Saham BEKS dan Deretan Emiten Gocap Alarm Serius untuk BEI dan OJK , Menkeu Harus Tau
Jakarta, 18 September 2025 — Pasar modal Indonesia kembali disuguhi drama lama yang tak kunjung berakhir. Saham PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) mendadak bergerak dari Rp27 ke Rp34 per saham. Meski masih jauh dari level psikologis Rp50 (gocap), lonjakan tipis ini langsung memicu spekulasi. Investor ritel bertanya-tanya: apakah ini tanda kebangkitan, atau justru jebakan lama yang kembali dimainkan?
Bank Banten sudah lama dicap sebagai “saham busuk”. Rights issue berulang kali gagal, modal seret, tata kelola buruk, hingga reputasi yang terus tercoreng. Meski begitu, harga sahamnya menggeliat setelah Menteri Keuangan baru mengumumkan strategi penguatan perbankan melalui penempatan dana di bank-bank Himbara (Mandiri, BRI, BNI, BTN). Ironisnya, BEKS bukan bagian dari Himbara, melainkan hanya bank daerah bermasalah.
Kenaikan harga yang minim justru menimbulkan tanda tanya besar. Bukan soal fundamental, melainkan permainan sentimen yang sarat spekulasi. Investor ritel yang sudah lama “nyangkut” di saham ini semakin curiga bahwa kebangkitan BEKS hanyalah fatamorgana.
Sebagai pemilik mayoritas, Pemprov Banten dituding gagal mengawasi. Berulang kali modal disuntik lewat rights issue, tapi perbaikan tak kunjung datang.
“Berkali-kali rights issue hanya jadi bukti kegagalan. Investor masuk, uang habis, bank tetap sakit,” ujar seorang analis pasar modal.
Fenomena ini menegaskan kelemahan mendasar: tanpa reformasi struktural, Bank Banten hanya akan menjadi ladang drama dan kuburan investor.
BEKS bukan satu-satunya. Data BEI menunjukkan ada 15 saham yang masih berada di bawah Rp50 per saham. Bahkan lima di antaranya sudah lama terdampar di bawah Rp10, seperti:
-
HADE (Himalaya Energi Perkasa) – Rp6
-
MKNT (Mitra Komunikasi Nusantara) – Rp6
-
PADI (Minna Padi Investama Sekuritas) – Rp7
-
MDRN (Modern Internasional) – Rp7
-
MIRA (Mitra International Resources) – Rp9
HADE bahkan sempat menyentuh Rp5 per saham, menjadikannya yang terendah. Saham-saham tersebut bukan hanya murah, tetapi juga sarat masalah: ekuitas negatif, likuiditas rendah, hingga laporan keuangan bermasalah.
Mayoritas saham gocap tersebut kini ditandai notasi khusus oleh BEI. Kriteria utamanya jelas: harga rata-rata di bawah Rp51, ekuitas negatif, serta likuiditas minim. Bahkan ada yang menyandang tiga notasi sekaligus, seperti MDRN.
Tak hanya itu, saham GAMA (Aksara Global Development) masih disuspensi sejak Juni 2023 karena gagal menyampaikan laporan keuangan. Suspensi ini memperlihatkan lemahnya komitmen emiten dan buruknya pengawasan.
Fenomena BEKS dan deretan saham gocap ini seharusnya menjadi alarm keras bagi BEI dan OJK. Pasar modal tak bisa terus dibiarkan jadi panggung drama di mana investor ritel selalu jadi korban.
Sistem notasi khusus memang ada, tapi faktanya tak cukup. Tanpa sanksi tegas, transparansi penuh, dan reformasi tata kelola, saham-saham busuk akan terus menghantui pasar.
Bagi investor ritel, saham murah sering tampak menggiurkan. Namun realitanya, harga recehan ini jarang menyimpan peluang emas. Yang ada hanyalah jebakan lama: harga digoreng sesaat, lalu kembali terjerembab.
“Ini bukan kebangkitan, tapi alarm bahaya. Investor harus hati-hati, jangan terjebak skenario lama,” tegas seorang analis senior.
Kenaikan BEKS dari Rp27 ke Rp34 bukan prestasi, melainkan sinyal permainan lama yang diulang dengan narasi baru. Sementara itu, saham gocap lain adalah bukti nyata buruknya tata kelola emiten di Indonesia.
BEI dan OJK tidak bisa hanya menonton. Saatnya regulator bertindak lebih keras: menegakkan aturan, membersihkan emiten bermasalah, dan memastikan pasar modal kembali jadi instrumen pembangunan, bukan jebakan investor.
Jika tidak, drama saham busuk akan terus berulang, dan pasar modal Indonesia hanya akan dikenal sebagai arena spekulasi, bukan investasi.
Baca Juga
Komentar