Saham Asia Diperkirakan Menguat, Sentimen Positif Datang dari Kesepakatan Amazon OpenAI
Jakarta – Bursa saham Asia diproyeksikan bergerak naik pada perdagangan Selasa (4/11), mengikuti penguatan bursa Wall Street. Sentimen positif datang dari kesepakatan besar antara Amazon.com Inc dan OpenAI senilai US$38 miliar, yang kembali memicu antusiasme terhadap saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI).
Kontrak berjangka indeks saham di Jepang dan Korea Selatan menunjukkan potensi penguatan. Para pelaku pasar di Jepang baru kembali beraktivitas setelah libur panjang, sementara indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 di Amerika Serikat ditutup menguat, dipimpin saham-saham teknologi besar yang kembali mendorong indeks “Magnificent Seven” naik 1,2 %.
Kenaikan juga tercermin pada Nasdaq Golden Dragon China Index yang berisi saham-saham Tiongkok yang tercatat di AS. Sementara itu, imbal hasil obligasi (Treasury yields) naik dan dolar AS melanjutkan penguatan terhadap sejumlah mata uang utama.
Saham Amazon mencatat lonjakan sekitar 4 % setelah kabar bahwa OpenAI akan membayar raksasa e-commerce tersebut untuk mendapatkan akses ke ratusan ribu GPU Nvidia Corp guna memperluas kapasitas komputasi AI-nya.
Di sisi lain, Microsoft Corp meneken kesepakatan senilai sekitar US$9,7 miliar untuk membeli kapasitas komputasi dari IREN Ltd, sedangkan Alphabet Inc dikabarkan berencana menerbitkan obligasi baru guna memperbesar investasi di sektor AI.
Serangkaian langkah besar ini menjadi katalis baru bagi reli saham global yang telah digerakkan euforia AI dalam enam bulan terakhir. Sejak koreksi pasar akibat kebijakan tarif pada April lalu, kapitalisasi pasar global meningkat sekitar US$17 triliun.
Namun, para analis memperingatkan bahwa reli tersebut kini semakin terpusat pada saham-saham teknologi besar, sehingga pasar dinilai perlu kembali mencari keseimbangan.
“Ini hari lain dengan kesepakatan bernilai miliaran dolar yang mengejutkan, dilakukan oleh segelintir perusahaan teknologi papan atas,” ujar Danni Hewson, Kepala Analisis Keuangan di AJ Bell, dikutip dari Bloomberg.
Menurut Hewson, sebagian investor mulai cemas dengan besarnya dana yang digelontorkan untuk proyek-proyek AI. “Tapi di sisi lain, mereka juga mulai menerima kenyataan bahwa kolaborasi antara para pemain besar semakin tidak terhindarkan,” tambahnya.
Para pelaku pasar kini menanti rilis beberapa laporan ekonomi penting pekan ini, serta pernyataan pejabat bank sentral AS (Federal Reserve). Aktivitas manufaktur AS diketahui kembali menyusut pada Oktober, menjadi bulan kedelapan berturut-turut, meski tekanan inflasi tampak mulai mereda.
Deputi Gubernur The Fed, Lisa Cook, mengatakan bahwa risiko pelemahan pasar tenaga kerja saat ini lebih besar dibandingkan risiko kenaikan inflasi. Meski demikian, ia belum memberikan sinyal jelas soal kemungkinan penurunan suku bunga tambahan pada Desember mendatang.
Sementara itu, Gubernur The Fed Chicago, Austan Goolsbee, menilai inflasi masih menjadi ancaman utama, berbeda dengan Gubernur The Fed San Francisco, Mary Daly, yang menyebut bank sentral harus tetap “terbuka terhadap kemungkinan” pemangkasan suku bunga. Deputi Gubernur Stephen Miran menambahkan bahwa kebijakan moneter saat ini masih tergolong ketat.
Secara historis, bulan November merupakan periode paling positif bagi pasar saham global dalam tiga dekade terakhir. Namun, sejumlah analis mempertanyakan apakah reli akhir tahun telah tercermin dalam harga saham, mengingat S&P 500 mencatat salah satu kinerja terbaiknya sejak era 1950-an.
Meski optimisme terhadap sektor AI meningkat, lebih dari 300 saham di indeks S&P 500 justru bergerak melemah pada perdagangan Senin. Hal ini menunjukkan bahwa reli pasar masih terbatas pada sektor tertentu.
“Kekhawatiran atas valuasi tinggi tetap ada, dan arah kebijakan The Fed tampak semakin tidak pasti,” ujar Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS Global Wealth Management. “Namun, meskipun pasar telah menguat signifikan, kami melihat tren positif ini masih memiliki ruang untuk berlanjut.”
Di pasar komoditas, kontrak gandum berjangka di Chicago Board of Trade melonjak setelah China melakukan pemesanan gandum AS untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu tahun.
Pembelian tersebut terjadi setelah transaksi kedelai besar pekan lalu, yang disebut sebagai bagian dari kesepakatan dagang antara kedua negara. Menurut data Departemen Pertanian AS (USDA), pembelian gandum terakhir oleh China tercatat pada awal Oktober tahun lalu.
Langkah China ini dinilai dapat memperbaiki hubungan perdagangan dengan AS sekaligus memberikan dorongan tambahan bagi sektor pertanian Amerika yang tengah menghadapi tekanan akibat penguatan dolar dan turunnya permintaan global.
Dengan kombinasi sentimen positif dari sektor teknologi dan optimisme baru di pasar komoditas, bursa Asia diperkirakan mengawali perdagangan Selasa dengan nada menguat. Investor kini menanti arah kebijakan moneter The Fed serta perkembangan selanjutnya dari kemitraan besar di industri AI yang kian mendominasi pasar global.
Baca Juga
Komentar