercayaan publik pada BEKS. Sentimen kebijakan Menkeu baru hanyalah katalis sementara. Tanpa reformasi struktural, Bank Banten hanya akan kembali ke titik nol.
Kini, publik menunggu bukti: apakah Pemkot Banten berani melakukan transformasi serius, atau hanya menonton investor kembali menjadi korban permainan saham busuk.
Satu hal jelas: kebangkitan BEKS dari Rp27 ke Rp34 bukan tanda sehat, melainkan sinyal bahwa drama lama sedang diulang dengan skenario baru
Baca Juga
Komentar